Menikmati SOLO City Walk

Saat ini jika anda berkesempatan singgah di Solo, ada satu lagi obyek yang sungguh sayang kalau dilewatkan. Bukan sesuatu yang baru ada sebetulnya, tapi lebih merupakan hasil penataan ulang yang cukup mengagumkan. Kawasan itu bernama City Walk, sebuah jalur pedestrian yang terbentang hampir sepanjang 7 kilometer pada jalan utama di kota itu, yakni Jalan Slamet Riyadi, yang secara tidak sengaja saya kunjungi beberapa waktu lalu.

Dalam rangka liburan idul fitri dua bulan yang baru lalu, saya berkesempatan menginap di salah satu hotel melati di kawasan itu. Sambil minum kopi di warung wedangan depan hotel perhatian saya tersedot pada hamparan trotoar yang terbilang lebar, bersih dan rapi. Spontan saya ucapkan kekaguman saya pada penjual minuman yang melayani saya. “ .. Nggih niki ingkang amarge’aken Pa Jokowi menang malih wonten pilkada kala wingi pak. Tiyang – tiyang sami nyebat siti wog ( ya ini yang membuat Pak Jokowi menang lagi pada Pilkada kemarin pak, orang – orang menyebut ini siti wag ). Jawaban bapak itu dalam Bahasa Jawa yang halus sebagai ciri warga Solo berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal. Sempat agak bingung saya dengan penjelasan bapak itu, dan sejurus kemudian saya baru “ngeh” perihal istilah City Walk itu setelah seorang remaja yang juga sedang minum kopi bareng saya ikut nimbrung pembicaraan. Dan ketika berlanjut obrolan maka mengalirlah penjelasan yang cukup panjang lebar dari bapak warung itu tentang kawasan yang ternyata jauh lebih besar makna dan kemanfaatannya daripada sekedar trotoar itu. Mulai dari kebijakan pemerintah kotanya, respon warga khususnya para pedagang kaki lima yang mengais rejeki di situ, juga kesan – kesan para pengunjung baik pelaku usaha maupun wisatawan yang dia rekam setelah diresmikannya kawasan Solo City Walk tersebut pada akhir tahun 2007 yang lalu. Penjelasan bapak warung itu sangat menarik dan menggugah minat saya untuk mengetahui lebih jauh, sehingga keinginan mencicipi sega kucing pun saya batalkan dan setelah membayar Rp 2.500,- untuk segelas kopi dan 2 potong tahu goreng saya pun melangkah mencoba menyusuri apa yang dinamakan City Walk itu.

Beberapa meter berjalan pandangan mata saya tertuju pada sekelompok remaja belasan tahun yang duduk berkumpul pada kursi besi di tepi jalur menghadapi laptop yang terbuka, saya langsung berpikir pasti mereka tengah ber-internet. Barangkali mereka menggunakan modem atau meng-akses fasilitas jaringan nirkabel dari hotel tempat saya menginap (karena di bawah papan nama hotel memang terdapat logo PT Telkom dan tulisan free hotspot), ketika iseng saya tanya jawabannya cukup mengejutkan, “ hampir sepanjang jalan ini kita bisa internetan gratis pak..”. Hebat, murah hati sekali PT Telkom di sini, pikir saya. Ketika saya lanjutkan melangkah hampir seratus meter ke depan ternyata pada kursi – kursi yang ada hampir semuanya dipenuhi warga yang tengah membuka laptop dan asyik menjelajahi dunia maya. Tidak hanya remaja belasan tahun, tapi ada juga beberapa pemuda dan orang dewasa yang berkumpul di situ.

Melanjutkan langkah menyusuri tepian jalan protokol saat keramaian lalu lintas mulai surut, diterangi lampu jalan dengan tiang – tiang yang artistik. Di sana sini nampak beberapa kelompok kecil kerumunan orang yang kelihatan guyub penuh keakraban, asyik ngobrol dan bercanda. Beberapa tukang becak yang mangkal di depan sebuah hotel nampak asyik menikmati gending – gending jawa dari radio kecil yang dibawa, sementara dua orang satpam sebuah bank nampak bersungut-sungut karena pahitnya jamu dari perempuan penjual jamu gendong yang sedang diminumnya. Tak jauh dari situ tergelar tikar lesehan penjual nasi liwet dengan beberapa orang pembeli yang sedang dihibur sepasang pengamen berpakaian jawa lengkap dengan siter dan suara sindennya, dan tak jauh setelah itu saya lewati lagi beberapa anak muda yang ngobrol di tikar dan karpet pedagang kaki lima ( warung wedangan kata wong solo, yang di jogja dikenal sebagai angkringan ), di antaranya sambil asyik menjelajah dunia maya dengan laptop yang dihadapinya.

Barangkali suasana semacam ini yang digambarkan lagu keroncong puluhan tahun lalu, tentang Solo yang tetap hidup sepanjang malam.

Akhirnya langkah saya harus terhenti karena jalurnya tertutup oleh kerumunan orang yang nampaknya tengah asyik menikmati tontonan tertentu. Ternyata di halaman bangunan yang belakangan saya tahu bernama Balai Soedjatmoko itu sedang berlangsung pertunjukan wayang kulit, dan nampaknya para penonton itu asyik betul menikmati kepiawaian sang dalang mempertontonkan keahliannya. Akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri perjalanan malam itu dengan satu tekad, besok pagi sehabis sholat subuh harus jalan – jalan lagi untuk menikmati suasana pagi di jalan ini. Tapi sebelum kembali ke hotel saya sempatkan menikmati sepiring bakmi godog yang dimasak dengan tungku arang pada salah satu pedagang kaki lima di belakang kerumunan para penonton pagelaran wayang kulit itu . Setelah bersabar sekitar 15 menit sambil mengamati pedagangnya memasak sambil mengipasi tungku arangnya, terhidanglah sepiring mie yang bercampur antara warna kuning dan putih, dengan irisan daging ayam kampung, irisan kubis, telur ayam yang sudah dikocok yang menambah kental kuahnya, taburan daun seledri dan bawang goreng, dan beberapa biji cabe rawit di pinggirnya. Inilah yang di luar Solo dan Jogja dikenal sebagai bakmi jawa, menu makan malam yang selalu saya cari setiap ada kesempatan di Solo atau Jogja ( di mataram menu ini saya temukan di Montong Café, sekitar 100 meter utara pertigaan Montong sebelum Senggigi, tapi saya yakin tidak dimasak dengan arang ).

Sambil menyusun tulisan ini rasanya mengiang di telinga saya salah satu lagu keroncong lama.. Solo di waktu malam hari.. suara seniman merayu – rayu ….

Jam 05.00 keesokan paginya, dengan semangat untuk menjawab rasa penasaran yang memenuhi hati kembali saya coba menyusuri jalur pedestrian itu. Di bawah udara pagi yang sejuk, lalu lintas yang masih sepi, dan sedikit kehangatan dari sinar matahari yang membias di antara kerimbunan pohon – pohon sepanjang jalan, sungguh menyenangkan dan segar sekali rasanya nafas di dada.

Bersama dengan beberapa orang warga yang berolahraga baik berjalan maupun berlari-lari kecil, pasangan muda yang berjalan sambil mendorong kereta bayi, juga beberapa perempuan yang sepertinya berjalan menuju pasar dengan keranjang di gendongannya, dengan santai saya berjalan melewati beberapa bangunan tua berselang seling dengan gedung – gedung baru, tukang sapu jalanan yang tengah menyelesaikan kerjanya, tukang becak yang terkantuk – kantuk karena bekerja dari semalaman, dan pedagang kaki lima yang tengah menata dagangannya. Suasana pagi yang sungguh menyenangkan, berjalan melangkahi deretan ubin warna – warni dalam tatanan yang artistik, di bawah kerimbunan daun pohon – pohon tua yang sangat rindang, melewati taman – taman kecil yang daun dan bunganya masih basah oleh titik–titik embun, sementara lalu lintas pada jalan utamanya masih lengang, sehingga belum ada asap knalpot yang mengganggu kebersihan udaranya.

Dari sekian ratus meter yang sudah terlewati ada beberapa hal yang menarik diamati, seperti digunakannya tegel / ubin dan bukan paving blok pada hamparan jalur pedestrian ini, sehingga menumbuhkan perasaan yang lebih sejuk sekaligus menguatkan kesan kuno yang sangat serasi dengan bangunan – bangunan yang ada di sisinya. Kemudian penataan gerobak pedagang kaki lima yang seragam dan dibatasi pada ruas tertentu, sementara pada ruas yang lain dibiarkan kosong dan menjadi sangat lapang. Sungguh satu penataan yang mengagumkan.

Sebagai penggemar wisata sejarah, maka bangunan dan gedung – gedung tua di sepanjang jalan itu yang paling menarik perhatian saya, sehingga di situ saya sempatkan berhenti dan mengambil gambar sebagai kenang – kenangan. Pertama yang saya jumpai adalah Rumah Sakit Tentara Slamet Riyadi. Bangunan yang kecil untuk ukuran sebuah rumah sakit, dengan pelataran depan cukup luas yang menunjukkan ciri – ciri ketuaannya, dan patung pahlawan nasional Brigjen Slamet Riyadi sebagai penanda di antara tamannya.

Tidak jauh dari rumah sakit tersebut terdapat rumah tua yang sangat terawat yang dikenal sebagai Loji Gandrung, bangunan tua peninggalan masa kolonial yang sekarang digunakan sebagai rumah jabatan Walikota Solo. Dari model bangunannya yang nampak kokoh sekaligus artistik memang sangat cocok sebagai kediaman pembesar negeri. Saya teringat pada tahun 1990 ketika bersama beberapa teman menghadiri pertemuan Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (ISMEI) di Universitas Sebelas Maret sempat dijamu makan malam oleh walikota di rumah dinas ini.

Melangkah kurang lebih seratus meter berikutnya sampailah saya pada satu pusat belanja yang menjadi tanda berpadunya nuansa kota tua dan kota modern, Solo Grand Mall, yang sepagi itu tentu saja belum ada keramaian pengunjung maupun para penjualnya. Hanya ada beberapa orang petugas keamanan yang tengah menunggu pergantian shift dan petugas kebersihan yang tengah menyapu halamannya. Saya putuskan untuk beristirahat pada kursi besi yang cantik di taman kecil yang ada di situ. Badan mulai sedikit basah oleh keringat, dan semakin hangat oleh sinar matahari pagi yang memendar dari kerimbunan daun di atas saya. Jalanan mulai agak ramai dengan berbagai kendaraan yang melintas. Kendaraan roda empat berbagai merek, bis kota, sepeda motor dengan pengendara berseragam pns, sepeda yang dikayuh anak – anak berseragam putih biru dan putih abu – abu, juga becak berpenumpang ibu – ibu yang nampaknya mau berbelanja ke pasar. Sebentar saja saya duduk di kursi itu, karena tidak jauh dari situ terdapat beberapa gerobak pedagang kaki lima yang memancing hasrat kuliner saya untuk mencicipinya. Beberapa gerobak yang seragam bentuknya tapi menawarkan berbagai pilihan yang menggugah selera. Ada soto, bubur ayam bubur kacang ijo, timlo,nasi gudeg, dan berbagai menu sarapan yang lain. Karena saya ingat di hotel pun ada layanan makan pagi maka saya memilih untuk menikmati segelas teh hangat saja ditemani berbagai makanan kecil yang cukup untuk sementara mengganjal perut. Ada tahu dan tempe bacem, ketan goreng, gethuk, juga kelepon.

Sambil duduk menikmati kental dan manisnya teh hangat sedikit saya amati orang – orang yang sedang menyantap sarapan pagi itu. Ada sekelompok anak–anak sekolah, yang dengan hangat menyambut sapaan seorang perempuan yang membeli untuk dibungkus beberapa kue di warung itu, nampaknya perempuan itu ibu guru mereka. Ada laki – laki muda dengan kemeja berdasi bersama perempuan dengan blazer dan sepatu hak tinggi yang sambil menikmati soto nampak serius berdiskusi. Ada beberapa orang berseragam warna coklat muda dengan bedge lambang Pemerintah Kota Solo. ada kakek- kakek bersama cucunya, ada sopir taksi yang tentu sambil menunggu penumpang, dan saya yang masih berkaos dan bercelana pendek.

Saya jadi ingat sedikit teori kehidupan masyarakat kota yang pernah terbaca, yang menjelaskan betapa pentingnya keberadaan ruang terbuka publik, entah berupa taman, alun – alun, atau juga kawasan pedestrian seperti ini, sebagai tempat bertemu, berinteraksi dan bersosialisasi warganya, tanpa sekat dan tanpa perbedaan kelas sosial. Yang menjadi kanal dan refreshing area setelah menghabiskan waktu untuk kerja keras sesuai tuntutan kehidupan kota yang selalu bergerak maju, di mana dengan interaksi di tempat – terbuka seperti itulah yang diharapkan dapat menghambat berkembangnya sifat – sifat egois dan individualis warga yang hidup penuh dengan kompetisi di setiap lini kehidupannya. Suasana kehidupan seperti itulah yang nampaknya disyukuri warga Kota Solo sebagai salah satu keberhasilan pemerintahnya, sehingga seperti penjelasan penjual warung wedangan semalam, Pak Jokowi (panggilan akrab warga Solo pada walikotanya Ir H. Joko Widodo) yang berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo mereka pilih kembali sebagai pasangan walikota dan wakil walikota pada Pemilukada Bulan April 2010 yang baru lalu, setelah menyelesaikan mandat kepemimpinan pada periode sebelumnya ( 2005 – 2010 ).

Menikmati kerimbunan daun pohon – pohon besar dan tua di kawasan itu melayangkan ingatan saya pada deretan pohon kenari tua di Jalan Langko Mataram, yang kadang menjadi jalur lari pagi saya ketika ingin variasi dari Jalan Udayana yang ramai. Bedanya barangkali di Jalan Langko hampir tidak ada lagi bangunan tua yang bersejarah dan menarik sebagai bagian sejarah pertumbuhan kota. Tinggal beberapa saja yang tersisa, seperti Bangunan Kantor Pos di Ampenan, Rumah Mamiq Azhar dan Kantor Polisi Militer di barat lapangan umum, dan Gedung SPP / SPMA yang konon tak lama lagi harus hilang digantikan Islamic Centre yang akan menjadi penanda baru Kota Mataram. Kalau diamati dengan seksama, ternyata di tepian Jalan Langko khususnya pada sisi utara sebetulnya tersedia pula ruang yang cukup lebar yang dulunya sangat mungkin diperuntukkan bagi para pejalan kaki, akan tetapi hari ini kondisinya sudah berubah tidak beraturan. Pada ruas depan Kantor Walikota dan Kantor Gubernur masih terdapat trotoar yang agak lebar, tetapi pada ruas yang lain trotoarnya sangat sempit, bahkan banyak pula yang sudah tidak jelas batas antara jalan raya, bahu jalan, dengan pagar bangunan di sisinya. Barangkali memang karena sejarah pertumbuhan Kota Mataram tidak sama dengan Solo, sehingga penanda – penanda fisiknya pun berbeda. Tapi Mataram masih punya lapangan umum semacam alun – alun di kota lain, punya taman kota di Jalan Udayana, bahkan memiliki pantai yang terbentang beberapa kilometer. Dengan ciri, keunikan dan kondisi kehidupan masyarakatnya yang berbeda, rasanya bisa pula Mataram mengembangkan kawasan – kawasan terbuka dan pedestrian yang jika dikelola dengan sungguh – sungguh tidak kalah menariknya dibandingkan dengan Solo City Walk. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *