Wali Murid Segel Sekolah

Jasa SEO Terbaik – Para wali murid melakukan tindakan itu lantaran uang tersebut sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak mereka di saat tahun pelajaran baru. Diperkirakan jumlah tabungan siswa dari kelas I sampai kelas VI mencapai Rp 153 juta. Continue reading

Polisi Dibunuh, Cari Akar Masalah

Jasa SEO Terbaik – Komisi I berencana duduk bersama dengan Kapolda NTB, Muspida dan Kesbangpoldagri terkait tewasnya salah satu aparat kepolisian di Kabupaten Bima oleh oknum masyarakat yang diduga aparat sebagai Islam garis keras. Ketua Komisi I DPRD NTB Ali Achmad menegaskan, pembunuhan aparat kepolisian oleh oknum masyarakat setempat tidak bisa dikait-kait dengan Islam garis keras karena persoalan yang ada memang seringkali terjadi. Continue reading

Asrama Mahasiswa Sumbawa Terbakar, Labfor Turun Tangan

Dua orang anggota Tim Labfor Bali mendatangi Asrama Mahasiswa Sumbawa di Jalan Prasarana No 10, Dasan Agung Baru, Kota Mataram pascaterjadinya kebakaran. Olah TKP yang dibantu oleh anggota identifikasi Reskrim Polres Mataram tersebut berlangsung sejak pukul 10.00 Wita. Dalam Olah TKP tersebut terlihat ada beberapa bungkusan berisikan barang yang diambil dari dalam asrama yang terbakar.

Kapolres Mataram melalui Kasat Reskrim AKP Gunarko mengatakan bahwa olah TKP dilakukan untuk mengetahui apa penyebab kebakaran Asrama Mahasiswa Sumbawa.
Adapun yang diambil di TKP berupa arang, debu, dan beberapa barang yang dianggap bisa memberikan petunjuk untuk mengetahui penyabab kebakaran.

Asrama Mahasiswa Sumbawa terbakar Minggu (17/7) dinihari sekitar pukul 02.30 Wita. Saat terjadinya kebakaran, asrama dalam keadaan tidak berpenghuni karena telah ditinggalkan oleh para mahasiswa yang selama ini tinggal di tempat tersebut beberapa hari sebelumnya. Tidak itu saja aliran listrik di tempat tersebut telah diputus sejak tiga bulan lalu.

Curi Laptop, Pegawai Honor Dicokok Polisi

Ketahuan mencuri komputer jinjing, Fat (30), seorang pegawai honor di Pemadam Kebakaran Kota Mataram dicokok polisi, Senin (18/7). Warga Dasan Agung, Kota Mataram itu ditangkap setelah mencuri komputer jinjing di sebuah rumah kontrakan di Jalan Catur Warga, Gang Pancaka 1, Karang Medain, Kota Mataram.

Aksi bapak satu anak ini terungkap ketika sedang berusaha membawa kabur hasil kejahatannya berupa dua unit komputer jinjing. Dia dipergoki oleh pemilik kontrakan yang berteriak maling dan mengundang perhatian warga. Fat pun sempat dihakimi hingga lebam.

Kapolres Mataram melalui Kapolsek Mataram Kompol Yunus Junaidi menjelaskan bahwa dalam menjalankan aksinya, pelaku masuk ke dalam rumah dengan terlebih dahulu menjebol jendela kemudian masuk dan menyisir satu persatu kamar yang ada dalam rumah. Kini pelaku ditahan di Polsek Mataram untuk menjalani penyelidikan lebih lanjut.

Fat sendiri mengakui aksinya tersebut dilakukan karena terbelit ekonomi. Sebab, rencananya uang dari hasil kejahatannya itu akan digunakan untuk membiayai pendidikan anaknya yang baru masuk sekolah.
“Uangnya akan saya gunakan untuk beli pakaian seragam anak saya yang baru masuk SD seharga Rp 350 ribu dan ada lagi biaya Rp 200 ribu,” ujarnya ketika ditemui di Polsek Mataram.

Fat juga mengakui saat menjalankan aksinya dirinya masuk dengan mencongkel jendela saat pemilik rumah masih tertidur lelap.

Polisi Itu Akhirnya Digugat

Lalu Pasman, ayah Lalu Hidayatul Iman melalui LBH Solidaritas Mataram memilih untuk melaporkan Kapolda NTB, Direktur Narkoba Polda NTB, dan Kasubdit II Dit Narkoba Polda NTB ke Divisi Propam Polri, Kapolri, Kompolnas, Komnas HAM, dan meminta dukungan dari DPRD NTB serta Gubernur NTB atas dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat yang telah menyebabkan PNS di Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Kota Mataram itu tewas.

Menurut Penasihat Hukum keluarga korban, Irfan, dugaan pelanggaran HAM berat tersebut karena terdapat indikasi kuat bahwa selama dalam proses penanganan oleh pihak Penyidik Dit Narkoba Polda NTB, korban diperlakukan secara tidak manusiawi dan adanya dugaan tindak kekerasan terhadap korban. Hal itu terlihat dari kondisi korban saat jenazahnya dimandikan oleh pihak keluarga keluar darah dari hidung, mulut, dan telinga korban dan beberapa tanda-tanda lebam di beberapa bagian tubuh korban serta kondisi jenazah yang tidak lazim.

Irfan juga menjelaskan, pada saat ditangkap, menurut pengakuan pihak Polda tidak terdapat barang bukti di tubuh korban dan tidak sedang melakukan transaksi narkoba. Pada saat proses pemeriksaan di Dit Narkoba Polda NTB, bahkan sampai dengan meninggalnya korban, tidak pernah dilakukan tes air seni (urine) terhadap diri korban. Padahal, tes air seni itu merupakan prosedur penanganan terhadap tersangka pengguna narkoba. Penyidik justru terus melakukan pemeriksaan (proses BAP) tanpa adanya bukti permulaan yang cukup sebagaimana syarat seseorang dapat ditetapkan sebagai tersangka dan dilakukan penangkapan (pasal 1 angka 14 dan angka 20 KUHAP).

“Sampai saat ini tidak ada hasil tes urine atas kasus ini dan bukti pendukung apapun yang dimiliki penyidik terhadap dugaan kasus penyalahgunaan narkoba yang disangkakan terhadap Lalu Hidayatul Iman,” tandas Irfan.

Tak hanya itu, Irfan mengatakan bahwa pada saat penangkapan, sampai korban tewas tidak ada Surat Perintah Penangkapan yang disampaikan kepada pihak keluarga. “Ketentuan pasal 18 ayat (1) dan ayat (3) KUHAP, terhadap tersangka yang ditangkap harus diberikan kepada pihak keluarga surat perintah penangkapan sehingga menjadi jelas tindak pidana apa yang disangkakan kepadanya, jelas pihak mana/siapa petugas yang melakukan penangkapan. Selain itu, akan menjadi jelas siapa/pihak mana yang bertanggung jawab atas proses hukum tersebut. Namun sampai saat ini tidak ada selembar surat penangkapan pun yang diberikan kepada pihak keluarga oleh pihak penyidik,” jelas Irfan.

Dalam proses pemeriksaan korban yang diduga sebagai tersangka penyalahgunaan narkoba (dapat diancam pidana penjara 15 tahun), korban/tersangka, menurut Irfan, tidak didampingi oleh penasihat hukum. Padahal, pasal 56 KUHAP mensyaratkan (wajib) adanya penasihat hukum bagi tersangka yang diancam hukuman lebih dari lima tahun yang merupakan hak asasi tersangka.

Pada hari Rabu 1 Juni 2011 lalu, Hidayatul Iman yang saat itu masih bersama keluarga berbelanja dan makan bersama di sekitar salah satu supermarket di bilangan Cakranegara sampai sekitar pukulm 17.00 Wita. Sampai dengan sekitar pukul 18.00 Wita, korban masih berkomunikasi aktif melalui telepon genggam. Namun malam itu, Hidayatul Iman tidak pulang ke rumahnya di Gerung, dan pagi hari Kamis tanggal 2 Juni 2011 sekitar pukul 06.30 Wita, pihak keluarga mendapat informasi dari aparat kepolisian NTB bahwa Hidayatul Iman telah meninggal dunia dan jenazahnya berada di Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB.

Dijelaskan Irfan, alasan yang diberikan oleh Kapolda NTB dan jajarannya menyatakan bahwa korban meninggal karena alasan medis yaitu pada saat diperiksa diduga mengalami ‘sakau’ (kondisi kekurangan obat karena biasa mengkonsumsi obat) dan kemudian diberikan air gula oleh penyidik, namun berakibat meninggalnya korban karena over dosis (kondisi kelebihan obat). “Ini justru semakin memunculkan dugaan dan menunjukkan indikasi adanya tindakan berlebihan dari penyidik yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,” tukas Irfan.

Dalam penjelasannya, saat dengar pendapat Senin (27/6) sore lalu, Kapolda NTB membeberkan kronologis tewasnya Lalu Hidayatul Iman. Dia membenarkan telah terjadi penangkapan terhadap korban yang saat itu disebut Kapolda sebagai tersangka pada hari Rabu (1/6) sekitar pukul 19.30 Wita di Jalan Hanoman, Mataram. Penangkapan itu didasarkan atas informasi adanya dugaan tindak pidana narkotika. Ada dugaan tersangka ini menjadi pemakai dan pengedar sabu-sabu di wilayah Gerung dan sekitarnya. Setelah ditangkap, tersangka digeledah. Namun, tidak ditemukan barang bukti. Meski demikian, aparat kepolisian tetap membawa tersangka ke Polda NTB untuk diinterogasi guna melengkapi bukti.

Sekitar pukul 20.15 Wita mulai diinterogasi. Di saat itu, kata Kapolda, tersangka mengaku akan membeli sabu-sabu dan transaksinya dilakukan di Jalan Hanoman. Namun, tersangka mengaku tidak mengetahui siapa orang yang menjadi penjualnya.

Di tengah proses interogasi oleh polisi atau sekitar pukul 21.30 Wita, lanjut Kapolda, korban mulai mengalami sakau. Di saat itulah korban mengakui bahwa sehari sebelum ditangkap atau hari Selasa (31/5) dia mengonsumsi sabu-sabu dan belum makan hingga proses interogasi. Sudah tidak ada konsentrasi, pertanyaan penyidik polisi pun berulang-ulang. Penyidik polisi pun menyimpulkan bahwa tersangka mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan. Sehingga dibuatkanlah air gula.

Menurut Kapolda, sekitar pukul 23.05 Wita interogasi dihentikan karena kondisi korban yang lemah. Sekitar pukul 23.25 Wita korban pun dilarikan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mataram menggunakan mobil ambulans Rumah Sakit Bhayangkara Polda NTB. Tiba di RSJ sekitar pukul 23.40 Wita dan lima menit berikutnya, tersangka tewas.

Jenazah Hidayatul Iman pun dibawa ke Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) NTB sekitar pukul 02.00 Wita, Kamis (2/6). Jenazah dibawa ke RSUP agar adanya unsur objektivitas jika pihak keluarga korban menyetujui otopsi. Sayang, saat itu (kalaupun pihak keluarga korban setuju otopsi) tidak ada dokter yang menangani lantaran hari Kamis (2/6) adalah hari libur nasional.

Kamis paginya, aparat dari Polres Mataram menghubungi pihak keluarga korban agar bisa menyetujui otopsi. Namun, pihak keluarga korban menyatakan belum mau untuk otopsi. Jenazah Hidayatul Iman pun dibawa ke rumah duka di Gerung, Lombok Barat dan dimakamkan sore harinya.

Tokoh masyarakat Gerung, H Lalu Takdir Mahdi mempertanyakan kembali penyebab tewasnya korban. ”Apakah kekurangan cairan, over dosis, ataukah karena sakau. Saya minta penjelasan yang sejelas-jelasnya dari aparat kepolisian untuk mengungkap penyebab kematian keluarga saya ini,” tukasnya.

Tokoh masyarakat Gerung yang lain, H Lalu Anggawa Nuraksi justru mencurigai adanya ”permainan” yang dilakukan oleh aparat kepolisian. ”Seolah-olah dia (korban) dijebak, orang yang tidak bersalah jadi bersalah. Kok bisa jadi TO (target operasi) polisi setahu saya dia (korban) adalah orang yang baik-baik,” tandas Anggawa Nuraksi. Menurut dia, kasus serupa juga pernah terjadi di wilayah tempat tinggalnya. Namun hingga kini tidak ada kelanjutan.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Solidaritas M Taufik Budiman bahkan menyatakan bahwa pernyataan dari aparat kepolisian adalah ngawur. Dia mengatakan hal itu lantaran penjelasan aparat kepolisian berubah-ubah. ”Ada yang bilang sakau. Ada yang bilang over dosis. Ada juga yang bilang dehidrasi yang mengakibatkan kematian korban. Keterangan-keterangan itu sangat bertolak belakang,” katanya tegas.

Taufik Budiman menyatakan bahwa keluarga korban menyetujui langkah otopsi terhadap jenazah korban yang sudah dimakamkan pada hari Kamis, 2 Juni 2011 lalu sekitar pukul 16.00 Wita.
Kepala Bidang Humas Polda NTB AKBP Sukarman Husein yang dikonfirmasi menjelaskan bahwa langkah yang diambil oleh pihak keluarga korban dan penasihat hukumnya untuk melaporkan Kapolda NTB, Direktur Narkoba Polda NTB, dan Kasubdit II Dit Narkoba Polda NTB ke Divisi Propam Polri, Kapolri, Kompolnas, dan Komnas HAM merupakan hal yang wajar.

“Langkah tersebut sah-sah saja dilakukan,” ucap perwira melati dua ketika ditemui di rungannya, Selasa (5/7) pagi. Selain itu, terkait keinginan pihak keluarga untuk melakukan otopsi terhadap korban agar bisa mengetahui penyebab kematiannya, pihak kepolisian membuka diri dan siap untuk melakukan otopsi.

“Jika tidak mau menggunakan dokter polisi, silakan menunjuk dokter lainnya. Langkah ini diperlukan agar tidak ada atau munculnya saling curiga apa sih penyebab kematian korban,” ucapnya.

Kapolda NTB, Kasubdit II Dit Narkoba, Direktur Narkoba Digugat Rp 1,8 M

Tewasnya Lalu Hidayatul Iman dinilai telah menimbulkan kerugian bagi keluarga korban, baik secara moril maupun materiil. Secara materiil, menurut Penasihat Hukum keluarga korban dari LBH Solidaritas Mataram, M Taufik Budiman, kerugian yang ditimbulkan akibat tewasnya Lalu Hidayatul Iman adalah biaya yang seharusnya diperoleh dari penghasilan korban yang meliputi biaya hidup, biaya pendidikan, dan biaya kesehatan, dan biaya lainnya bagi anak-anak korban sampai mereka dewasa/mampu hidup mandiri. Diperkirakan rata-rata sebesar Rp 24 juta per tahun/anak, selama 25 tahun, untuk tiga orang anak sehingga berjumlah Rp 1,8 miliar. Karena itu, keluarga korban mendesak agar Kapolda NTB, Kasubdit II Dit Narkoba Polda NTB, dan Direktur Narkoba Polda NTB secara bersama-sama membayar ganti kerugian kepada keluarga korban sejumlah Rp 1,8 miliar.

Dijelaskan Taufik Budiman, korban merupakan tulang punggung keluarga, suami dari Tutie Intama dan ayah dari dua orang anak: Lalu Parhan Hidayat (8 tahun) dan Baiq Ilmelsa Utami (3 tahun). Saat ini pun istri korban sedang hamil lima bulan. “Meninggalnya korban karena proses penangkapan yang tidak sesuai dengan aturan hukum menimbulkan kerugian materiil karena terhentinya penghasilan yang biasanya dihasilkan oleh korban untuk keluarga yang ditinggalkan,” tukasnya.

Sedangkan kerugian moril, lanjut Taufik Budiman, tuduhan atas penyalahgunaan narkotika telah berkembang di masyarakat, khususnya di kalangan warga Kota Mataran dan Kabupaten Lombok Barat, dan masyarakat Sasak. Hal itu telah memojokkan dan menimbulkan kesan serta citra negatif serta merusak nama baik keluarga korban. Padahal jelas korban secara hukum dapat dipastikan bukan orang yang dapat dipersalahkan melanggar UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika karena belum ada putusan hukum yang berkekuatan hukum tetap yang menyatakan korban bersalah.

“Tuduhan pengguna dan pengedar narkotika jelas adalah tuduhan yang tidak berdasarkan bukti hukum yang akurat, namun sudah telanjur tersebar luas di masyarakat. Seolah-olah korban adalah pelaku kejahatan narkotika, padahal tuduhan itu tidak didukung dan tidak berdasarkan fakta hukum,” tandasnya.