Petani Tembakau Menanti Dana Bagi Hasil Cukai

Musim tanam tembakau telah tiba. Saat ini para petani tembakau yang ada di
Lombok Timur dan Lombok Tengah menanti kucuran bantuan yang berasal dari dana
bagi hasil cukai atau biasa disebut DBHCT (Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau).
Ketua Umum Perhimpunan Tani Indonesia atau Petani Ahmad Syarif Husain kepada
Koran Kampung pekan kemarin mengatakan hal itu. Menurut Husain, Peraturan
Gubernur yang mengatur tentang pembagian dana itu seharusnya sudah kelar,
sehingga para petani tak perlu menunggu lama.

“Ini yang terjadi kan Pergub yang mengatur soal itu (DBHCT) belum kelar juga.
Para petani menunggu-nunggu,” jelas Husain yang juga Ketua Harian Federasi
Serikat Nelayan Tani dan Buruh (FS-NTB) Indonesia.

Dia menambahkan, tahun lalu, petani tembakau sempat merugi. Sehingga bantuan
kucuran dana yang berasal dari pembagian cukai tembakau itu sangat berguna bagi
petani untuk keperluan tanam. Baik itu untuk membeli bibit, membeli pupuk,
maupuan untuk kebutuhan tanam lainnya.

Dana DBHCT tahun ini yang diberikan kepada petani sebesar Rp 11 miliar. Jumlah
ini cenderung menurut dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp27 miliar.
Jumlah ini hanya sebagian dari jumlah alokasi DBHCT yang didapatkan NTB.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, pembagian DBHCT adalah 30 persen untuk
pemerintah provinsi, 30 persen untuk daerah penghasil, dan 40 persen diberikan
kepada petani tembakau. Tahun lalu, dari 109 miliar dana DBHCT, yang
dialokasikan untuk petani sebesar Rp27 miliar.

Sementara, kata Husain lagi, tahun ini DBHCT meningkat menjadi 139 miliar. Namun
ironisnya, dana DBHCT yang dibagikan kepada petani justru menurun menjadi Rp 11
miliar. Yakni masing-masing Rp 8 miliar untuk Kabupaten Lombook Timur dan Rp 3
Miliar untuk Kabupaten Lombok Tengah.

Tahun ini, jumlah pola penyalurannya DBHCT yang diperuntukkan bagi para petani
tembakau berbeda dari tahun sebelumnya. Bila tahun lalu, bantuan diberikan
kepada setiap petani untuk membiayai konversi bahan bakar omprongan, tahun ini
rencananya akan diberikan melalui kelompok.

Seperti yang diungkap Kepala Bappeda NTB Rosyadi Sayuti beberapa waktu lalu,
DBHCT yang akan disalurkan 2011 ini akan diberikan hanya kepada kelompok petani
tembakau, tidak lagi orang per orang. ‘’Dana ini tidak hanya diperuntukkan untuk
program konversi saja, tapi bisa digunakan untuk keperluan lain petani ketika
menanam tembakau,’’ kata Kepala Bappeda NTB Dr H Rosyadi Sayuti kepada wartawan
mengenai kelanjutan DBHCT ini.

Jumlah dana yang akan diberikan juga berbeda, yakni sekitar Rp 100 juta per
kelompok. Masing-masing kelompok tani diperkirakan beranggotakan minimal 10
orang. Dana ini diharapkan bisa digunakan sebagai modal, sehingga para petani
lepas dari jeratan rentenir saat musim tanam. Penyaluran DBHCT tahun sebelumnya
Rp 5 juta untuk masing-masing petani. Dana ini diarahkan untuk membiayai
konversi dengan membeli tungku batu bara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *