Jangan Dongkol ke Pengantin Nyongkol

Hampir saban bulan ada saja pawai pengantar pengantin Lombok yang melintas di jalan umum. Malah kalau sedang bulan kawin, yakni setelah lebaran atau usai musim panen, konvoi adat itu bisa ditemui saban pekan. Di hampir semua jalan raya sekitar permukiman warga.

Hari Minggu pekan lalu, sekelompok pengantin nyongkol membuat macet hampir satu jam jalan umum menuju Senggigi. Banyak yang mendongkol, tapi wisatawan asing yang ikut melintas di jalan itu terlihat fine-fine saja. Mungkin karena mereka jarang melihat atraksi itu. Beda dengan warga yang tinggal di Lombok, sajian wisata itu sudah jadi pemandangan biasa.

Tapi benarkah terlalu biasa? Tidak, kalau meluangkan waktu buat menikmati atraksi ini. Di iring-iringan penganten Lombok selalu ada kelompok yang membunyikan tabuhan ikut berparade. Kalau bukan gendang beleq, ya kecimol.

Nah, gendang beleq sebenarnya adalah sebuah tarian. Sebab penabuh alat musik ini juga adalah penari. Mereka menabuh sambil menari, dengan dua penari utama yang juga menabuh gendang beleq (beleq = besar) dan beberapa lagi menabuh petuk dan pemain copeh.

Petuk adalah sebuah gong kecil yang beralas kerangka dari kayu yang dikalungkan, sedangkan copeh yaitu instrumen musik yang berbentuk ceng-ceng kecil yang dipegang dengan tangan kiri dan kanan.

Dahulu, Tari Gendang Beleq berfungsi sebagai tari pengiring para ksatria yang akan maju ke medan perang atau menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Walaupun tidak ada gerak yang menunjukkan perkelahian dan tidak ada pula yang membawa senjata perang, gerak tari yang diperagakan selalu menunjukkan watak maskulin.

Meskipun gendang ini besar dan berat, tetapi kedua penari yang membawa gendang beleq dapat menari dan bergerak dengan lincah. Karena sifatnya yang atraktif, tari gendang beleq ini sering kali diadakan untuk mengiringi arak-arakan pengantin atau arak-arakan anak yang akan dikhitan, dan untuk penyambutan tamu penting.

Kalau kecimol lebih asyik lagi karena rombongan musik ini benar-benar menghibur. Menyaksikan mereka yang larut oleh entakan musik membuat penontonnya ikut tenggelam mengikuti irama tetabuhan.

Dulu, kecimol; yang merupakan kombinasi gendang beleq, organ dan suara seruling, pernah sangat populer di masyarakat Sasak walau kesan para pendengar langsung berubah dari menyaksikan pertunjukan musik tradisional menjadi pertunjukan musik daerah yang didangdutkan. Belum lagi kalau mendengarkan lagu penyanyinya yang mengambil lagu dangdut populer.

Sebelum kecimol, ada cilokaq. Berbeda dengan kecimol, cilokaq berusaha mempertahankan ketradisionalan musiknya, walau lagu yang diiringi (yang masih berbahasa Sasak) merupakan ciptaan musisi sekarang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *