Tips Awal Membersihkan Sofa

Tips awal membersihkan Sofa Fabric dengan detergen berbasis air dan pembersih uap. Sofa cepat atau lambat akan menjadi kotor. Partikel kecil akan menyusup ke celah-celah bahan, minuman tumpah membuat noda dan bau, atau hewan piaraan yang meninggalkan bulu di permukaan perabot sofa anda. Cara awal yang sederhana untuk membersihkan sofa relatif mudah. Anda hanya membutuhkan perlengkapan kebersihan yang bersih dan bagus serta sedikit meluangkan waktu. Continue reading

Ismiadi Ditakdirkan Menjadi Perupa

Dunia seni rupa di Lombok yang terkesan tidak bergerak sebenarnya menyimpan beberapa seniman progresif. Salah satunya adalah Ismiadi. Perupa kelahiran Mataram, 9 Oktober 1969 ini merasa telah ditakdirkan menjadi perupa. Pasalnya semenjak kecil aktifitas sehari-harinya sudah lekat dengan itu. Ia gemar menggambar dan membuat kerajinan. Mungkin bakat ini diturunkan oleh kakeknya yang seorang pematung. Yang jelas, niat dan keinginannya untuk jadi perupa semakin kuat setelah pada waktu kelas 4 SD ia mengikuti lomba lukis tingkat nasional yang diadakan oleh UNESCO di Jakarta dan berhasil meraih juara harapan. Karena itu selepas SMP, ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) selama 4 tahun di Denpasar yang kemudian dilanjutkan ke Fakultas Seni Rupa STSI Denpasar. Setelah meraih gelar sarjana, ia sempat dikontrak oleh seorang bule asal Prancis untuk melukis kehidupan sehari-hari masyarakat di Riau. Ia menyelesaikan kontrak berdurasi satu tahun tersebut, tetapi karena di Riau ia merasa kurang cocok akhirnya ia memutuskan kembali ke Lombok. Menurutnya, kehidupan seni rupa di Lombok “dibilang hidup, ya hidup, dibilang mati, ya mati”, tetapi ia tak berniat menjadi perupa terkenal dengan hijrah ke daerah-daerah yang menjadi pusat seperti Jakarta, Yogyakarta maupun Bandung. Di Lombok ia merintis pilihan hidupnya. Hingga pada suatu ketika, saat menjadi pengajar tamu di sebuah sekolah swasta ia bertemu dengan Lucretia Prang, seorang antropolog dari Australia yang kebetulan juga mengajar bahasa Inggris di sekolah yang sama. Perkenalan ini membawa ia berkesempatan mempresentasikan karya-karyanya ke sejumlah penikmat seni rupa dari negeri kanguru tersebut hingga ia memperoleh sponsor untuk melakukan residensi dan pameran di sana.

Pameran pertamanya di Australia bertajuk Dialogues of Life, berlangsung di Kidogo Arthouse, Bathers Beach, Fremantle, WA pada 2-20 April 2009. Pada saat itu para penikmat seni rupa di sana menyangka, lukisan yang dipamerkan adalah lukisan tradisi. Setelah melihat langsung mereka terkejut sebab tak menduga ternyata di Lombok ada juga perupa kontemporer. Pameran tersebut termasuk sukses dan mendapat perhatian. Dari 30 lukisan yang dipamerkannya hampir semuanya dibeli kolektor. Selama 3 bulan kunjungan pertamanya tersebut,ia berpameran sebanyak 4 kali. Semuanya di Perth.

Pada kunjungan keduanya tahun 2010 ia sempat melakukan residensi, sebelum berpameran lagi. Pamerannya kali ini berlangsung di Moore’s Building Contemporary Art Gallery, Fremantle, WA. Bertajuk Contamination-Body,Soul and Planet (2-12 Juli 2010). Selain itu, ia juga sempat berpameran di Melbourne dan di gedung Amnesti Internasional. Ia juga bergabung dalam manajemen arthouse, di mana segala planning residensi dan pamerannya dimenej oleh organisasi tersebut.

Lalu Suryadi Mulawarman

Koreografer Lalu Suryadi Mulawarman saat ini tengah berada di Jakarta untuk turut menjadi penampil dalam Jakarta Anniversary Festival IX di Gedung Kesenian Jakarta. Dalam Event ini –yang berlangsung sebulan penuh- Surya akan menampilkan dua karya koreografinya, yakni Lampan Lahat dari naskah Agus FN serta Perempuan Rusuk Dua yang merupakan adaptasi dari novel Salman Faris berjudul sama. Untuk karyanya ini Surya akan diperkuat bukan cuma oleh penari dari Mataram yang dibawanya, tapi juga penari dari Jakarta, karena itu ia berangkat ke Jakarta jauh-jauh hari untuk proses latihan.

Berbicara tentang koreografer di Nusa Tenggara Barat, tidak akan bisa melupakan sosok Lalu Suryadi Mulawarman. Dia adalah koreografer dari NTB yang paling berprestasi baik di kancah nasional maupun internasional. Lalu Suryadi Mulawarman lahir di Mataram 20 Mei 1970. Pada momen-momen tertentu masa kecil Lalu Suryadi dikelilingi oleh budaya dan tradisi Sasak. Dia sering melihat bagaimana warga lingkungan asalnya berinteraksi dengan keluarganya yang secara adat sosial mempunyai strata yang lebih tinggi. Hal-hal itu menjadi kenangan yang terus hidup dalam ingatannya yang kemudian menjadi dasar baginya dalam penciptaan karya-karya koreografinya kelak. Lalu Suryadi kecil termasuk anak yang cerdas tetapi bandel. Di Sekolah Dasar dia sempat lompat satu kelas. Sejak SD, SMP dan SMA dilaluinya di sekolah-sekolah favorit di Mataram. Karena kecerdasannya cita-cita yang tertanam di benaknya adalah menjadi dokter atau insinyur.

Waktu duduk di bangku SMP kegemarannya adalah kebut-kebutan di jalan dengan sepeda motor. Hampir setiap hari dihabiskannya dengan memamerkan keberanian dan kecakapannya mengendarai motor. Hingga satu peristiwa kecelakaan seakan mengubah jalan hidupnya. Kejadiannya waktu ia masih kelas 3 SMP, suatu hari di bulan puasa menjelang maghrib motor yang dikendarainya bersama seorang teman bertabrakan dengan motor lain. Dia sempat muntah darah sebelum tak sadarkan diri. Selama hampir sebulan pingsan, setelah sadar beberapa lama dia sempat mengalami amnesia, bahkan hingga sekarang dia orang yang sulit mengingat. Lebih parah lagi indranya yang berfungsi cuma empat. Indra penciumannya tidak bekerja sebagaimana wajarnya karena hidungnya patah. Kecelakaan itu yang kemudian membelokkan cita-citanya menjadi koreografer.

Suatu ketika dia mengantar seorang temannya ke sebuah sanggar tari di Mataram. Pelatih tarinya waktu itu Abdul Hamid. Karena merasa tertarik dengan sosok Lalu Suryadi, Abdul Hamid memintanya untuk ikut menari. “ Waktu itu saya tidak punya ketertarikan sedikit pun pada dunia tari” katanya. Lalu Suryadi merasa menari adalah kerjaan kaum perempuan. Tapi ajakan Hamid itu tak ditampiknya. Di mata Abdul Hamid Lalu Suryadi memiliki bakat yang luar biasa.

Sejak itu meski pun masih belum mempunyai ketertarikan yang besar Lalu Suryadi terus mengikuti pelajaran menari yang diberikan Abdul Hamid. “ Pak Hamid itu guru menari saya yang pertama” kenangnya. Satu motivasi lagi yang saat itu membuatnya bersemangat adalah karena ia dijanjikan akan tampil di Jakarta. Bayangan Jakarta sebagai kota metropolitan berpengaruh besar padanya. Cuma dua tari tradisi yang dikuasainya saat itu yakni Peresean dan Tari Rudat. Tapi ia berangkat juga ke Jakarta mewakili NTB pada festival tari kreasi tingkat nasional Dan semenjak itu dia memilih tari sebagai media ekspresinya. Tahun 1989, dengan beasiswa dari Bulog dan rekomendasi dari Gubernur Nusa Tenggara Barat waktu itu H. Warsito Lalu Suryadi direkomendasikan untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Selama hampir 11 tahun dilaluinya untuk menuntaskan studinya. Waktu yang memang cukup lama.

Meskipun dikenal bandel tapi Lalu Suryadi banyak menoreh prestasi. Tahun 1991 ia ditunjuk untuk mewakili Institut Kesenian Jakarta dalam Pekan Seni Mahasiswa di Solo. Tahun 1992 karyanya masuk VI besar dalam Festival Koreografi Indonesia di Jakarta. Tahun 1993 karyanya Dedare tampil di Indonesia Dance Festival dan dengan karya yang sama di tahun yang sama mewakili Institut Kesenian Jakarta dalam Pekan Seni Mahasiswa II di Bali. Tahun 1994 dalam Festival Penata Tari Muda Indonesia ia menjadi penata tari terbaik. Tahun 1997 dalam Festival Gedung Kesenian Jakarta Award ia meraih dua gelar yakni Juara III untuk kategori kontemporer untuk karyanya Dongeng Kini dan juara pertama untuk kategori tradisi dengan karyanya Para-mpuan. Di tahun yang sama ia terbang ke Amerika dalam rangka mengikuti Expo dan menampilkan karyanya di dua kota yakni Utah dan Boston. Tahun 1999 ia diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Pentas Empat Koreografer Muda Indonesia dan tampil di Graha Bakti Budaya, Jakarta. Tahun 2001 ia mewakili NTB dalam Festival Seni Pertunjukan Indonesia juga di Jakarta. Tahun 2003 ia mendapatkan hibah seni dari Yayasan Kelola. Di tahun yang sama ia diundang kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya dalam ajang Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) di Bali.

Setelah dari Jakarta nanti, ia harus langsung berproses untuk menampilkan karyanya dalam Temu Taman Budaya di Solo, pada medio Juli. Di luar itu ia sebenarnya ingin melihat dunia koreografi di NTB umumnya dan Lombok khususnya berkembang.

“ Saya ingin sekali melahirkan koreografer-koreografer dari Lombok yang bisa berprestasi di kancah nasional maupun internasional “ katanya. Itulah cita-cita yang sedang dirintisnya.

Festival Maulid di Negeri Seribu Masjid

A

had pagi tepat hari ke lima belas Bulan Mei, ketika sinar mentari yang baru saja beranjak naik memancarkan kehangatan ke segenap penjuru kota. Berbondong – bondong warga Mataram memenuhi kanan kiri Jalan Pejanggik dari Perempatan Kantor Bank Indonesia ke arah timur. Di tengah jalan berbaris panjang arak – arakan dengan berbagai hiasan yang meriah  menampilkan ciri – ciri kesenian dan budaya religius , dengan iringan pasukan drumband beberapa sekolah, dan juga barisan musik tradisional . Diawali oleh beberapa orang patroli polisi bersepeda sebagai pembuka jalan kemudian melintas   barisan pawai dengan ujung depan setiap barisan itu terdapat papan nama yang diusung sebagai penanda, ada tulisan Propinsi Sulawesi Selatan, Propinsi Jawa Tengah, juga nama – nama Kota / Kabupaten di NTB. Pada beberapa barisan nampak para remaja dengan keceriaannya, sementara pada barisan yang lain diikuti pula orang – orang dewasa, bahkan juga kanak – kanak. Semuanya tampil dalam balutan busana muslim yang penuh kesantunan.

Barisan pawai itu adalah para peserta Festival Maulid Nusantara ke 6 dan Festival Qasidah Nasional ke 16 yang akan mengikuti upacara pembukaan di Lapangan Umum Mataram. Ketidakhadiran satupun pejabat pemerintah pusat tidak mengurangi semangat dan antusiasme kurang lebih 1.700 peserta yang datang dari 30 propinsi, dan juga kegembiraan warga Kota Mataram sebagai tuan rumah perhelatan akbar itu.  Kegembiraan terpancar pula pada ekspresi wajah Walikota Mataram saat mengalungkan selendang tenun khas Lombok kepada setiap pemimpin rombongan sebagai tanda ucapan selamat datang yang hangat dan bersahabat. Sementara Gubernur yang membuka acara itu dalam sambutannya mengungkapkan berbagai potensi wisata yang menarik dan layak menjadi pilihan kunjungan bagi para delegasi yang hadir.  Setelah penabuhan gendang beleq oleh Gubernur yang disahuti oleh gemuruh bunyi rebana dan lantunan shalawat yang membahana dari segenap yang hadir, di atas panggung yang megah itu ditampilkan pula kolaborasi beberapa tarian daerah NTB dalam kesatuan komposisi gerak yang rampak dan bersemangat sebagai gambaran kemeriahan dan kegembiraan perayaan maulid.

Inilah pesta seni budaya Islam terbesar yang digelar di Negeri Seribu Masjid pada beberapa tahun terakhir. Sampai dengan tanggal 19 Mei 2011, berbagai kegiatan seni dan budaya akan digelar berbarengan dengan Pameran Sejarah Islam di Nusantara yang dilaksanakan di Museum Negeri NTB, seminar kebudayaan dan peradaban Islam yang akan menghadirkan beberapa cendekiawan muslim terkemuka, juga pameran dan bazaar yang menggelar berbagai produk kerajinan di tanah air, dan tak ketinggalan tentu juga aneka ragam kuliner khas yang menggugah selera yang digelar di bawah tenda – tenda cantik dan lampion warna warni di Lapangan Umum Mataram.

Sebagaimana harapan yang diungkapkan  oleh Gubernur NTB pada sambutan pembukaannya, event ini diharapkan dapat menunjukkan betapa pentingnya persatuan dan kesatuan ummat, juga betapa besar arti dan kontribusi kebudayaan Islam sebagai unsur utama kebudayaan nasional, yang harus dijaga dan dikembangkan guna mewarisi nilai – nilai keislaman yang luhur serta keteladanan Rasulullah Muhammad SAW yang hari kelahirannya telah menjadi inspirasi perhelatan ini.

Insiden Lambu Dikecam

AKSI unjuk rasa Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Penolak Eksploitasi Tambang (AMMPET) yang berakhir dengan bentrokan melawan aparat, di Kantor Camat Lambu, Kabupaten Bima, 10 Februari lalu, dikecam banyak pihak. Sebabnya, beberapa warga terkena tembakan aparat dan lainnya ditahan, gara-gara menolak kebijakan Bupati Bima Ferry Zulkarnaen yang mengijinkan usaha pertambangan di daerah mereka.

Di Lombok, para aktivis menggelar demonstrasi mengecam aksi penembakan warga yang dilakukan aparat kepolisian Bima. Di Lombok Timur, aksi solidaritas untuk warga Lambu itu dilakukan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro Cabang Lombok Timur, Kamis (17/2) lalu. Aksi yang dilakukan di depan Mapolres Lotim itu, mendesak Kapolda NTB untuk mencopot Kapolres Bima.

Kepemimpinan Kapolres Kota Bima dinilai tidak berjiwa besar. Gagalnya kepolisian memberi rasa aman saat unjuk rasa berlangsung, disebut sebagai bentuk kegagalan Kapolres. Koordinator aksi, M. Idrus, juga menuntut agar SK nomor 188 tentang eksploitasi lahan di Kecamatan Lambu, dicabut oleh pihak berwenang. SK eksploitasi lahan tersebut dinilai akan merugikan masyarakat di kemudian hari.

Pada hari yang sama, aksi mengecam insiden Lambu yang berujung pada permintaan agar Kapolda NTB mencopot Kapolres Kota Bima dan Kapolsek Lambu, dilakukan Aliansi Solidaritas Masyarakat Lambu (KAMIL), di depan Polda NTB. Selain mengecam tindakan aparat, mereka juga meminta agar warga yang ditahan pihak kepolisian dilepaskan kembali.