Peringatan 60 Tahun Hubungan Diplomatik Sejak 1959

Kami sangat menyambut kerja sama ekonomi yang komprehensif ini, karena ini berfungsi sebagai momentum untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang saling menguntungkan bagi kedua negara, katanya dalam sebuah pernyataan tertulis yang dirilis pada hari Selasa. Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita dan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Birmingham menandatangani IA-CEPA di hadapan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla. Ekspor Indonesia ke Australia akan meningkat karena Australia telah berkomitmen untuk menghilangkan bea impor hingga 0 persen untuk semua tarif pos.

Di antara komoditas Indonesia yang ekspornya dapat ditingkatkan adalah produk otomotif (khususnya mobil listrik dan hybrid); kayu dan turunannya, termasuk furnitur; tekstil dan produk tekstil; ban; instrumen komunikasi; obat-obatan; dan elektronik. IA CEPA memberikan kualifikasi konten lokal yang lebih mudah untuk mobil listrik dan hibrida Indonesia, sehingga industri otomotif Indonesia dapat mengekspor mobil listrik dan hibrida tanpa harus membangun semua teknologi dan fasilitas produksi dari nol.

Artikel terkait: biaya kampung inggris.

Barang-barang manufaktur yang kami coba untuk memacu ekspor mereka adalah tekstil, pakaian, dan alas kaki. Saat ini, ekspor utama Indonesia ke Australia termasuk furnitur, produk karet, bahan kimia olahan, makanan dan minuman, tekstil, dan elektronik, katanya. Indonesia dan Kamboja tahun ini merayakan peringatan 60 tahun hubungan diplomatik yang dimulai sejak 13 Februari 1959.

Indonesia dan Kamboja memiliki hubungan politik, budaya, dan sejarah yang erat. Namun, kedekatan antara kedua negara masih perlu diperdalam untuk lebih mengintensifkan kerja sama ekonomi yang dapat membawa manfaat lebih besar untuk memastikan kesejahteraan rakyat kedua negara. Oleh karena itu, pada perayaan peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Kamboja, Menteri Luar Negeri Kamboja Prak Sokhonn menyatakan harapan bahwa kedua negara akan terus menjaga hubungan yang baik dan meningkatkan kerja sama bilateral di berbagai bidang, termasuk di bidang ekonomi.

Pemerintah Indonesia dan Kamboja, pada pertemuan antara menteri luar negeri kedua negara pada awal Februari tahun lalu, telah sepakat untuk memperkuat hubungan melalui peningkatan mekanisme bilateral, khususnya yang bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi, terutama dalam investasi, perdagangan, dan sektor pariwisata.

Mengingat enam dekade hubungan bilateral, kerja sama investasi antara Indonesia dan Kamboja belum berkembang pesat, menurut Duta Besar Indonesia untuk Kamboja Sudirman Haseng. Duta Besar Indonesia menyatakan bahwa, sejauh ini, tidak ada perusahaan milik negara (BUMN) atau perusahaan yang berinvestasi langsung di Kamboja. artikel rujukan.

Duta Besar Haseng berpendapat bahwa hambatan utama mencegah pengusaha Indonesia melakukan bisnis di Kamboja adalah persepsi yang tidak proporsional terhadap negara tersebut. Ini sebagian dipengaruhi oleh informasi yang tidak akurat dan ketinggalan jaman. Citra sebagian besar orang Indonesia berkenaan dengan Kamboja adalah bahwa itu masih terbelakang, katanya.

Faktanya, Kamboja, dalam beberapa tahun terakhir, mengalami pertumbuhan ekonomi yang cepat mencapai rata-rata tujuh persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi Indonesia. Klik situs. Oleh karena itu, Haseng telah mendorong pengusaha dan BUMN Indonesia untuk mulai melakukan bisnis dan berinvestasi di Kamboja. Dia juga mengakui bahwa beberapa telah memulai eksplorasi untuk mulai melakukan bisnis di Kamboja.

Memang, investasi Indonesia di Kamboja tidak seperti yang diharapkan, tetapi ada peningkatan minat dari pengusaha Indonesia untuk berinvestasi di Kamboja, Duta Besar Haseng menunjukkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *