Tahun Baru Imlek Hari Raya Penuh Warna

Berbeda dengan Penanggalan Hijriyah yang didasarkan pada perputaran bulan terhadap matahari, atau Penanggalan Masehi yang mengacu pada perputaran bumi terhadap matahari, Penanggalan Imlek dihitung berdasarkan perputaran bumi terhadap bulan, dengan titik awal adalah kelahiran Kong Hu Cu, yang dikenal banyak orang sebagai seorang filosof, dan menjadi nabi bagi para penganut ajarannya, pada 551 tahun sebelum Masehi. Berdasarkan perhitungan tahun tersebut maka dapat kita pahami bahwa China sebagai sebuah entitas budaya dan peradaban lebih tua terbentuknya dibanding dengan Islam ( Arab ) maupun Barat ( Kristen ). Karena itu wajar jika Rasulullah Muhammad SAW memerintahkan ummatnya untuk “ menuntut ilmu walau ke negeri China”, yang cukup jauh dari Jazirah Arab tempat hidup Rasulullah.

Pada tahun ini Penanggalan Imlek akan memasuki tahun ke 2562, dengan shio kelinci yang melambangkan umur panjang, perdamaian dan persahabatan. Berbagai ramalan berdasarkan shio itu mengedepankan harapan – harapan baik, seperti kesehatan, kelancaran usaha, kemudahan rejeki, dan kehidupan kemasyarakatan yang lebih baik. Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi seperti global warming yang ditunjukkan dengan terjadinya anomali cuaca, Tingginya inflasi karena meroketnya harga cabai, gagal panen, menghangatnya suhu politik, carut marutnya hukum dan keadilan, dan berbagai persoalan lainnya maka ramalan – ramalan tersebut bisa menjadi penghibur. Karena baik bagi yang percaya maupun tidak, ramalan baik menjadi berita yang menyenangkan.

Terlepas dari ramalan – ramalan di atas, yang pasti bagi warga keturunan Tionghoa di mana pun berada hari – hari ini adalah saat yang menyibukkan sekaligus membahagiakan. Membersihkan rumah, membersihkan tempat ibadah, mengatur lampion, menyiapkan amplop merah untuk berbagi angpao, membuat dodol keranjang, kue ku, dan berbagai kesibukan lainnya untuk menyambut Tahun Baru Imlek sebagai hari raya yang akan segera tiba. Begitu juga masyarakat keturunan Tionghoa di Mataram. Dalam bincang – bincang dengan wartawan Koran Kampung beberapa hari lalu, S.Wijanarko, salah satu tokoh masyarakat keturunan Tionghoa di Mataram mengutarakan hal itu, juga rangkaian kegiatan yang dilaksanakan, dan juga pernak – pernik yang menyertainya.

Sebagai hari raya keagamaan Tahun Baru Imlek adalah momentum untuk memanjatkan syukur kepada Tuhan atas berbagai anugerah yang telah diterima, dan juga saat yang tepat untuk menunjukkan bakti kepada orang tua. Sementara bagi para orang tua menjadi waktu yang penting pula untuk menunjukkan kasih sayang pada anak – anaknya. Pemberian Angpao adalah simbolisasi dari hal – hal di atas. Begitu pula dalam konteks hidup bermasyarakat, hari raya / Tahun Baru Imlek menjadi momentum untuk peningkatan hubungan silaturrahmi dan pemupukan solidaritas. Sehubungan dengan hal tersebut salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan bersama – sama antara lain adalah pemberian santunan kepada para nelayan yang tinggal di beberapa garis pantai Ampenan, yang kebetulan beberapa hari tidak bisa melaut sehingga tidak mendapatkan penghasilan karena cuaca yang tidak bersahabat. Menurut Wijanarko selain karena kesadaran dan kepedulian terhadap sesama, memberikan santunan pada saat Hari Raya Imlek juga merupakan kebiasaan di tanah leluhurnya, karena pada sebagian besar daratan China Tahun Baru Imlek juga identik dengan pergantian dari musim dingin memasuki musim semi, di mana terkadang musim dingin yang dilewati sangat buruk dan menghabiskan banyak sekali persediaan pangan, sehingga memasuki Tahun Baru Imlek justru banyak warga miskin yang semakin kekurangan. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi warga yang mampu untuk mengulurkan bantuannya.

Kebahagiaan lain yang lebih mendasar adalah perubahan kebijakan pemerintah sejak tahun 2000 yang telah menghapus perlakuan diskriminatif bagi para warga keturunan Tionghoa, dengan memberikan hak – haknya untuk tidak lagi menyembunyikan identitas dan jati diri baik pribadi maupun kutural. Sehingga sejak saat itu perayaan Tahun Baru Imlek dapat dilaksanakan dengan lebih terbuka, terlebih setelah Hari Raya Imlek juga ditetapkan menjadi hari libur nasional. Bahkan bisa pula diadakan upacara / resepsi perayaannya dengan dihadiri oleh para pejabat pemerintah serta tokoh agama dan masyarakat lainnya. Untuk perayaan tahun ini resepsi tersebut menurut rencana akan dilaksanakan pada tanggal 12 Pebruari 2011 yang akan datang dan Wijanarko berharap Gubernur dapat menghadirinya.

Sebagai penutup rangkaian perayaan Tahuh Baru Imlek adalah pesta Cap Go Meh yang dilaksanakan pada hari kelima belas saat bulan purnama tiba. Untuk keluarga, handai taulan dan sahabat yang datang akan disuguhkan lontong cap go meh, mie panjang umur, telur merah, kue ku, gula – gula, tebu, wajik, juga buah apel, manggis dan jeruk. Pada beberapa daerah atau kota yang warga keturunan Tionghoanya cukup banyak pesta cap go meh biasa menjadi keramaian warga yang sangat meriah. Di Makasar atau Singkawang misalnya, diadakan festival Cap Go Meh yang melibatkan semua komponen masyarakat.

Pada hari itu juga akan dipanjatkan doa untuk sesama, untuk bangsa dan negara agar dilimpahi kemakmuran, kesejahteraan, persatuan dan dijauhkan dari segala bencana, mara bahaya, juga konflik dan huru – hara.

Harapan yang tentu juga menjadi doa bagi kita semua. Ketika iklim dan cuaca cenderung tidak bersahabat, bencana alam melanda berbagai daerah, konflik politik memanaskan kehidupan bernegara, hukum dan keadilan carut marut menyesakkan jiwa, kita akan masuki Tahun Imlek 2562, tahun bershio kelinci yang menjanjikan panjang umur, persahabatan dan perdamaian. Semoga semua harapan kebaikan itu nyata adanya.

GONG XI FAT CAI, Semoga lebih maju.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *