Dewan Lobar Geram, RSUD Tripat Telantarkan Pasien

DPRD Lombok Barat (Lobar) dibuat geram dengan kembali munculnya keluhan masyarakat, terkait buruknya pelayanan di RSUD Tripat. Untuk itu, salah satu anggota DPRD Lobar, H Ahmad Zainuri mendesak Bupati Lobar segera mengevaluasi jajaran manajemen rumah sakit milik Pemkab Lobar ini.

“Dewan sangat menyayangkan kinerja RSUD Tripat karena sudah terlalu sering muncul keluhan pasien ditelantarkan,” ujar Ahmad kepada wartawan. Harusnya sesuai peningkatan status RSUD menjadi badan layanan umum daerah (BLUD), lanjutnya, pelayanan prima kepada semua pasien harus diutamakan. Bukan sebaliknya justru semakin memburuk. “Kalau sudah BLUD, sangat gila namanya kalau masih pasien yang ditelantarkan. Lebih baik tidak usah berstatus BLUD,” kritik Ahmad.

Terlepas statusnya masyarakat yang datang sebagai pasien jamkesmas, semua warga ditegaskan Ahmad, memiliki hak yang sama untuk dilayani. “Pasien jamkesmas juga bukan gratis, tapi mereka sudah disubsidi oleh daerah,” tandasnya. Politisi asal Narmada ini pun sangat menyesalkan sikap pegawai RSUD Tripat yang terlalu gampang mengembalikan pasien, terlebih pasien-pasien dengan kondisi kritis yang segera butuh penanganan medis. “Pasien jangan mudah diremehkan karena semua punya hak yang sama,” tegasnya.

Bukan hanya sekedar mengevaluasi manajemen RSUD Tripat, Ahmad juga mendesak bupati mengganti Direktur Utama RSUD Tripat. Ia menilai, posisi dirut harusnya diisi seorang dokter umum dan bukan dokter spesialis penyakit tertentu. Maksudnya agar dirut bisa bekerja lebih professional dan paham kondisi semua pasien, jangan hanya percaya pada laporan bawahannya,” ujarnya.

Politis yang terkenal vocal ini tidak memungkiri jika pasien miskin kerap dianaktirikan oleh pihak rumah sakit. Padahal seharusnya pelayanan rumah sakit tidak boleh membedakan antara warga miskin dan kaya karena semuanya memiliki hak yang sama untuk mendapat pelayanan kesehatan. Sebagaimana diketahu, nasib salah seorang pasien, Nurhasanah, 25 tahun, warga Dusun Sedayu Utara, Desa Kediri Selatan, Kecamatan Kediri, Lombok Barat (Lobar) kian memprihatinkan. Ibu tiga anak yang diduga menderita kanker payudara sejak tiga bulan terakhir dan harus mendapat perlakuan kurang bersahabat dari pihak RSUD Tripat.

Bermula saat Nurhasanah dirujuk puskesmas setempat ke RSUD Tripat Jumat (2/3) lalu. Namun karena merasa diperlakukan kurang baik oleh petugas medis saat itu, istri dari Junaidi itu pun mengaku trauma dan tak ingin kembali ke RSUD. “Saya diminta petugas untuk pulang ke rumah padahal saat itu saya tengah butuh perawatan intensif dan seharusnya mendapat perawatan menginap,” ujar Nurhasanah.

Ibu rumah tangga ini mengungkapkan, sikap perawat di IGD RSUD Tripat kepada dirinya sangat sinis. Selain merasa ditelantarkan, Nurhasanah juga mengaku tidak bisa dijenguk oleh keluarganya karena dilarang petugas medis. Saat di rumah sakit, Nurhasanah sempat menjalani pemeriksaan dan rontgen namun setelah beberapa jam setelah itu dia merasa diabaikan. Pasca kejadian tersebut, wanita yang baru melahirkan 29 hari lalu itu kini hanya bisa terkapar di kamarnya dengan beralas beberapa potong selimut lusuh.

Kondisi Nurhasanah makin diperparah dengan keadaan ekonomi keluarganya yang sangat pas-pasan. Penghasilan suami sebagai buruh bangunan dengan penghasilan rata-rata Rp 15 ribu per hari hanya cukup untuk kebutuhan dapur keluarga. Sementara ketiga anaknya masih berusia sangat kecil yakni 4,5 tahun, 2 tahun dan si bungsu baru 29 hari. Sebagai pasien jamkesmas, Nurhasanah berharap pemda melalui pihak terkait bisa membantunya dalam hal pengobatan. Terpisah, Humas RSUD Tripat dr Ahmad Taufiq Fathoni membantah jika pihaknya dikatakan telah menelantarkan Nurhasanah. Pasien ini saat kejadian memang diminta pulang petugas dengan pertimbangan yang bersangkutan memiliki anak bayi sementara jika harus dirawat di ruang rawat inap kelas 3 kondisinya dianggap tidak cocok bagi bayi karena ramai.

“Saat itu kami lihat pasien juga masih dalam kondisi cukup baik namun tetap keesokan harinya kami imbau untuk datang dan langsung ke poli bedah,” kata Fathoni. Fathoni juga mengungkapkan alasan mengapa pasien miskin ini tidak langsung ditangani oleh dokter bedah. Di hari itu, pasien masuk ke UGD pukul 10.20 wita sementara di waktu bersamaan dokter bedah tengah melakukan operasi pasien lain. Proses operasi ternyata memakan waktu cukup lama sehingga ketika selesai, dokter bedah lupa dan baru ingat ketika sudah sampai di rumah.

“Jadi kami jadwalkan agar pasien datang besok harinya untuk diperiksa dokter bedah,” ungkapnya. Keesokan harinya, pihak Puskesmas Kediri tanpa Nurhasanah juga sudah datang menemuinya dan meminta agar pasien bisa dirawat di ruang bersalin karena memiliki anak bayi. Namun karena saat itu ruang bersalin penuh, permintaan tersebut tak dapat dipenuhi. Pengobatan Nurhasanah pun tak bisa dilanjutkan karena yang bersangkutan enggan datang kembali ke RSUD. Fathoni juga belum berani menyimpulkan apakah Nurhasanah benar mengidap kangker payudara atau tidak karena hasilnya baru diketahui setelah dilakukan uji laboratorium di Denpasar.

Terlepas dari permasalahan tersebut, Fathoni menyatakan pihaknya tetap bersedia menampung Nurhasanah untuk menjalani pengobatan secara intensif. Karena memiliki kartu jamkesmas, dipastikan semua biaya akan ditanggung pemkab. “’Kami berharap pihak puskesmas bisa membujuk Nurhasanah untuk kembali ke sini agar penyakitnya bisa diketahui dan diobati lebih dini,” sarannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *