Legenda Rasa Soto Si Tjang

Berawal dari rasa penasaran pada cerita seorang sahabat yang tinggal di Ampenan tentang warung soto di emperan gudang tua dekat depo Pertamina, sebelum pintu gerbang bekas Pelabuhan Ampenan. Rasa penasaran itu semakin bertambah ketika dua kali saya datang ke warung itu hanya menjumpai tiga orang perempuan sedang bersih-bersih mangkuk, gelas, dan peralatan lainnya. Setiap saya bertanya jawabnya selalu “ habis pak..” Luar biasa, pikir saya.

Memang sahabat tadi sudah wanti-wanti supaya jangan melewati jam sepuluh kalau mau menikmatinya. Ternyata tidak main-main, dua kali saya datang bahkan masih beberapa menit menjelang jam sepuluh, sudah hampir tutup warung itu. Baru pada Hari Minggu kemarin terjawablah rasa penasaran itu.

Sepulang dari mengantar istri ke Bandara Selaparang karena harus ke luar daerah untuk satu urusan, dengan mengabaikan godaan berbagai pilihan menu makan pagi yang tergelar di seantero taman Jalan Udayana, langsung saya arahkan sepeda motor ke Ampenan. “Kali ini pasti nggak terlambat lagi” pikir saya sambil melihat jarum jam di tangan yang menunjukkan pukul 07.30 . Sebagaimana saya duga , sampai di warung yang bisa dikategorikan kaki lima itu tengah ramai dengan pembeli. Terlihat kontras sekali di pandangan mata saya deretan beberapa mobil jenis terbaru yang masih kinclong terparkir di situ, sementara pemiliknya tengah menikmati sarapan paginya pada sebuah warung kaki lima di emperan bangunan sebuah gudang tua, dengan penutup kain gorden hampir lusuh pada beberapa bagiannya supaya para penikmat yang sedang menyantap tidak terlihat terlalu mencolok dari jalan raya di depannya. Namun begitulah bila rasa telah memikat hati… ( kok jadi kayak puisi cinta…)

Saya pun masuk dan memesan satu mangkuk sotonya. Ada delapan orang yang tengah bersantap di situ, yang duduk berderet pada 2 meja dan bangku panjang yang tersedia. Enam orang di antaranya adalah saudara – saudara Tionghoa kita yang ditilik dari pakaiannya nampak baru selesai berolahraga pagi. Selain sambal dan kecap, nampak tersedia di atas meja beberapa toples berisi kerupuk kulit, kerupuk udang, air minum kemasan, irisan jeruk limau dalam piring – piring kecil, dan juga agar – agar warna coklat dalam gelas kecil yang biasa terdapat pada warung – warung makan di sekitar Kota Mataram. Tidak berapa lama kemudian terhidang di depan saya semangkuk soto yang saya pesan, dengan kuah berwarna kecoklatan yang menandakan bahwa ini adalah soto racikan asli Lombok. Berbeda dengan soto Madura yang kuahnya cenderung berwarna kuning atau soto betawi yang kuahnya cenderung putih karena dicampur santan atau susu. Kemudian kekhasan lain yang ada adalah digunakannya sawi hijau sebagai sayurannya, bukan daun bawang atau daun seledri, dan butir – butir kacang bawang yang menemani bawang goreng sebagai toping-nya. Tetapi di sini tidak saya temukan srundeng kelapa yang biasa digunakan sebagai campuran kuah pada beberapa warung soto asli Lombok lainnya, dan yang lebih membedakan lagi adalah sebutir telur ayam utuh tidak dipotong-potong.

Mulailah saya menikmati warisan rasa spesial itu sambil mencoba berbincang dengan Ibu Aminah, perempuan berusian 50 tahunan yang baru saja menghidangkan sotonya untuk saya nikmati. Kenapa saya sebut warisan, karena ketika saya tanya sudah berapa lama berjualan perempuan itu menjelaskan “.. sudah lama sekali pak. Awalnya bapak saya dulu yang mulai berjualan tahun 50-an di depan Kantor Pos Ampenan. Bapak saya almarhum mualaf turunan tionghoa panggilannya Tjang, makanya orang – orang itu nyebutnya soto si Tjang.” Berarti warung ini sudah bertahan beberapa puluh tahun, dan sekarang penjual ini adalah generasi kedua yang mewarisi bumbu dan resep dari orang tuanya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. “ Wah.. mestinya ibu pasang papan nama yang besar di depan itu bu..” kata saya. Penjual itu hanya tersenyum.

Sambil meracik soto untuk pembeli yang keluar masuk bergantian, Bu Aminah meneruskan obrolan dengan saya. “ … Alhamdulillah Pak, ini warisan yang paling berarti dari Bapak saya. Dengan warung ini saya menghidupi keluarga dan membesarkan anak-anak saya, apalagi setelah suami saya meninggal . “

Dengan 5 ekor ayam kampung dewasa yang dipotong setiap harinya, sejak buka jam 6 sampai sekitar jam 10 pagi rata – rata 100 mangkuk soto dapat dihabiskan oleh para penggemar fanatiknya. Dengan harga Rp 12.000,- per mangkuk untuk ukuran warung kaki lima memang tidak bisa dibilang murah, tapi dengan kekuatan rasa yang ada memang tidak masalah bagi para penggemarnya. Dan menilik kendaraan yang terparkir di depannya memang nampak bahwa sebagian besar pelanggan warung soto ini adalah kalangan menengah ke atas. Seperti Galuh misalnya, perempuan setengah baya dari Lingkungan Pejarakan Ampenan dengan profesi sebagai pengusaha yang sempat berbincang dengan saya pagi itu mengatakan bahwa dia sudah menjadi pelanggan soto ini sejak belasan tahun lalu ketika orang tua Bu Aminah yang bernama lengkap Ong Sik Tjang itu masih hidup dan warung jualannya terletak di salah satu sudut simpang lima ke arah pelabuhan tua Ampenan . Dalam sebulan paling tidak lima kali dia menyantap soto Si Tjang yang sedap ini. Bahkan tidak jarang untuk konsumsi pertemuan atau hajatan dia memesan khusus dari Bu Aminah untuk hidangan tamu-tamunya. “ Soal harga menurut saya tidak terlalu mahal untuk soto lezat yang melegenda seperti ini. Seimbang dengan kenikmatan yang kita rasakan” jawabnya ketika saya tanyakan soal harga.

Tidak terasa satu mangkuk soto sudah saya habiskan. Cukup kenyang untuk ukuran sebuah makan pagi, dan kenikmatan yang tertinggal di lidah rasanya mengikat saya untuk suatu saat datang lagi menikmati sensasi hidangan sarapan pagi di antara bangunan – bangunan tua yang kusam tapi masih kokoh berdiri. Ketika teringat adanya wacana revitalisasi kawasan kota tua ini sebagai tujuan wisata, saya berdoa semoga Bu Aminah dengan warung peninggalan orang tuanya itu tidak tergusur, tapi justru semakin memperoleh ruang yang lebih baik, karena sesungguhnya dia, Pak Tjang orang tuanya, dan para pelanggan setia sotonya pun merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Ampenan sebagai sebuah kota tua yang masih bertahan hingga saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *