Jero Wacik Mandi di Joben

Hanya untuk mandi, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) RI Jero Wacik bersama rombongannya, datang ke Joben, Sabtu (9/7).

Dia mandi di lokasi pemandian taman wisata Otok Kokok Joben, Kecamatan Montong Gading, Kabupaten Lombok Timur itu karena selama ini di kalangan pejabat, Joben dinilai memiliki khasiat tersendiri. Mandi di air Joben dapat menyembuhkan penyakit.

Turut mendampingi Menbudpar RI untuk mandi di Joben adalah Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB Lalu Gita Aryadi, beberapa pejabat dari Kementerian Budpar RIm dan pejabat provinsi dan Kabupaten Lombok Timur.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Timur HM Gufranudin mengakui bahwa kunjungan Jero Wacik bersama rombongan ke Joben hanya untuk mandi.
“Selama ini Menbudpar RI kerap mendengar, kalau Lotim memiliki sumber mata air yang memiliki khasiat bisa mengobati berbagai macam penyakit,” katanya.

Kedatangan Jero Wacik ke Otak Kokok Joben dapat membawa angin segar untuk kemajuan pariwisata Lombok Timur karena potensi wisata yang dimiliki Lombok Timur, tidak kalah bersaing dengan daerah lain.

Dia mengakui pengembangan objek wisata belum berjalan dengan baik karena terbentur keterbasan anggaran yang dimiliki. Sehingga uluran tangan pemerintah pusat dalam pengembangan wisata di Lombok Timur sangat diharapkan.

“Dengan Menbudpar RI datang ke Otak Kokok Joben mungkin bisa melihat berbagai kekurangan yang masih ada di lokasi tersebut dengan menggelontorkan bantuan nantinya untuk pembenahan lokasi wisata di Lotim,” ungkap Gufran.

Satpol PP Terkesan Tebang Pilih Tertibkan Kawasan Wisata

Apalagi ada kemungkinan banyak pemilik villa yang belum mengantongi IMB. Hal itu diketahui dari keterangan Kepala Desa Sekotong Barat, HA Supardi yang dihubungi Koran Kampung melalui telepon, Jumat lalu. “Banyak yang sudah meminta rekomendasi mengurusi IMB di sini (kantor desa). Tapi saya belum tahu apa semua sudah (meminta rekomendasi untuk mengurus IMB). Soal IMB bukan wewenang kami, tapi memang untuk mengurusi IMB harus ada rekomendasi dari (kantor) desa,” jelasnya.

Meski belum didapat kepastian terkait IMB dari instansi yang mengurusi perizinan di Pemkab Lobar, namun penjelasan Supardi menunjukkan kemungkinan ada pemilik villa yang belum mengantongi IMB. Lebih-lebih, Camat Sekotong L Edy Junaidi juga tak bisa memastikan semua villa telah memiliki IMB. “Data pastinya belum saya cek,” tulis Edy Junaidi menjawab pertanyaan Koran Kampung melalui SMS.

Pengamatan Koran Kampung hampir semua pemilik villa juga melanggar aturan membangun semi-permanen. Bangunan permanen dengan beton hanya diperbolehkan setinggi 120 meter, sisanya dibangun semi-permanen. Jika melihat kondisi bangunan semua villa tersebut, hampir bisa dipastikan bahwa mereka tak mengontongi IMB.

Mengenai hal itu Camat Lalu Edy mengatakan akan berkoordinasi dulu untuk melakukan penertiban lanjutan. “Kita akan koordinasi dulu dengan dinas terkait seperti badan perizinan dan Satpol PP untuk mengambil langkah-langkah persuasif,” jelasnya.

Sedangkan dari Satpol PP Pemkab Lobar belum didapat keterangan. Komandan Satpol PP L Winengan yang dihubungi melalui telepon dan SMS, tak menjawab pertanyaan Koran Kampung. Di telepon, L Winengan mengatakan sedang rapat dan SMS yang dikirimkan tak dijawab.

Untuk diketahui, sedikitnya terdapat 12 villa di kawasan pantai Sekotong.

Serabi Inaq Halimah

Berbeda dengan banyak serabi di Mataram yang dicetak dengan ukuran kecil, serabi yang ini lebih besar, walaupun juga tidak selebar serabi Solo. Ukuran diameter serabi ini sekitar 5 – 6 cm, dengan ketebalan sekitar 2 cm. Perbedaan lainnya, di Mataram serabi adalah teman minum teh atau kopi pada pagi hari. Sementara penjual serabi yang satu ini baru mulai menjajakan dagangannya pada sekitar pukul sepuluh atau sebelas siang, dan biasanya akan habis dibeli para pelanggannya menjelang tiba sore hari. Dari sisi rasa, sering kita temukan serabi yang dihidangkan dengan siraman gula merah cair sehingga rasanya manis, yang tak jarang kita santap bersama jajan pasar yang lain.

Sementara serabi yang satu ini menawarkan rasa gurih dari santan kelapa kental yang menjadi campuran tepung beras sebagai bahan utamanya, yang sungguh nikmat dan pas di lidah. Dipanggang tidak terlalu lama di atas tungku dengan api dari kayu yang juga tidak terlalu besar, menghasilkan serabi dengan tiga lapisan kekenyalan yang berbeda. Pada bagian paling atas adalah bagian yang belum sempurna kematangannya, sehingga ketika kita gigit terasa creamy dan lumer di mulut kita. Kemudian di bawahnya kira rasakan bagian yang lebih matang namun tetap lembut di lidah, bahkan bagian paling bawah pun tidak terlalu keras dan tidak gosong. Perpaduan ketiga tekstur tersebut ditambah dengan rasa gurih santan kelapa yang membalutinya sungguh tepat, tidak perlu lagi siraman gula merah cair di atasnya, karena justru rasa gurihnya yang membuat serabi ini menjadi istimewa.

Itulah serabi Inaq Halimah, yang bisa kita temukan setiap hari di salah satu sudut Pasar Keruak bagian selatan Kabupaten Lombok Timur. Di antara bau tajam ikan pindang, terasi, dan berbagai jenis hasil laut lainnya, keberadaan Inaq Halimah dengan serabinya memang menjadikannya sesuatu yang sangat berbeda. Dengan harga yang tidak menguras dompet yaitu hanya Rp 1.000,- untuk satu tangkup atau dua potong, membuat serabi Inaq Halimah ini selalu dikangeni oleh para pelanggannya. Setelah hampir tiga puluh tahun berjualan dan mampu menjadikan salah satu anaknya sebagai sarjana, sampai hari ini Inaq Halimah masih setia dengan pemanggang yang sekali bakar menghasilkan delapan potong serabi, tungku dan kayu bakar, mengolah sembilan atau sepuluh kilogram tepung beras bersama beberapa butir kelapa setiap harinya, berbaur dengan pedagang berbagai macam ikan laut di salah satu sudut pasar hasil laut terbesar di Pulau Lombok.

Jadi kalau tengah memborong ikan, cum-cumi. udang, ataupun terasi di Pasar Keruak, jangan lupa sempatkan menikmati serabi gurih Inaq Halimah. Setelah dibungkus daun pisang bisa kita bawa ke salah satu warung kopi di sudut lain pasar, atau sebagai bekal untuk kita nikmati di perjalanan.

Ismiadi Ditakdirkan Menjadi Perupa

Dunia seni rupa di Lombok yang terkesan tidak bergerak sebenarnya menyimpan beberapa seniman progresif. Salah satunya adalah Ismiadi. Perupa kelahiran Mataram, 9 Oktober 1969 ini merasa telah ditakdirkan menjadi perupa. Pasalnya semenjak kecil aktifitas sehari-harinya sudah lekat dengan itu. Ia gemar menggambar dan membuat kerajinan. Mungkin bakat ini diturunkan oleh kakeknya yang seorang pematung. Yang jelas, niat dan keinginannya untuk jadi perupa semakin kuat setelah pada waktu kelas 4 SD ia mengikuti lomba lukis tingkat nasional yang diadakan oleh UNESCO di Jakarta dan berhasil meraih juara harapan. Karena itu selepas SMP, ia memutuskan melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) selama 4 tahun di Denpasar yang kemudian dilanjutkan ke Fakultas Seni Rupa STSI Denpasar. Setelah meraih gelar sarjana, ia sempat dikontrak oleh seorang bule asal Prancis untuk melukis kehidupan sehari-hari masyarakat di Riau. Ia menyelesaikan kontrak berdurasi satu tahun tersebut, tetapi karena di Riau ia merasa kurang cocok akhirnya ia memutuskan kembali ke Lombok. Menurutnya, kehidupan seni rupa di Lombok “dibilang hidup, ya hidup, dibilang mati, ya mati”, tetapi ia tak berniat menjadi perupa terkenal dengan hijrah ke daerah-daerah yang menjadi pusat seperti Jakarta, Yogyakarta maupun Bandung. Di Lombok ia merintis pilihan hidupnya. Hingga pada suatu ketika, saat menjadi pengajar tamu di sebuah sekolah swasta ia bertemu dengan Lucretia Prang, seorang antropolog dari Australia yang kebetulan juga mengajar bahasa Inggris di sekolah yang sama. Perkenalan ini membawa ia berkesempatan mempresentasikan karya-karyanya ke sejumlah penikmat seni rupa dari negeri kanguru tersebut hingga ia memperoleh sponsor untuk melakukan residensi dan pameran di sana.

Pameran pertamanya di Australia bertajuk Dialogues of Life, berlangsung di Kidogo Arthouse, Bathers Beach, Fremantle, WA pada 2-20 April 2009. Pada saat itu para penikmat seni rupa di sana menyangka, lukisan yang dipamerkan adalah lukisan tradisi. Setelah melihat langsung mereka terkejut sebab tak menduga ternyata di Lombok ada juga perupa kontemporer. Pameran tersebut termasuk sukses dan mendapat perhatian. Dari 30 lukisan yang dipamerkannya hampir semuanya dibeli kolektor. Selama 3 bulan kunjungan pertamanya tersebut,ia berpameran sebanyak 4 kali. Semuanya di Perth.

Pada kunjungan keduanya tahun 2010 ia sempat melakukan residensi, sebelum berpameran lagi. Pamerannya kali ini berlangsung di Moore’s Building Contemporary Art Gallery, Fremantle, WA. Bertajuk Contamination-Body,Soul and Planet (2-12 Juli 2010). Selain itu, ia juga sempat berpameran di Melbourne dan di gedung Amnesti Internasional. Ia juga bergabung dalam manajemen arthouse, di mana segala planning residensi dan pamerannya dimenej oleh organisasi tersebut.

Lalu Suryadi Mulawarman

Koreografer Lalu Suryadi Mulawarman saat ini tengah berada di Jakarta untuk turut menjadi penampil dalam Jakarta Anniversary Festival IX di Gedung Kesenian Jakarta. Dalam Event ini –yang berlangsung sebulan penuh- Surya akan menampilkan dua karya koreografinya, yakni Lampan Lahat dari naskah Agus FN serta Perempuan Rusuk Dua yang merupakan adaptasi dari novel Salman Faris berjudul sama. Untuk karyanya ini Surya akan diperkuat bukan cuma oleh penari dari Mataram yang dibawanya, tapi juga penari dari Jakarta, karena itu ia berangkat ke Jakarta jauh-jauh hari untuk proses latihan.

Berbicara tentang koreografer di Nusa Tenggara Barat, tidak akan bisa melupakan sosok Lalu Suryadi Mulawarman. Dia adalah koreografer dari NTB yang paling berprestasi baik di kancah nasional maupun internasional. Lalu Suryadi Mulawarman lahir di Mataram 20 Mei 1970. Pada momen-momen tertentu masa kecil Lalu Suryadi dikelilingi oleh budaya dan tradisi Sasak. Dia sering melihat bagaimana warga lingkungan asalnya berinteraksi dengan keluarganya yang secara adat sosial mempunyai strata yang lebih tinggi. Hal-hal itu menjadi kenangan yang terus hidup dalam ingatannya yang kemudian menjadi dasar baginya dalam penciptaan karya-karya koreografinya kelak. Lalu Suryadi kecil termasuk anak yang cerdas tetapi bandel. Di Sekolah Dasar dia sempat lompat satu kelas. Sejak SD, SMP dan SMA dilaluinya di sekolah-sekolah favorit di Mataram. Karena kecerdasannya cita-cita yang tertanam di benaknya adalah menjadi dokter atau insinyur.

Waktu duduk di bangku SMP kegemarannya adalah kebut-kebutan di jalan dengan sepeda motor. Hampir setiap hari dihabiskannya dengan memamerkan keberanian dan kecakapannya mengendarai motor. Hingga satu peristiwa kecelakaan seakan mengubah jalan hidupnya. Kejadiannya waktu ia masih kelas 3 SMP, suatu hari di bulan puasa menjelang maghrib motor yang dikendarainya bersama seorang teman bertabrakan dengan motor lain. Dia sempat muntah darah sebelum tak sadarkan diri. Selama hampir sebulan pingsan, setelah sadar beberapa lama dia sempat mengalami amnesia, bahkan hingga sekarang dia orang yang sulit mengingat. Lebih parah lagi indranya yang berfungsi cuma empat. Indra penciumannya tidak bekerja sebagaimana wajarnya karena hidungnya patah. Kecelakaan itu yang kemudian membelokkan cita-citanya menjadi koreografer.

Suatu ketika dia mengantar seorang temannya ke sebuah sanggar tari di Mataram. Pelatih tarinya waktu itu Abdul Hamid. Karena merasa tertarik dengan sosok Lalu Suryadi, Abdul Hamid memintanya untuk ikut menari. “ Waktu itu saya tidak punya ketertarikan sedikit pun pada dunia tari” katanya. Lalu Suryadi merasa menari adalah kerjaan kaum perempuan. Tapi ajakan Hamid itu tak ditampiknya. Di mata Abdul Hamid Lalu Suryadi memiliki bakat yang luar biasa.

Sejak itu meski pun masih belum mempunyai ketertarikan yang besar Lalu Suryadi terus mengikuti pelajaran menari yang diberikan Abdul Hamid. “ Pak Hamid itu guru menari saya yang pertama” kenangnya. Satu motivasi lagi yang saat itu membuatnya bersemangat adalah karena ia dijanjikan akan tampil di Jakarta. Bayangan Jakarta sebagai kota metropolitan berpengaruh besar padanya. Cuma dua tari tradisi yang dikuasainya saat itu yakni Peresean dan Tari Rudat. Tapi ia berangkat juga ke Jakarta mewakili NTB pada festival tari kreasi tingkat nasional Dan semenjak itu dia memilih tari sebagai media ekspresinya. Tahun 1989, dengan beasiswa dari Bulog dan rekomendasi dari Gubernur Nusa Tenggara Barat waktu itu H. Warsito Lalu Suryadi direkomendasikan untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Selama hampir 11 tahun dilaluinya untuk menuntaskan studinya. Waktu yang memang cukup lama.

Meskipun dikenal bandel tapi Lalu Suryadi banyak menoreh prestasi. Tahun 1991 ia ditunjuk untuk mewakili Institut Kesenian Jakarta dalam Pekan Seni Mahasiswa di Solo. Tahun 1992 karyanya masuk VI besar dalam Festival Koreografi Indonesia di Jakarta. Tahun 1993 karyanya Dedare tampil di Indonesia Dance Festival dan dengan karya yang sama di tahun yang sama mewakili Institut Kesenian Jakarta dalam Pekan Seni Mahasiswa II di Bali. Tahun 1994 dalam Festival Penata Tari Muda Indonesia ia menjadi penata tari terbaik. Tahun 1997 dalam Festival Gedung Kesenian Jakarta Award ia meraih dua gelar yakni Juara III untuk kategori kontemporer untuk karyanya Dongeng Kini dan juara pertama untuk kategori tradisi dengan karyanya Para-mpuan. Di tahun yang sama ia terbang ke Amerika dalam rangka mengikuti Expo dan menampilkan karyanya di dua kota yakni Utah dan Boston. Tahun 1999 ia diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Pentas Empat Koreografer Muda Indonesia dan tampil di Graha Bakti Budaya, Jakarta. Tahun 2001 ia mewakili NTB dalam Festival Seni Pertunjukan Indonesia juga di Jakarta. Tahun 2003 ia mendapatkan hibah seni dari Yayasan Kelola. Di tahun yang sama ia diundang kementerian Pariwisata, Seni dan Budaya dalam ajang Indonesia Performing Arts Mart (IPAM) di Bali.

Setelah dari Jakarta nanti, ia harus langsung berproses untuk menampilkan karyanya dalam Temu Taman Budaya di Solo, pada medio Juli. Di luar itu ia sebenarnya ingin melihat dunia koreografi di NTB umumnya dan Lombok khususnya berkembang.

“ Saya ingin sekali melahirkan koreografer-koreografer dari Lombok yang bisa berprestasi di kancah nasional maupun internasional “ katanya. Itulah cita-cita yang sedang dirintisnya.

Perempuan di Papan Iklan Tempo Doeloe

Materi iklan tempo doeloe yang dimuat berikut ini direproduksi dari kalender yang diterbitkan le bo ye creations. Advertising berupa poster dan iklan media massa itu pernah menghiasi surat kabar masa lalu dan ruang publik di berbagai tempat.

Banyak yang unik, lucu, dan menarik. Tapi yang pasti, kita bisa mengetahui banyak hal yang terjadi di masa silam dari alat peraga iklan. Selain untuk tujuan itu, pemuatan beberapa iklan tersebut sekadar sebagai bahan nostalgia bagi mereka yang hidup di masa iklan itu pernah menggoda orang untuk membeli.

Di zaman Hindia Belanda, pariwisata Bali sudah mulai dipromosikan ke mancanegara. Ada sebuah poster terbitan Jawatan Pariwisata Hindia Belanda untuk menjual pulau dewata saat kawasan itu masih terjaga keasliannya. (Gambar 1).

Tahun 1912 sebuah iklan cetak membuktikan bahwa perempuan Jawa yang cenderung tertutup dan pemalu justru menampilkan dirinya dengan sentolop. (Gambar 2).

Di tahun 1938 produsen sabun kecantikan dengan merek dagang Lux sudah punya tag line yang mengajak perempuan untuk lebih menjadi eksklusif gaya aktris pesohor. Tapi tentu saja slogan terbaru iklan tersebut yakni “Sembilan dari sepuluh bintang film…” lebih berbicara ketimbang “846 antara 857 bintang film.” Sebuah iklan cetak tahun 1938. (Gambar 3).

Di tahun yang lebih baru lagi, ada ajakan untuk mengapresiasi kehidupan modern. “Busana boleh tradisional, tapi pergaulan sudah modern.” Pesona kecantikan pada tahun 1960. (Gambar 4).

Ada lagi iklan berjudul Oh Dewa. Gambar di iklan itu bukan meniru tradisi sungai Gangga, karena di kali Ciliwung Jakarta pun, dulu dipakai untuk mandi dan keramas. Iklan cetak tahun 1937. (Gambar 5).

Tahun 1954 sebuah iklan pasta gigi menjanjikan gigi lebih putih dalam seminggu. Sebuah iming-iming membuat gigi lebih putih “seperti embun kena sinar matahari.” (Gambar 6).

Promosi memakai buste hounder (BH) sudah dimulai sejak tahun 1950-an. Iklan pakaian dalam buatan lokal, dengan merek lokal Bengawan Solo ini dipromosikan tahun 1958. (Gambar 7).

Sebuah terobosan tahun 1930-an. Di mana biasanya kain batik hanya dicuci dengan larutan biji lerak. Agar warnanya tak pudar sabun batangan produksi tahun 1935 ini menawarkan sebuah terobosan baru. (Gambar 8).

Dulu hampir di setiap keluarga ada mesin jahit. Milik kaum ibu. Saat itu industri garmen yang menjadikan pakaian lebih murah, belum tumbuh. Sebuah enamel peraga iklan tahun 1930-an.