Universitas Mataram Sediakan 3.700 Kursi Mahasiswa Baru

Tahun ini, Universitas Mataram (Unram) menyiapkan 3.700 jatah kursi untuk mahasiswa baru yang akan disaring melalui tiga jalur, yakni jalur undangan, seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN), dan jalur tes mandiri.

Ketua Panitia Lokal (Panlok) wilayah 46 SMPTN Sapata Wira Karyadi menjelaskan, untuk jalur undangan, Unram sudah menerima 383 dari 3.038 jumlah pendaftar melalui tes yang dilakukan belum lama ini.

Selanjutnya Unram juga akan melakukan seleksi masuk melalui jalur tes tulis SMPTN. Akan ada jatah kursi sebanyak 2.700 yang telah disiapkan.

“Pendaftaran secara online sudah kita buka sejak 10 hingga 25 Mei, sementara tes tulis SMPTN akan digelar selama dua hari, 31 Mei dan 1 Juni,” kata Sapta Wira. Untuk pelaksanaan tes tulis SMPTN, Panlok akan menyiapkan 19 lokal gedung ujian, 424 ruang yang tersebar di 55 lokasi di Kota Mataram. Panlok juga akan menggunakan sarana dan gedung-gedung sekolah, kampus PTS, dan beberapa lokal gedung kampus di seputaran Unram sendiri.

Dia memperkirakan, lonjakan jumlah pendaftar online akan terjadi pada hari terakhir pendaftaran. Hal ini dikhawatirkan akan berdampak terganggunya server online yang berakibat pada terjadinya gangguan dalam akses pendaftaran.

“Untuk itu kita imbau kepada seluruh calon pendaftar agar tidak berbondong-bondong mendaftarkan diri pada hari terakhir,” ujarnya.

Jalur berikutnya yang disiapkan Unram adalah jalur tes mandiri. Kuota untuk jalur ini akan disiapkan sekitar 30 hingga 40 persen dari jumlah jatah kursi mahasiswa reguler. Untuk menjaga objektivitas seleksi mahasiswa baru melalui tiga jalur tersebut, Panlok akan berupaya mengantisipasi adanya praktik calo, joki maupun titipan yang dilakukan oleh oknum tertentu.

Diakui praktik-praktik seperti bukan tidak mungkin terjadi mengingat masuk PTN menyangkut keinginan banyak orang. “Terlalu banyak yang berkepentingan, banyak yang ingin masuk PTN,” ujarnya.

Pengamanan naskah soal SMPTN dilakukan dengan penjagaan yang ketat, bahkan lebih ketat dari naskah soal UN. Pengamanan ekstra ketat itu melibatkan aparat kepolisian dari percetakan naskah soal hingga pendistribusian ke masing-masing wilayah penyelenggara SMPTN.

Jalur Belakang di RSBI

Kadung disematkan sebagai sekolah unggulan di mata masyarakat, penerimaan siswa baru pada rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) justru rawan terhadap penitipan siswa yang dilakukan kalangan tertentu.

Adanya titipan sepertinya sudah menjadi budaya pada penerimaan siswa baru melalui jalur RSBI setiap tahunnya. Sekolah sendiri mengaku cukup sulit untuk menolak dan mencegah adanya permintaan jalur belakang ini. Padahal, jalur titipan ini jelas-jelas bisa merugikan siswa lainnya yang mungkin lebih berhak untuk untuk masuk didaftar entri atau daftar tunggu siswa RSBI.

Masyarakat yang dianggap mampu secara finansial berbondong-bondong menyekolahkan
putra-putri mereka di sekolah berlabel RSBI. Namun, bagi lapisan masyarakat yang merasa memiliki akses dan jalur “mulus” karena adanya kedekatan dengan oknum tertentu yang kerap memanfaatkan posisi mereka untuk menitipkan putra-putrinya agar bisa diterima di RSBI. Hal ini karena untuk masuk di RSBI tidak semudah untuk masuk di sekolah reguler umumnya. RSBI pun harus memliki kualitas, fasilitas, tenaga pengajar, akses bagi anak pintar tetapi tidak mampu secara ekonomi, dan kemampuan sekolah dalam menghasilkan peserta didik yang mampu menjadi juara.

“Sulit memang kita tolak adanya hal-hal seperti itu (titipan),” ujar seorang staf Humas di salah satu RSBI di Kota Mataram.

Senada juga diakui langsung oleh salah seorang kepala sekolah salah satu RSBI di Kota Mataram. Dia mengatakan bahwa jalur titipan itu membuat sekolah dilematis karena jika diterima maka akan jelas-jelas merugikan calon siswa lainnya, sementara jika tidak akan memengaruhi hal yang tidak teknis karena sudah diminta oleh oknum pejabat tertentu.
Kabarnya, untuk tahun ini, titip menitip coba dihindarkan dan diupayakan untuk ditiadakan meski mungkin saja sulit. Artinya, penerimaan siswa baru RSBI benar-benar dilaksanakan sesuai dengan aturan yang ada.

“Tidak seperti tahun lalu, berkas siswa titipan sampai menumpuk, kita jadi cukup kewalahan,” keluhnya.

Ketua Komite Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kota Mataram H Kutjip Anwar mengakui adanya titipan bukan tidak mungkin dilakukan, bila hal itu diminta langsung oleh walikota. Tapi, sampai saat ini dan pada tahun-tahun sebelumnya, hal itu tidak pernah dilakukan oleh walikota yang menjabat. Ia merasa yakin walikota saat ini juga tetap akan berkomitmen untuk memberikan contoh yang baik bagi pejabat lainnya.

Sebagai Kepala SMAN 1 Mataram yang juga salah satu RSBI, Kutjip Anwar mengaku menjamin penerimaan siswa baru RSBI di SMAN 1 dilakukan tanpa menerima siswa titipan. Sebab, dia menganggap hal itu bisa merusak sistem dan nama baik RSBI sebagai sekolah unggulan. “Masyarakat bisa marah jika kita menerima titipan,” katanya.

Di SMAN 1 Mataram saja, calon siswa RSBI yang sudah terdaftar dan tersaring secara online hingga ditutupnya pendaftaran Selasa (10/5) mencapai 551 calon siswa yang memenuhi syarat awal pendaftaran atau syarat administrasi. Jumlah ini tersaring dari total 2.699 pendaftar online dari seluruh daerah di NTB.

Sekolah akan melakukan verifikasi terhadap calon siswa yang dinyatakan lulus
syarat administrasi. Selanjutnya sekolah akan mengambil sebanyak 230 siswa untuk tujuh kelas RSBI ditambah satu kelas akselarasi. “Daya tamping kita tahun ini 230 siswa untuk delapan kelas RSBI dan kelas akselarasi,” ujar Kutjip Anwar.

Prestasi dan kemampuan akademis calon siswa harusnya menjadi prioritas utama, begitu pula dengan kredibilitas sekolah. Karena itu, sekolah harus melarang menerima siswa titipan dari siapapun atau tidak memaksakan diri memasukkan putra-putrinya ke RSBI apabila tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan. Sekolah harus memiliki komitmen untuk memberlakukan transparansi mekanisme proses penerimaan siswa.

Ada fenomena yang kerap terjadi di tengah masyarakat. Fenomena itu adalah orangtua yang mendadak peduli pada masa depan pendidikan anaknya dan merasa percaya diri anaknya pandai sehingga merasa aneh tak diterima di sekolah favorit atau unggulan. Padahal, selain harus melalui berbagai tes masuk, persyaratan awal untuk mendaftar di RSBI juga terbilang cukup berat. Misalnya, nilai rapor yang harus di atas rata-rata tujuh setengah. Artinya, ada persaingan cukup ketat dari setiap calon siswa, sementara di sisi lain jumlah daya tampung setiap RSBI yang sangat terbatas.

Pemerintah sendiri sudah menghentikan pemberian izin baru RSBI mulai tahun ini. Kini, pemerintah mengevaluasi 1.329 SD, SMP, dan SMA/SMK berstatus RSBI yang izinnya diberikan pada 2006-2010. Pemerintah juga sedang menyiapkan aturan baru soal standar RSBI/SBI di Indonesia. Dari kajian sementara, pendanaan RSBI sebagian besar ditanggung orangtua dan pemerintah pusat. Dukungan pendanaan dari pemerintah daerah justru minim.

RSBI pun sebagian besar siswanya dari kalangan kaya. Ini disebabkan biaya masuk untuk SMP dan SMA RSBI yang relatif mahal. Di sisi lain, alokasi 20 persen untuk siswa miskin yang mendapat beasiswa juga tidak dipenuhi RSBI. Dari kajian sementara juga terungkap, dana yang dimiliki RSBI sekitar 50 persennya dialokasikan untuk sarana dan prasarana, sekitar 20 persen untuk pengembangan dan kesejahteraan guru, serta manajemen sekolah berkisar 10 persen.

Di sisi lain, kemampuan bahasa Inggris guru juga masih belum memadai. Kajian pada tahun 2008, sekitar 50 persen guru di RSBI ada di level novice (10-250). Sementara untuk guru Matematika dan Sains kemampuan di level terendah notice dan elementary. Hanya kemampuan guru pengajar bahasa Inggris di RSBI yang memenuhi syarat di level intermediate ke atas. Kemampuan bahasa Inggris kepala sekolah RSBI sekitar 51 persen berada di level terendah.

Hal paling pokok perlu diperhatikan pemerintah adalah tatanan peraturan dan landasan berpikir untuk menjalankan program RSBI yang memang belum kokoh. Sampai saat ini, permasalahan RSBI masih memperdebat soal penggunaan bahasa Inggris dan hal-hal teknis.

Sosialisasi Narkoba Untuk Pelajar

POLRES Mataram tampaknya tidak ingin kecolongan lagi soal penyalahgunaan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) yang melibatkan pelajar di wilayah hukumnya. Di Madrasah Aliyah Negeri 2 Mataram, Satuan Narkoba Polres Mataram langsung melakukan bimbingan dan penyuluhan tentang bahaya pemakaian narkoba.

Program sosialisasi untuk para siswa itu, disambut baik pihak sekolah. Bahkan sepanjang sosialisasi berlangsung, para siswa terlihat antusias mendengarkan ceramah yang diberikan Kanit Binluh Satuan Narkoba Polres Mataram, Iptu Safieyono. Saat tanya jawab pun, para siswa tersebut begitu antusias bertanya tentang segala hal menyangkut barang terlarang itu.

Dalam kesempatan itu, Safieyono menjelaskan soal trend peredaran narkoba belakangan ini yang mulai menyasar anak-anak baru gede. Termasuk soal tempat-tempat beredarnya narkoba, seperti kos-kosan dan tempat-tempat nongkrong anak muda.

Soal hukuman bagi mereka yang terlibat penyalahgunaan narkoba juga dipaparkan dalam sosialisasi tersebut. Munculnya undang-undang baru, yakni UU Nomor 35 tahun 2009, diharapkan memberikan efek jera bagi mereka yang berani menyentuh barang terlarang itu. Sebab undang-undang baru itu memberikan hukuman berat, minimal penjara empat tahun bagi pelakunya.

Oleh karena itu, Safieyono menekankan kepada para siswa agar menjauhi narkoba. Sebab, selain bisa menjerumuskan dalam hal ketagihan, narkoba itu juga merusak masa depan. ‘’Fokuskan diri untuk belajar. Jangan pernah tergoda dan dirayu untuk memakai narkoba,’’ imbuhnya.

Hadapi UN, Siswa SMPN 13 Mataram Gelar Doa Bersama

Ratusan siswa kelas IX SMP Negeri 13 Mataram menggelar istighosah dalam rangka mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) yang akan dilaksanakan tanggal 23-26 April 2012. Doa bersama ratusan siswa SMP Negeri 13 Mataram pada Sabtu pagi (24/03) dipimpin langsung TGH. Zuaini Adnan dari Pesongoran, Pagutan Kota Mataram Ratusan siswa kelas IX SMP Negeri 13 Mataram tampak khusu’ untuk mempersiapkan diri menghadapi UN dengan persiapan spiritual.

Istighosah diawali dengan membaca Alquran, zikir, ceramah member motivasi kepada siswa untuk tekun belajar serta tetap dibarengi dengan berdoa memohon pertolongan Allah SWT dan selanjutnya diakhiri dengandoa bersama dengan seluruh guru dan siswa yang ada di SMP Negeri 13 Mataram.

Kepala SMP Negeri 13 Mataram, Dodik Satriyo Wibowo mengatakan, pelaksanaan istighosah bagi siswa bertujuan untuk mempersiapkan mental siswa dalam menghadapi UN terutama dari sisi spiritual, sehingga siswa semakin fokus untuk belajar dan mendapatkan kuantitas dan kualitas lulusan yang lebih baik dari tahun sebelumnya pada Ujian NAsional (UN) tahun 2012 mendatang yang dilaksanakan dari tanggal 23-26 April 2012.

“Melalui istighosah ini kita memohon dan berdoa kepada Allah SWT agar siswa diberikan kemudahan dalam menghadapi UN dan tentunya semakin belajar sebelum UN digelar,” kata Dodik di Mataram, Sabtu (24/03). Jumlah siswa SMP Negeri 13 Mataram yang tercatat sebagai peserta definitip Ujian Nasional (UN) tahun 2012 sebanyak 371 siswa. Dodik optimis seluruh siswanya akan sukses mengikuti UN dengan meraih kelulusan 100 persen seperti halnya hasil UN tahun 2011 lalu dengan memperoleh nilai rata-rata siswa 3,8 untuk semua bidang mata pelajaran yang diujikan pada UN.

Pasalnya, berbagai persiapan sudah dilakukan pihak sekolah dalam rangka menyiapkan siswa menghadapi Ujian Sekolah (US) yang akan dilaksanakan mulai dari tanggal 26-31 Maret 2012 dan termasuk juga UN. Bahkan SMP Negeri 13 Mataram dalam mempersipakan siswa kelas IX menghadapi US dan US telah melaksanakan try out ‘uji coba’ sebanyak enam kali baik itu dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Mataram, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) dan try out secara mandiri oleh SMP Negeri 13 Mataram.

“Kita berharap hasil UN tahun ini bisa lebih baik dari tahun lalu, atau minimal sama prosentasenya dengan tahun 2011 lalu” harapnya.