Info Wisata Kastil Di Negara Prancis

Apakah Anda benar-benar mengeklik judul clickbaity itu? Ayolah! Sangat? Saya kira headline cheesy ini berhasil! Mungkin saya harus judul semua posting saya seperti Buzzfeed? Ha ha, tidak, aku hanya bercanda. Aku tidak akan melakukan itu. Itu hanya mengerikan. Saya hanya ingin melihat apa yang terjadi jika saya melakukannya. Tapi, serius, mari kita bicara châteaux (rumah besar atau istana, jamak dari château). Pada bulan Juni, saya pergi ke Prancis untuk ulang tahun saya untuk menjelajahi Lembah Loire yang terkenal, dengan perbukitannya, perkebunan anggur yang indah, sungai yang luas, dan istana megah. Continue reading

Menikmati SOLO City Walk

Saat ini jika anda berkesempatan singgah di Solo, ada satu lagi obyek yang sungguh sayang kalau dilewatkan. Bukan sesuatu yang baru ada sebetulnya, tapi lebih merupakan hasil penataan ulang yang cukup mengagumkan. Kawasan itu bernama City Walk, sebuah jalur pedestrian yang terbentang hampir sepanjang 7 kilometer pada jalan utama di kota itu, yakni Jalan Slamet Riyadi, yang secara tidak sengaja saya kunjungi beberapa waktu lalu. Continue reading

Jangan Dongkol ke Pengantin Nyongkol

Hampir saban bulan ada saja pawai pengantar pengantin Lombok yang melintas di jalan umum. Malah kalau sedang bulan kawin, yakni setelah lebaran atau usai musim panen, konvoi adat itu bisa ditemui saban pekan. Di hampir semua jalan raya sekitar permukiman warga.

Hari Minggu pekan lalu, sekelompok pengantin nyongkol membuat macet hampir satu jam jalan umum menuju Senggigi. Banyak yang mendongkol, tapi wisatawan asing yang ikut melintas di jalan itu terlihat fine-fine saja. Mungkin karena mereka jarang melihat atraksi itu. Beda dengan warga yang tinggal di Lombok, sajian wisata itu sudah jadi pemandangan biasa.

Tapi benarkah terlalu biasa? Tidak, kalau meluangkan waktu buat menikmati atraksi ini. Di iring-iringan penganten Lombok selalu ada kelompok yang membunyikan tabuhan ikut berparade. Kalau bukan gendang beleq, ya kecimol.

Nah, gendang beleq sebenarnya adalah sebuah tarian. Sebab penabuh alat musik ini juga adalah penari. Mereka menabuh sambil menari, dengan dua penari utama yang juga menabuh gendang beleq (beleq = besar) dan beberapa lagi menabuh petuk dan pemain copeh.

Petuk adalah sebuah gong kecil yang beralas kerangka dari kayu yang dikalungkan, sedangkan copeh yaitu instrumen musik yang berbentuk ceng-ceng kecil yang dipegang dengan tangan kiri dan kanan.

Dahulu, Tari Gendang Beleq berfungsi sebagai tari pengiring para ksatria yang akan maju ke medan perang atau menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Walaupun tidak ada gerak yang menunjukkan perkelahian dan tidak ada pula yang membawa senjata perang, gerak tari yang diperagakan selalu menunjukkan watak maskulin.

Meskipun gendang ini besar dan berat, tetapi kedua penari yang membawa gendang beleq dapat menari dan bergerak dengan lincah. Karena sifatnya yang atraktif, tari gendang beleq ini sering kali diadakan untuk mengiringi arak-arakan pengantin atau arak-arakan anak yang akan dikhitan, dan untuk penyambutan tamu penting.

Kalau kecimol lebih asyik lagi karena rombongan musik ini benar-benar menghibur. Menyaksikan mereka yang larut oleh entakan musik membuat penontonnya ikut tenggelam mengikuti irama tetabuhan.

Dulu, kecimol; yang merupakan kombinasi gendang beleq, organ dan suara seruling, pernah sangat populer di masyarakat Sasak walau kesan para pendengar langsung berubah dari menyaksikan pertunjukan musik tradisional menjadi pertunjukan musik daerah yang didangdutkan. Belum lagi kalau mendengarkan lagu penyanyinya yang mengambil lagu dangdut populer.

Sebelum kecimol, ada cilokaq. Berbeda dengan kecimol, cilokaq berusaha mempertahankan ketradisionalan musiknya, walau lagu yang diiringi (yang masih berbahasa Sasak) merupakan ciptaan musisi sekarang.

Legenda Rasa Soto Si Tjang

Berawal dari rasa penasaran pada cerita seorang sahabat yang tinggal di Ampenan tentang warung soto di emperan gudang tua dekat depo Pertamina, sebelum pintu gerbang bekas Pelabuhan Ampenan. Rasa penasaran itu semakin bertambah ketika dua kali saya datang ke warung itu hanya menjumpai tiga orang perempuan sedang bersih-bersih mangkuk, gelas, dan peralatan lainnya. Setiap saya bertanya jawabnya selalu “ habis pak..” Luar biasa, pikir saya.

Memang sahabat tadi sudah wanti-wanti supaya jangan melewati jam sepuluh kalau mau menikmatinya. Ternyata tidak main-main, dua kali saya datang bahkan masih beberapa menit menjelang jam sepuluh, sudah hampir tutup warung itu. Baru pada Hari Minggu kemarin terjawablah rasa penasaran itu.

Sepulang dari mengantar istri ke Bandara Selaparang karena harus ke luar daerah untuk satu urusan, dengan mengabaikan godaan berbagai pilihan menu makan pagi yang tergelar di seantero taman Jalan Udayana, langsung saya arahkan sepeda motor ke Ampenan. “Kali ini pasti nggak terlambat lagi” pikir saya sambil melihat jarum jam di tangan yang menunjukkan pukul 07.30 . Sebagaimana saya duga , sampai di warung yang bisa dikategorikan kaki lima itu tengah ramai dengan pembeli. Terlihat kontras sekali di pandangan mata saya deretan beberapa mobil jenis terbaru yang masih kinclong terparkir di situ, sementara pemiliknya tengah menikmati sarapan paginya pada sebuah warung kaki lima di emperan bangunan sebuah gudang tua, dengan penutup kain gorden hampir lusuh pada beberapa bagiannya supaya para penikmat yang sedang menyantap tidak terlihat terlalu mencolok dari jalan raya di depannya. Namun begitulah bila rasa telah memikat hati… ( kok jadi kayak puisi cinta…)

Saya pun masuk dan memesan satu mangkuk sotonya. Ada delapan orang yang tengah bersantap di situ, yang duduk berderet pada 2 meja dan bangku panjang yang tersedia. Enam orang di antaranya adalah saudara – saudara Tionghoa kita yang ditilik dari pakaiannya nampak baru selesai berolahraga pagi. Selain sambal dan kecap, nampak tersedia di atas meja beberapa toples berisi kerupuk kulit, kerupuk udang, air minum kemasan, irisan jeruk limau dalam piring – piring kecil, dan juga agar – agar warna coklat dalam gelas kecil yang biasa terdapat pada warung – warung makan di sekitar Kota Mataram. Tidak berapa lama kemudian terhidang di depan saya semangkuk soto yang saya pesan, dengan kuah berwarna kecoklatan yang menandakan bahwa ini adalah soto racikan asli Lombok. Berbeda dengan soto Madura yang kuahnya cenderung berwarna kuning atau soto betawi yang kuahnya cenderung putih karena dicampur santan atau susu. Kemudian kekhasan lain yang ada adalah digunakannya sawi hijau sebagai sayurannya, bukan daun bawang atau daun seledri, dan butir – butir kacang bawang yang menemani bawang goreng sebagai toping-nya. Tetapi di sini tidak saya temukan srundeng kelapa yang biasa digunakan sebagai campuran kuah pada beberapa warung soto asli Lombok lainnya, dan yang lebih membedakan lagi adalah sebutir telur ayam utuh tidak dipotong-potong.

Mulailah saya menikmati warisan rasa spesial itu sambil mencoba berbincang dengan Ibu Aminah, perempuan berusian 50 tahunan yang baru saja menghidangkan sotonya untuk saya nikmati. Kenapa saya sebut warisan, karena ketika saya tanya sudah berapa lama berjualan perempuan itu menjelaskan “.. sudah lama sekali pak. Awalnya bapak saya dulu yang mulai berjualan tahun 50-an di depan Kantor Pos Ampenan. Bapak saya almarhum mualaf turunan tionghoa panggilannya Tjang, makanya orang – orang itu nyebutnya soto si Tjang.” Berarti warung ini sudah bertahan beberapa puluh tahun, dan sekarang penjual ini adalah generasi kedua yang mewarisi bumbu dan resep dari orang tuanya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. “ Wah.. mestinya ibu pasang papan nama yang besar di depan itu bu..” kata saya. Penjual itu hanya tersenyum.

Sambil meracik soto untuk pembeli yang keluar masuk bergantian, Bu Aminah meneruskan obrolan dengan saya. “ … Alhamdulillah Pak, ini warisan yang paling berarti dari Bapak saya. Dengan warung ini saya menghidupi keluarga dan membesarkan anak-anak saya, apalagi setelah suami saya meninggal . “

Dengan 5 ekor ayam kampung dewasa yang dipotong setiap harinya, sejak buka jam 6 sampai sekitar jam 10 pagi rata – rata 100 mangkuk soto dapat dihabiskan oleh para penggemar fanatiknya. Dengan harga Rp 12.000,- per mangkuk untuk ukuran warung kaki lima memang tidak bisa dibilang murah, tapi dengan kekuatan rasa yang ada memang tidak masalah bagi para penggemarnya. Dan menilik kendaraan yang terparkir di depannya memang nampak bahwa sebagian besar pelanggan warung soto ini adalah kalangan menengah ke atas. Seperti Galuh misalnya, perempuan setengah baya dari Lingkungan Pejarakan Ampenan dengan profesi sebagai pengusaha yang sempat berbincang dengan saya pagi itu mengatakan bahwa dia sudah menjadi pelanggan soto ini sejak belasan tahun lalu ketika orang tua Bu Aminah yang bernama lengkap Ong Sik Tjang itu masih hidup dan warung jualannya terletak di salah satu sudut simpang lima ke arah pelabuhan tua Ampenan . Dalam sebulan paling tidak lima kali dia menyantap soto Si Tjang yang sedap ini. Bahkan tidak jarang untuk konsumsi pertemuan atau hajatan dia memesan khusus dari Bu Aminah untuk hidangan tamu-tamunya. “ Soal harga menurut saya tidak terlalu mahal untuk soto lezat yang melegenda seperti ini. Seimbang dengan kenikmatan yang kita rasakan” jawabnya ketika saya tanyakan soal harga.

Tidak terasa satu mangkuk soto sudah saya habiskan. Cukup kenyang untuk ukuran sebuah makan pagi, dan kenikmatan yang tertinggal di lidah rasanya mengikat saya untuk suatu saat datang lagi menikmati sensasi hidangan sarapan pagi di antara bangunan – bangunan tua yang kusam tapi masih kokoh berdiri. Ketika teringat adanya wacana revitalisasi kawasan kota tua ini sebagai tujuan wisata, saya berdoa semoga Bu Aminah dengan warung peninggalan orang tuanya itu tidak tergusur, tapi justru semakin memperoleh ruang yang lebih baik, karena sesungguhnya dia, Pak Tjang orang tuanya, dan para pelanggan setia sotonya pun merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Ampenan sebagai sebuah kota tua yang masih bertahan hingga saat ini.

FIPOB Pendorong VLS 2012

Fraksi Partai Golkar (FPG) menilai Festival Internasional Pemuda dan Olahraga Bahari (FIPOB) di Pantai Kuta, Lombok Tengah pada 11 Juli mendatang dapat mendongrak program Visit Lombok Sumbawa (VLS) 2012 yang menargetkan satu juta wisata. Rencananya, kegiatan tahunan itu akan dihadiri langsung Wakil Presiden RI Boediono.

Anggota FPG DPRD NTB Misbach Mulyadi menilai FIPOB sebagai momen yang tepat dalam mempromosikan kawasan pariwisata di NTB, khususnya Pulau Lombok.

“Melihat beberapa event yang sudah dan sedang dilaksanakan, saya optimis VLS 2012 berjalan lancar,” ujar Ketua Komisi IV DPRD NTB itu Senin (4/7).

Dirinya berharap agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bersama pemerintah kabupaten/kota melaksanakan koordinasi guna membuat format dalam memajukan pariwisata di NTB.

Format yang dimaksud yaitu menyiapkan tim lobi untuk melaksanakan event-event berskala nasional dan internasional yang dilaksanakan di NTB. “Jadi, kita harap event-event nasional dan internasional dilaksanakan di daerah kita,” ujarnya.

Balai Pusaka Sebaya Tanta Segera Diresmikan

14 Juli, bangunan Balai Pusaka Sebaya Tanta (BPST) di Gubug Adat Karang Bajo, Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara akan diresmikan. Masyarakat adat di sana sangat berharap agar Gubernur NTB KH M Zainul Majdi dapat meresmikan gedung tersebut.

”Balai Pusaka Sebaya Tanta akan dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda Lombok Utara. Karena itu, masyarakat adat sangat mengharapkan kehadiran gubernur untuk meresmikan pembangunan gedung tersebut,” kata Kertamalip, Kepala Desa Karang Bajo saat menghadiri pertemuan yang dihadiri puluhan tokoh adat dari beberapa desa di Kecamatan Bayan untuk membahas persiapan peresmian dan melengkapi kepengurusan Lembaga Pranata Adat (LPA) di Balai Sebaya Tanta.

Ketua LPA, Rianom memaparkan bahwa dana pembangunan BPST ini langsung dari pusat melalui Litbang PU Denpasar Bali dengan menggunakan konstruksi bangunan dari limbah batu apung.

Untuk tahap awal, ada beberapa bangunan yang sudah selesai, yaitu berugak saka enam, balai pertemuan, dan sekretariat yang sekaligus sebagai tempat penginapan.
Menurut Ketua BPD Karang Bajo itu, BPST dihajatkan sebagai tempat pertemuan dan pendidikan serta pelatihan bagi generasi muda KLU.

Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kamardi menjelaskan arti Pusaka Sebaya Tanta, yaitu Pusaka merupakan sebuah singkatan dari Pusat Keberdayaan Warga. Sebaya artinya sepakat atau kebersamaan, dan Tanta adalah cara.

“Jadi, BPST adalah sebagai balai pusat keberdayaan warga untuk bersama-sama memajukan masyarakat adat dengan cara dan persepsi yang sama,” katanya.