Awas! Flu Burung Mengepung

Meski berbicara semangat, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Syamsul Hidayat Dilaga, tak bisa menyembunyikan gurat cemas. Sejak pekan lalu, ia menjadi salah satu pejabat yang paling dicari komentarnya. Ini soal pelik. Virus Flu Burung menyerang di Lombok Tengah.

Awalnya semua berawal dari dugaan. Namun pada akhirnya terbukti menjadi kenyataan. ‘’Positif. Dari sampel yang kita uji, positif flu burung,’’ kata Dilaga, , Kamis pekan lalu.

Dilaga mengatakan, pihaknya telah mengambil sampel dari 30 ekor ayam, yang seluruhnya ayam kampung. Sampel itu sebagian diperiksa di Mataram, dan enam sampel dikirim ke laboratorium di Bali. ‘’Yang dari laboratorium di Bali, paling cepat kita terima seminggu lagi,’’ katanya.

Awalnya kematian ayam mendadak ditemukan di Kampung Pancor, Kelurahan Semayan, Kecamatan Praya, Lombok Tengah. Sepanjang pekan lalu, ratusan ayam mati mendadak di kelurahan itu. Warga mulai cemas.

Maka sejak dilaporkan ke Dinas Peternakan setempat, Dinas Peternakan lalu mengisolasi ternak unggas dari kelurahan itu. ‘’Kita berlakukan prosedur penanganan daerah yang terkena wabah flu burung. Kita isolasi kawasan itu untuk kepentingan penanganan,’’ kata Aminurrahman, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan NTB, melalui sambungan telepon Rabu pekan lalu.

Saat itu, kandang ayam dan rumah warga yang berdekatan dengan kandang ayam juga telah disemprot cairan disinfektan. Sementara ayam-ayam yang mati dikuburkan. Sebagian lain dibakar atas inisiatif warga.

‘’Kami tidak menghitung berapa jumlah persisnya ayam yang mati. Tapi sudah ratusan. Dan semuanya mati mendadak. Ayam yang mati adalah jenis ayam kampung,’’ kata Amin.

‘’Warga resah, khawatir flu burung benar-benar menjangkit. Kami tidak ingin berspekulasi. Kita tunggu hasil laboratorium. Kalau soal penanganan, ini prosedur saja,’’ kata Amin melanjutkan.

Kepada petugas kesehatan hewan, warga setempat melaporkan, ayam mati mendadak di kelurahan itu terjadi sejak sepekan sebelumnya. Namun jumlahnya kian banyak, mulai awal pekan ini. Ayam-ayam yang semula sehat, tiba-tiba ditemukan sudah jadi bangkai.

Dua hari sesudahnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Lombok Tengah, Ibrahim, di sela-sela perayaan Hari Pangan Sedunia di Kantor Gubernur NTB, Jl Pejanggik, Kota Mataram, menyampaikan kabar mengejutkan.

Virus flu burung itu rupanya tidak hanya ditemukan di Semayan. Setidaknya tiga lokasi telah diserang virus itu. Dua lokasi lain selain Kelurahan Semayan, adalah Desa Peringgarata, Kecamatan Peringgarata, dan Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat Daya.

‘’Di Semayan, sudah ada laporan tim kami 400 ekor yang mati mendadak. Di Peringgarata sudah ada 500 ekor yang mati mendadak. Kalau dengan yang di Penujak, sampai hari ini sudah mencapai 1.000 ekor yang mati mendadak,’’ katanya.

Belum diketahui, apakah virus flu burung itu memang berasal dari tiga lokasi itu, atau akibat penyebaran dari kawasan lain. Khusus untuk Kelurahan Semayan, Syamsul Dilaga mengatakan, kawasan itu masih diisolasi.

Kasus unggas yang terinfeksi flu burung pernah ditemukan di tempat itu pada 2008. Namun tidak sampai menyebar, akibat penanganan segera. Sementara dua kawasan lain belum diisolasi, meski sudah ada penanganan.

Pemprov NTB kata Dilaga telah menetapkan unggas tidak boleh masuk dari luar NTB, berapapun jumlahnya. Jika ditemukan, unggas itu akan dikembalikan ke daerah asal atau dimusnahkan. Yang dibolehkan hanya telur unggas dan DOC, anak ayam yang masih berumur satu hari.

Kendati begitu, Dilaga mengkhawatirkan sejumlah pelabuhan tak resmi di beberapa titik di Lombok yang memungkinkan unggas serta binatang dari luar provinsi masuk ke Lombok tanpa mendapat pengawasan Balai Karantina Hewan.

Sejumlah pelabuhan tidak resmi itu antara lain banyak dilayari kapal-kapal nelayan tradisional, yang umumnya menghubungkan Lombok dengan Bali. Pekan lalu, dua orang di Bangli, Provinsi Bali, meninggal dan dinyatakan positif akibat serangan virus flu burung.

Virus flu burung itu nyatanya kian meluas. Setelah menyerang 3 lokasi di Lombok Tengah, puluhan ayam di Kompleks Markas TNI AD di Mataram juga mati mendadak.

Puluhan ayam yang dipelihara anggota TNI itu mati dikhawatirkan terkena virus flu burung. Ayam-ayam itu dipelihara tepatnya di kawasan perumahan Markas TNI Angkatan Darat, Kelurahan Sapta Marga (Gebang), Kecamatan Cakranegara.

‘’Kita dapat laporan, puluhan ekor ayam yang dipelihara anggota TNI Angkatan Darat yang bermukim di Kompleks TNI AD, Gebang, mati mendadak. Dikhawatirkan akibat virus flu burung,’’ kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Mataram, Mazhuriyadi, Sabtu (15/10).

Kompleks perumahan TNI AD itu berada di Kelurahan Sapta Marga, Kecamatan Cakranegara. Kompleks perumahan itu menyatu dengan markas kompi senapan, gudang senjata milik TNI AD, dan juga lapangan tembak. Kompleks juga menjadi tempat tinggal petinggi TNI AD yang berdinas di Korem 162 Wirabhakti, NTB.

Mazhuriyadi mengatakan, kandang ayam dan sejumlah rumah di kompleks perumahan tentara itu telah disemprot dengan cairan disinfektan, sesuai prosedur penanganan flu burung. Ayam yang mati dibakar dan dikuburkan. ‘’Selain penyemprotan, kita juga berikan vaksin,’’ kata Mazhuryadi.

Selain di markas tentara itu, Mazhuriyadi juga mengaku telah menerima laporan dari beberapa kelurahan, terkait ayam mati mendadak. Laporan itu misalnya diterima dari Kelurahan Punia, Gomong, Dasan Agung, Gontoran, Babakan, Nyangget, Karang Sampalan, dan Kelurahan Pajang.

‘’Laporan yang kita terima, kalau dirata-ratakan dalam sepekan ini, ada 50 ekor ayam mati mendadak di tiap-tiap kelurahan itu,’’ katanya.

Belakangan, virus flu burung itu tak cuma menyerang ayam. Hingga awal pekan ini, setidaknya sudah empat orang harus diisolasi di Rumah Sakit Umum Provinsi karena diduga flu burung.

Seorang bayi berusial 11 bulan, MAD, dan seorang perempuan berusia 58 tahun, IS, diisolasi di ruang perawatan khusus RSUP NTB, sejak Sabtu (15/10) sore. Dua hari berikutnya, Senin (17/10), STK (10)dan DSH yang baru berusia lima bulan menyusul dirawat di ruang isolasi. Mereka diidentifikasi mengalami gejala serangan virus flu burung.

Perawat di RSUP NTB mengatakan, seluruh pasien itu dirujuk dari Rumah Sakit Umum Praya di Lombok Tengah. IS berasal dari Kelurahan Semayan, Kecamatan Praya. Sementara MAD, STK dan DSH berasal dari Peringgarata, Kecamatan Peringgarata. Di dua daerah itu, sepekan terakhir tak kurang 900 ekor ayam mati dan dinyatakan positif akibat serangan virus flu burung.

Keempat orang itu dirujuk ke RSUP NTB setelah diidentifikasi menunjukkan gejala orang terkena flu burung, dengan suhu badan meninggi, di atas 39 derajat celcius disertai batuk dan nyeri tenggorokan. Mereka juga mengeluhkan sakit pernapasan.

Saat tiba di RSUP NTB, mereka langsung dibawa ke ruang isolasi pasien flu burung di bangsal Flamboyan, lantai dua rumah sakit. Ruang isolasi itu mampu menampung empat pasien. Ruangan dijaga ketat paramedis, dengan pakaian khusus.

Keempatnya berada dalam pengawasan dokter Salim, seorang dokter spesialis penyakit paru. Salim adalah Ketua Tim Penanganan Penyakit Flu Burung dan Flu Babi RSUP NTB. Tim beranggotakan sepuluh dokter spesialis.

Pihak rumah sakit memastikan, sampel darah dan lender di tenggorokan sudah diambil dari empat pasien, dan akan diuji di laboratorium milik Kementrian Kesehatan di Jakarta. ‘’Flu burung atau tidak, nanti akan mengacu pada hasil pemeriksaan laboratorium Kementrian Kesehatan,’’ kata Mochammad Ismail, Kepala Dinas Kesehatan NTB. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *