Masyarakat Waspadai Ayam Afkir

Masuknya ayam afkir atau ayam petelur yang sudah tidak produktif ke wilayah Lombok Barat (Lobar) harus diwaspadai masyarakat. Pasalnya, menurut Kepala Dinas Pertanian Perternakan dan Perkebunan (Dispertanakbun) Lobar Chairul Bachtiar, ayam afkir merupakan salah satu pembawa virus H5N1 atau flu burung. Secara legal, lanjut Bachtiar, peluang keluar masuknya unggas melalui pelabuhan resmi seperti Lembar sudah tertutup. Namun dikhawatirkan, ayam-ayam afkir akan masuk melalui pelabuhan-pelabuhan nelayan yang kerap luput dari pengawasan petugas.

“Kalau lewat Pelabuhan Lembar tidak mungkin karena harus melalui pemeriksaan ketat. Khawatirnya masuk lewat nelayan karena pesisir pantai kita luas dan tidak bisa mendetekesinya,” terang Bachtiar di sela-sela kegiatan sosialisasi flu burung di Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari. Jika ayam-ayam afkir tersebut masuk ke pasar dan dipotong oleh jagal ayam tanpa mengetahui kondisinya sakit atau sehat, pastinya kata
Bachtiar, akan sangat membahayakan bagi kesehatan manusai. Selain dikhawatirkan akan menular dan terkontaminasi pada ternak yang sehat sehingga secara massal terjadi flu burung.

Untuk di wilayah Lobar, Bachtiar menyatakan, masih dalam kategori suspect flu burung. Temuan kasus terakhir terjadi pada 26 Februari lalu di Dusun Montong Tangar, Desa Batu Kumbung, Kecamatan Lingsar.
“Berdasarkan hasil survey lapangan unggas yang mati memang tidak banyak sehingga tidak dilakukan rapid test. Sebagai antisipasi diambil sample serum untuk uji laboratorium,” ujar Bachtiar.

Hasil laboratorium menyatakan, H5 postif sedangkan N1 negatif. Artinya, kata Bachtiar, kasus kematian unggas tersebut belum mengarah pada flu burung. Begitu juga penularan ke manusia. Laporan terakhir ungkapnya, seorang warga dicurigai terjangkit flu burung karena mengalami demam tinggi serta diare sekitar Maret lalu. Namun hasil pemeriksaan dokter menyatakan, pasien tersebut menderita pnemonia atau radang paru-paru.
Berbekal kasus itulah, lanjutnya, Dispertanakbun gencar mensosialisasikan agar masyarakat waspada mengingat ketidaktahuan khalayak terhadap gejala flu burung beserta tindak lanjut jika menemukan gejela adanya flu burung.

“Masyarakat juga harus sadar kalau menemukan gejala-gejala unggas mati tiba-tiba dalam jumlah banyak agar tidak mengkonsumsinya,” ujar Bachtiar yang merencanakan kegiatan sosialisasi akan digelar di seluruh kecamatan di Lobar dengan mengambil lokasi di beberapa desa. Disinggung perkembangan kasus flu burung di Lobar, diakui Bachtiar, sempat merebak sekitar tahun 2005 silam. Namun kasusnya kembali hilang dalam rentang waktu 2006-2010. Rentang waktu aman itulah menurut Bachtiar, dimanfaatkan oleh pedagang maupun pengusaha ayam di pulau Lombok untuk mendatangkan ayam afkir dari Pulau Jawa atau Bali.
“Salah satu tujuan sosialisasi agar masyarakat faham, minimal gejala-gejala flu burung seperti apa,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *