Demi Anak, Rela Bangun Ruang Kelas

Jasa SEO Terbaik – Yang penting bisa bersekolah, apalagi di sekolah negeri menjadi salah satu harapan para orangtua SEOhandal. Namun, terbatasnya ruang kelas di sekolah negeri, membuat sebagian orangtua harus menyekolahkan anaknya di sekolah swasta.

Seolah menjadi acuan dalam hal prestasi dan biaya murah para orangtua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah negeri. Terbatasnya ruang kelas di sekolah negeri pun tidak menjadi alangan berarti bagi sebagian orangtua siswa.

Di Lombok Timur, misalnya. Bagi para orangtua siswa yang anaknya tidak lulus dalam seleksi awal untuk masuk sekolah negeri, mereka rela dan sepakat membangun kelas kemitraan, asal anaknya bisa menuntut ilmu di sekolah negeri. Jumlah sekolah yang telah disetujui untuk membuka kelas kemitraan adalah SMA 1 Terara, SMA 1 Sikur, SMA 1 Aikmel, dan SMA 1 Masbagik.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Lombok Timur HM Suruji mengakui bahwa pihaknya telah memberikan izin kepada beberapa sekolah untuk membangun kelas kemitraan.
Suruji mengakui bahwa Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga hanya merespons hal itu karena yang meminta untuk menambah ruang kelas ini adalah para orangtua siswa. “Kalau yang meminta pihak sekolah tanpa adanya permintaan dari masyarakat, mungkin tidak kita restui. Tapi karena yang meminta orangtua langsung, maka langsung direspons,” katanya.

Menurut Suruji, ada salah satu SMA yang awalnya menerima enam kelas, tetapi masih banyak masyarakat yang ingin masuk di sekolah tersebut. Karena itu, orangtua siswa rela membangun kelas tambahan secara swadaya dengan harapan yang sebelumnya tidak bisa tertampung, sekarang mereka bisa ditampung. Dan yang bangun kelas itu adalah masyarakat sendiri, sekolah tinggal terima jadi.

Peran orangtua sangat penting. Di Kabupaten Sumbawa, ada orangtua yang menghibahkan 700 meter tanahnya agar bisa dibangun ruang kelas yang rencananya akan dibangun tahun depan. Maklum, saat itu Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Abata terpaksa menggunakan garasi untuk tempat belajar-mengajar. PAUD yang dibuka tahun 2007 itu awalnya hanya memiliki tujuh orang siswa. Di tengah perjalanan, dua orang siswa tidak ikut belajar lantaran orangtuanya belum yakin karena anaknya harus belajar di garasi. Dari lima orang siswa yang aktif itu pun hanya dua orang saja yang membayar dengan sukarela. Pada tahun itu, tenaga pengajar bekerja sukarela, tanpa memikirkan berapa gajinya. Sekolah hanya mengontrakkan rumah dan makan.

Tahun 2008 dan 2009, sekolah ini baru memungut iuran bulanan Rp 75 ribu. Guru-guru baru juga mulai direkrut karena ada guru juga yang sudah pindah mengajar. Hari berganti hari, meski masih menggunakan garasi para orangtua sudah mulai percaya. Sekolah pun membuat program subsidi silang yang digunakan untuk pembiayaan, yakni orangtua yang mampu memberikan biaya Rp 125 ribu, ada yang Rp 150 ribu, ada juga yang bayar Rp 175 ribu. Untuk jam belajarnya Senin–Jumat dari pukul 08.00-12.00 untuk usia TK. Sedangkan kelompok bermain mereka hanya sampai pukul 11.00.

Orangtua secara swadaya membangun ruang kelas baru, bisa saja diterapkan di daerah lain di NTB ini. Memang, ada aturan, misalnya di Kota Mataram dengan terbitnya Peraturan Walikota (Perwal) No 5 Tahun 2011 tentang Prosedur dan Mekanisme Pengelolaan Sumbangan Pendidikan yang tidak diperbolehkannya sumbangan pendidikan itu dipakai untuk membangun ruang kelas baru. Tapi kalau para orangtua sepakat dan rela seperti di Lombok Timur dan Sumbawa, mungkin saja hal itu bisa dilakukan. Seperti kata Suruji, yang meminta adalah masyarakat makanya langsung direspons.
Kan orangtua berharap sekolah yang dipilih akan mampu menjadi tempat mengembangkan kemampuan anak secara optimal. Banyak ahli yang mengingatkan tentang pentingnya aspek visi dan misi pendidikan yang disandang suatu sekolah. Sekolah yang memiliki kualitas baik tentu saja memiliki visi dan misi yang jelas, terukur, dan realistis.

Pernyataan visi dan misi ini dapat dipotret dari beberapa aspek, antara lain aspek keagamaan, akademis, mental, perilaku, kecakapan hidup, kemandirian dan kewirausahaan. Orangtua saat ini masih memandang aspek akademis menjadi pertimbangan pertama dalam memilih sekolah. Maka, tidak heran jika banyak orangtua yang rela melakukan apa saja untuk mendapatkan sekolah dengan prestasi akademik tinggi. Oleh sebab itu, orangtua seharusnya tidak lagi terjebak pada istilah-istilah sekolah favorit, unggulan, plus, dan lain-lain. Sebab, yang dikembangkan hanya pada aspek kognitif saja atau academic minded. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menggali, mengembangkan, dan mengoptimalkan seluruh potensi (kecerdasan majemuk) peserta didiknya.

Orangtua juga perlu melihat jarak sekolah ke rumah, lingkungan sekitar, dan sarana transportasinya. Bisa dibayangkan seorang anak harus bangun pagi-pagi sekali karena letak sekolahnya jauh. Tentu ia pulang dalam keadaan lelah karena jarak yang ditempuhnya memakan waktu yang lama. Belum lagi jika terjadi kemacetan lalu lintas, bisa dimungkinkan sering terlambat pulang maupun masuk sekolahnya.
Lalu kapan ia bisa belajar di rumah dengan nyaman? Bagaimana ia bisa mengembangkan interaksi dengan anggota keluarga lain di rumahnya? Maka, faktor lokasi dan lingkungan ini hendaknya diperhatikan oleh orangtua dan anak itu sendiri dalam menentukan sekolah pilihannya. Perlu dipikirkan juga mengenai sekolah yang berlokasi di pusat perkotaan atau keramaian dan yang berada di pinggiran atau lebih dekat dengan suasana alam, semua memiliki plus-minusnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *