Insiden Lambu Dikecam

AKSI unjuk rasa Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Penolak Eksploitasi Tambang (AMMPET) yang berakhir dengan bentrokan melawan aparat, di Kantor Camat Lambu, Kabupaten Bima, 10 Februari lalu, dikecam banyak pihak. Sebabnya, beberapa warga terkena tembakan aparat dan lainnya ditahan, gara-gara menolak kebijakan Bupati Bima Ferry Zulkarnaen yang mengijinkan usaha pertambangan di daerah mereka.

Di Lombok, para aktivis menggelar demonstrasi mengecam aksi penembakan warga yang dilakukan aparat kepolisian Bima. Di Lombok Timur, aksi solidaritas untuk warga Lambu itu dilakukan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro Cabang Lombok Timur, Kamis (17/2) lalu. Aksi yang dilakukan di depan Mapolres Lotim itu, mendesak Kapolda NTB untuk mencopot Kapolres Bima.

Kepemimpinan Kapolres Kota Bima dinilai tidak berjiwa besar. Gagalnya kepolisian memberi rasa aman saat unjuk rasa berlangsung, disebut sebagai bentuk kegagalan Kapolres. Koordinator aksi, M. Idrus, juga menuntut agar SK nomor 188 tentang eksploitasi lahan di Kecamatan Lambu, dicabut oleh pihak berwenang. SK eksploitasi lahan tersebut dinilai akan merugikan masyarakat di kemudian hari.

Pada hari yang sama, aksi mengecam insiden Lambu yang berujung pada permintaan agar Kapolda NTB mencopot Kapolres Kota Bima dan Kapolsek Lambu, dilakukan Aliansi Solidaritas Masyarakat Lambu (KAMIL), di depan Polda NTB. Selain mengecam tindakan aparat, mereka juga meminta agar warga yang ditahan pihak kepolisian dilepaskan kembali.

Berusaha Redam Curanmor

KRIMINALITAS paling menonjol di wilayah hukum Polsek Mataram, adalah pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Kapolsek Mataram yang baru, Kompol Andie Dadi SiK, tidak mengelak dengan kenyataan tersebut. Untuk itu, fokus dirinya begitu menjabat Kapolsek Mataram, langsung pada upaya meredam angka curanmor. Continue reading

Sosialisasi Narkoba Untuk Pelajar

POLRES Mataram tampaknya tidak ingin kecolongan lagi soal penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) yang melibatkan pelajar di wilayah hukumnya. Di Madrasah Aliyah Negeri 2 Mataram, Satuan Narkoba Polres Mataram langsung melakukan bimbingan dan penyuluhan tentang bahaya pemakaian narkoba.

Program sosialisasi untuk para siswa itu, disambut baik pihak sekolah. Bahkan sepanjang sosialisasi berlangsung, para siswa terlihat antusias mendengarkan ceramah yang diberikan Kanit Binluh Satuan Narkoba Polres Mataram, Iptu Safieyono. Saat tanya jawab pun, para siswa tersebut begitu antusias bertanya tentang segala hal menyangkut barang terlarang itu.

Dalam kesempatan itu, Safieyono menjelaskan soal trend peredaran narkoba belakangan ini yang mulai menyasar anak-anak baru gede. Termasuk soal tempat-tempat beredarnya narkoba, seperti kos-kosan dan tempat-tempat nongkrong anak muda.

Soal hukuman bagi mereka yang terlibat penyalahgunaan narkoba juga dipaparkan dalam sosialisasi tersebut. Munculnya undang-undang baru, yakni UU Nomor 35 tahun 2009, diharapkan memberikan efek jera bagi mereka yang berani menyentuh barang terlarang itu. Sebab undang-undang baru itu memberikan hukuman berat, minimal penjara empat tahun bagi pelakunya.

Oleh karena itu, Safieyono menekankan kepada para siswa agar menjauhi narkoba. Sebab, selain bisa menjerumuskan dalam hal ketagihan, narkoba itu juga merusak masa depan. ‘’Fokuskan diri untuk belajar. Jangan pernah tergoda dan dirayu untuk memakai narkoba,’’ imbuhnya.

Elpiji Kembali Langka

“Elpiji susah dicari, minyak tanah juga begitu. Saya suruh saja istri pakai kayu bakar untuk masak,” ujar Suhaili, salah satu warga Kuripan Lobar. Suhaili mengakui, kelangkaan elpiji terjadi lebih dari sepekan. “Sepertinya karena mau naik harga BBM kemarin jadi langka elpiji,” imbuh pegawai negeri sipil ini. Kepala Dinas Perindag Lobar Joko Wiratno saat dikofirmasi wartawan, kemarin membenarkan pernah terjadi kelangkaan elpiji terutama saat cuaca buruk beberapa waktu lalu. Namun saat ini, Joko memastikan pasokan elpiji sudah kembali normal.

“Dulu memang langka karena ada gangguan cuaca. Tapi sekarang sudah normal. Kelangkaan murni karena cuaca bukan karena rencana kenaikan BBM,” kata Joko. Dikatakannya, pengangkutan elpiji memang tidak bisa sembarangan dilakukan. Apalagi saat cuaca buruk. “Elpiji juga harus diangkut malam hari karena tidak bisa terkena kondisi yang panas,” ujarnya.

Hanya dari sisi pasokan elpiji, Joko mengakui, hingga saat ini memang belum mencukupi kebutuhan masyarakat. Idealnya per hari dibutuhkan 68 ribu tabung elpiji ukuran 3 kilogram. Saat ini baru terpenuhi 48 tabung yang dipasok dari SPBE Dasan Cermen sebanyak 28 ribu tabung dan 20 ribu tabung dari SPBE Lembar. “Masih ada kekurangan 20 ribu tabung per hari,” imbuh Joko.

Ditambahkan Joko, pasokan elpiji baru aman terpenuhi jika terdapat empat SPBE. Saat ini dua SPBE masing-masing berada di wilayah Lombok Timur dan Lombok Tengah tengah dirampungkan pembangunannya. Dengan total empat SPBU, diyakini Joko, kebutuhan elpiji tetap terpasok dalam jumlah mencukupi. Sebagai antisipasi, Disperindag Lobar tetap menggelar operasi pasar minyak tanah hingga kondisi kembali normal.

Kekurangan elpiji pun tetap tertutupi dengan datangnya pasokan tambahan dari Bali yang rutin diangkut setiap hari. Terpisah, General Manager PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) Cabang Lembar Risun Riswanto memberi solusi agar para pemilik SPBE memanfaatkan fasilitas landing bagi kapal pengangkut tangki elpiji yang tersedia 24 jam di pelabuhan barang Lembar. “”Kita sudah siapkan fasilitas 24 jam, landing kapal sama sekali tidak terganggu,” ujar Risun.

Kendati terjadi cuaca buruk, Risun menjamin pengiriman elpiji tidak akan terganggu. Hanya saja diakuinya, hingga saat ini belum ada kordinasi antara pihak Pelindo III dengan pemilik SPBE di pulau Lombok. Jika terjadi koordinasi ia menjamin pengangkutan elpiji akan tetap lancar dan kapal pengangkut elpiji tidak perlu “istirahat” terlalu lama di pelabuhan seperti saat ini.

“Karena belum dimanfaatkan maksimal pelabuhan yang ada, kapal pengangkut elpiji terpaksa 2-3 bulan nongkrong di pelabuhan tidak berlayar,” katanya. Ditegaskan Risun, pihaknya siap mendistribusikan semua barang kebutuhan nasional termasuk pupuk, elpiji dan semen. “Kami menjamin operasional 1 x 24 jam tanpa hambatan. Pelindo juga sudah siapkan fasilitas sandar kapal tangki,” pungkasnya.

TKI LOBAR Terancam Digantung Di Malaysia

Syafi’i (28), TKI asal Perempung, Desa Banyu Urip Kecamatan Gerung, Lombok Barat, NTB, terancam hukuman gantung di Malaysia. Syafi’i dituduh telah membunuh seorang mandor perkebunan kelapa sawit. Pemberitahuan tak resmi ke keluarga, Syafi’i, bakal digantung dalam hitungan pekan. Syafi’i saat ini mendekam di penjara Batu Gajah, Keluang, Johor, Malaysia Barat. Namun keluarga hingga saat ini tak mendapat pemberitahuan resmi dari pemerintah.

Jamali, salah satu sepupu Syafi’i pada wartawan di Mataram, mengatakan, keluarga mengetahui kasus yang menimpa saudaranya itu pekan lalu, setelah diberitahu Mustiah, seorang TKI dari desa yang sama, bahwa Syafi’i bakal dihukum gantung. Mustiah mengetahui kasus yang membelit Syafi’i dari pemberitaan media di Johor. Mustiah lalu mencari tahu ke penjara Batu Gajah, dan menemukan Syafi’i mendekam di sana.

“Mustiah minggu lalu menelpon ke keluarga, dan memberitahu Syafi’i akan diberi waktu hari Rabu pekan ini bertemu keluarga oleh orang penjara Malaysia dan setelah itu akan dihukum gantung,” kata Jamali. Saat ini keluarga kata Jamali tengah resah. Pasalnya keluarga tak pernah mendapat pemberitahuan apapun dari pemerintah. Sitah, ibu Syafi’i juga limbung dengan informasi itu.

Senin siang, keluarga lalu mengadu ke Yayasan Pancakarsa, lembaga non pemerintah yang aktif mengadvokasi kasus TKI di NTB. Keluarga juga minta difasilitasi bantuan hukum. Menurut keterangan Mustiah pada keluarga, Syafi’i bakal dihukum gantung atas tindak pidana yang tak pernah ia lakukan. Polisi menemukan Syafi’i di lokasi pembunuhan mandor perkebunan sawit di Tongkang Pecah, Batu Pahat, Johor.

“Syafi’i tidak membunuh mandor itu. Yang melakukannya adalah salah seorang TKI lain akibat ribut berselisih soal gaji, lalu setelah itu melarikan diri. Syafi’i tidak ikut lari karena merasa tidak terlibat. Tapi akhirnya dia yang ditangkap polisi Malaysia,” kata Jamali. Upaya penjelasan yang disampaikan oleh Syafi’i ke polisi Malaysia tak digubris. Dan ia tetap diadili dan hingga akan digantung.

Syafi’i berangkat ke Malaysia tahun 2005. Ia telah tiga kali bolak balik bekerja di negeri Jiran itu, dan sama sekali tak pernah terlibat kasus hukum. Ia juga berangkat secara resmi melalui PT Wira Karitas. Sementara Fitriyatun Wahyuni, dari Pancakarsa mengatakan pihaknya bakal menindaklanjuti laporan itu dan berkomunikasi dengan Kementrian Luar Negeri dan juga Kedubes RI di Malaysia.

Terpisah, Kepala Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja NTB H Mokhlis mengatakan, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Kementrian Luar Negeri. Dipatsikan akan ada pembelaan hukum bagi Syafi’i di Malaysia.

Kontraktor Klaim Pembangunan Sesuai Spek

Tudingan Wakil Ketua DPRD Lombok Barat (Lobar), Lukman Mukhtar jika pembangunan Jembatan Arum Manis, di Desa Sandik, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat (Lobar) dikerjakan secara asal-asalan ditanggapi pihak kontraktor proyek. Direktur CV Utama, selaku kontraktor pelaksana, Eddy Sophian mengklaim jika pihaknya membangun jembatan yang memiliki panjang 40 meter dan lebar meter itu sudah sesuai spek dan isi RAB (rencana anggaran belanja) yang disepakati dengan dinas terkait.

Model konstruksi bagesting jembatan yang melengkung menurutnya, kadang oleh sebagian orang yang tidak mengerti tentang teknis pembangunan dianggap miring atau tidak proporsional. Sesuai desainnya, konstruksi jembatan ini memang tidak menggunakan tiang pancang melainkan jembatan beton konvensional. “Kami sangat menyayangkan kesimpulan anggota dewan yang menyebut jembatan ini dibangun asal-asalan dan bergelombang,” kata Eddy.

Pengusaha asal Mataram ini mengaku merugi cukup besar selama mengerjakan proyek bernilai Rp 900 juta lebih itu. Empat kali perancah dari jembatan hanyut diterjang arus banjir Sungai Meninting yang melintasinya sehingga total kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Material proyek lain seperti sejumlah puluhan kubik glondongan pohon kelapa dan balok-balok kayu juga ikut tersapu derasnya air sungai. Eddy membantah, jika keterlambatan proyek ini lantaran adanya aksi mogok yang dilakukan para pekerja selama dua minggu.

Molornya pengerjaan murni akibat derasnya arus banjir Sungai Meninting yang tidak dapat diprediksi kapan terjadinya ketika musim hujan. “Dokumentasi terjadinya banjir serta peralatan kami yang dihanyutkan juga sudah kami laporkan ke dinas terkait dan telah diterima baik,” tandasnya. Ditambahkan rekan Eddy, Agus Sucipto, pembangunan jembatan Arum Manis saat ini sudah mencapai 97,15 persen dan ditargetkan bisa rampung akhir bulan Maret. Justru saat ini, perusahaan baru mendapat pembayaran sebesar 65 persen dari nilai proyek dan sisanya menurut dinas akan diberikan setelah pembangunan jembatan tersebut rampung.

Tudingan dewan yang menilai pihaknya tidak serius mengerjakan proyek yang sebenarnya memiliki pagu Rp 1,2 miliar itu sangat disayangkan Agus. Perusahaannya sebagai kontraktor yang sudah terakreditasi dan juga bersertifikat tetap menjunjung moral dan jiwa membangun daerah untuk kepentingan masyarakat. Meski merugi cukup besar, Eddy mengaku tidak trauma bekerjasama dengan Pemkab Lobar melalui dinas terkait.

Justru dia berharap, koordinasi yang baik tetap terjalin dengan seluruh elemen di pemerintahan dan masyarakat luas. Sebelumnya diwartakan, pembangunan jembatan Arum Manis yang menghubungkan Desa Jatisela-Sandik dianggap Wakil Ketua DPRD Lobar Lukman Muhtar dikerjakan asal-asalan dilihat dari bagestingnya (tiang pancang untuk penyanggah beton cor-coran, Red) yang tidak proporsional.

Lukman yang melakukan sidak di lokasi proyek yang belum rampung itu mengatakan, karena bagesting yang diposisi tak sejajar membuat jembatan dalam kondisi bergelombang. Dikhawatirkan, karena konstruksi seperti ini akan menyebabkan kekuatan jembatan tidak bertahan lama. “Jembatan ini harusnya jangan dihajatkan untuk difungsikan sementara saja tapi selamanya,” kata Lukman.