Menikmati SOLO City Walk

Saat ini jika anda berkesempatan singgah di Solo, ada satu lagi obyek yang sungguh sayang kalau dilewatkan. Bukan sesuatu yang baru ada sebetulnya, tapi lebih merupakan hasil penataan ulang yang cukup mengagumkan. Kawasan itu bernama City Walk, sebuah jalur pedestrian yang terbentang hampir sepanjang 7 kilometer pada jalan utama di kota itu, yakni Jalan Slamet Riyadi, yang secara tidak sengaja saya kunjungi beberapa waktu lalu. Continue reading

Syahdu Merenung Di Puncak Gunung Pangsung

Memasuki pelataran di kaki bukit ini yang terasa adalah suasana yang teduh dan tenang. Pelataran luas dengan pagar bata merah khas Bali sebagai batas dengan halaman parkir di sebelahnya. Sebuah gerbang gapura bentar yang menjadi pintu utama memasuki area ini terkunci, tetapi kita bisa memasuki halaman melalui pintu kecil di sisi selatan bersebelahan dengan bangunan tempat pemangku pura berada. Pada pintu kecil itu terdapat pengumuman dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, berisikan peraturan dan batasan yang mesti diperhatikan oleh para pengunjung. Yang menarik, di situ tidak tertulis Gunung Pengsong tapi Gunung Pangsung. Dewa Mangku Rai, pemangku pura yang sedang bertugas hari itu mengatakan nama aslinya memang Gunung Pangsung, sehingga nama itulah yang tetap diabadikan secara resmi untuk keberadaan puranya. Sementara Pak Asi, petugas kebersihan yang sekaligus merangkap sebagai guide bagi para wisatawan yang berkunjung mengatakan bahwa nama Pengsong itu muncul setelah jaman penjajahan Jepang. Konon bala tentara Jepang yang menguasai Pulau Lombok banyak menimbun harta di situ, antara lain berupa uang logam berlobang di tengahnya, yang oleh masyarakat Lombok dikenal dengan istilah kepeng song (uang berlobang). Sejak itulah muncul penyebutan Gunung Pengsong.

Gapura Bentar yang menjadi pintu utama merupakan ciri khas arsitektural Hindu. Seperti banyak dijumpai di Bali, dan juga pada beberapa candi peninggalan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Tapi melihat kondisinya, termasuk gerbang pada permulaan anak tangga menuju puncak bukit tidak nampak kesan kuno pada bangunan – bangunan itu. Kecuali pada pohon beringin di sisi selatan pelatarannya. Dengan diameter batang sekitar tiga meter dan banyaknya akar – akar tunjang yang menggantung dapat dipastikan pohon beringin itu telah berumur puluhan, bahkan mungkin lebih seratus tahun. Rimbunnya daun pohon itu seolah memberikan perlindungan bagi sumur tua Tirta Mumbul Sari yang berada di bawahnya. Seorang perempuan dengan berkain dan kebaya dengan lilitan selendang di pinggang tengah menimba air dari sumur itu. Nampaknya dia tengah melakukan ritual tertentu di situ. Sementara di atas salah satu sisi tembok yang mengelilingi sumur itu seekor kera dengan cueknya bermain – main dengan sesuatu yang baru didapatkannya.

Bersama Pak Asi saya mencoba untuk naik ke puncak bukit itu, melewati gerbang yang dijaga sepasang patung singa, sepasang ular naga dan raksasa penjaga pintu di kanan kirinya. Baru beberapa belas anak tangga saya harus berhenti untuk mengatur nafas. Nampaknya jantung saya agak terkejut ketika kaki – kaki saya harus mengikuti langkah cepat Pak Asi menaiki tangga itu. “ Seluruhnya ada 236 anak tangga, dan ketinggian puncak itu sekitar 300 meter” katanya menjawab pertanyaan saya. Haduhh.. tambah lemes rasanya kaki saya mendengar penjelasan itu. Sementara detak jantung pun menjadi semakin cepat. Apalagi mengingat bahwa dalam ransel yang melekat di punggung saya ini tidak ada air minum yang tersimpan. Saya heran melihat Pak Asi yang menunggu pada beberapa anak tangga di atas saya dan tetap bicara panjang lebar tanpa kelihatan lelah sedikitpun. “Setiap hari minimal tiga – empat kali saya turun naik pak. Malah kalau ramai bisa sampai sepuluh kali,” lanjutnya. Luar biasa.

Dengan langkah perlahan untuk menghemat tenaga saya ikuti Pak Asi menapaki deretan anak tangga yang ada. Di kanan kiri puluhan kera abu – abu berekor panjang asyik bercengkerama . ada betina yang menggendong anaknya, ada pejantan yang membelai – belai sambil mencari kutu pada tubuh betinanya, juga kera – kera kecil yang saling berkejaran di sambil berloncatan di antara ranting dan akar pohon yang menggantung. Kerimbunan pepohonan menaungi keceriaan mereka. Sungguh eksotis. Sayang saya lupa membawa kacang atau pisang untuk merayu mereka. Saya bayangkan betapa lebih menarik dan menyenangkan lagi kalau di antara pohon – pohon besar itu terdapat berugak atau gazebo untuk menikmati kesejukan udara sekaligus mengamati aktivitas kera – kera itu. Apalagi kalau jalan setapak menuju ke puncak itu tidak hanya satu arah, tapi juga ada yang bercabang melingkari bukit untuk memberi tempat lebih luas bagi pengunjung menikmati kesejukan dan keasrian hutan kecil itu.

Setelah menapaki sekitar dua ratusan anak tangga, saya bertemu dua bongkah batu besar yang mengapit sebuah celah kecil di tengahnya. Tempat ini disebut plawangan. Di salah satu sisi batu itu terdapat tembok bata yang tersusun menjadi sebuah tempat pemujaan kecil, semacam sanggah. Menurut Pak Asi beberapa tahun lalu untuk menuju pura di puncak bukit itu harus melalui celah kecil di tengah dua bongkah batu tersebut. Tetapi bagi para pengunjung tidak perlu lagi melewatinya karena sekarang sudah ada jalan melingkar yang lebih mudah, kecuali Ummat Hindu yang akan melakukan upacara pada waktu – waktu tertentu untuk menuju pura di atas dipersyaratkan harus melalui pintu di plawangan itu.

Setelah menyisi ke arah kanan dari plawangan dan menapaki beberapa anak tangga lagi sampailah saya di puncak bukit itu. Sebuah bangunan pura berdiri dengan beberapa patung dan gapura sebagai pintu masuknya. Juga terdapat sebuah gazebo kecil di salah satu sudut halamannya. Tampak tiga orang pria tengah bersiap untuk beranjak dari gazebo kecil itu. Dua bilah keris dijinjing salah seorang di antaranya. Rupanya selain tempat yang sakral untuk untuk peribadatan, bagi sebagian orang puncak bukit dengan pura bersejarah ini juga merupakan tempat berhimpunnya kekuatan – kekuatan alam yang dapat diserap menjadi tuah kesaktian senjata dan kedigdayaan raga.

Bagi para wisatawan seperti saya, pada puncak bukit inilah kelelahan menaiki ratusan anak tangga yang telah dilewati terbayar oleh beragam keindahan yang terhampar hampir pada setiap sudut arah mata memandang. Ke arah barat dan selatan nampak hamparan hijau persawahan, jalanan berkelok mengular, rimbun gerumbul pohon menutupi perkampungan, berujung pada biru dan kelabunya permukaan laut Selat Lombok. Pantai Desa Kuranji, Padang Reak, sampai Teluk Lembar. Sementara di sisi timur dan utara hamparan hijau persawahan berselang seling dengan perkampungan, dan di kejauhan samar – samar tampak puncak Gunung Rinjani menjulang menembus awan. Angin berhembus sepoi menyebarkan aroma bunga kamboja yang berjajar di sekeliling pura,sangat menyegarkan. Keindahan bentang alam dan kesegaran udara seperti ini sungguh memberikan kesejukan hati dan ketenangan pikiran, sekaligus kekaguman dan ketundukan pada Sang Pencipta yang Maha Luar Biasa.

Banyak orang bercerita betapa semakin eksotis-nya panorama dari puncak bukit itu saat tiba waktu sunset. Ketika matahari perlahan turun ke balik punggung Gunung Agung di seberang Selat Lombok meninggalkan semburat warna jingga kemerahan di kaki langit . Rasanya ingin sekali membuktikannya, tapi mendung tipis rata menutupi langit. Lebih setengah jam menunggu tidak tampak tanda akan adanya perubahan. Akhirnya saya putuskan untuk turun. Kembali menyusuri ratusan anak tangga menuju kaki bukit, melewati beragam pepohonan yang mulai menurunkan bayangan hitam pertanda senja telah datang. Dengan perlahan saya seret langkah meninggalkan noktah kesunyian dan kedamaian para perenung, kesegaran hamparan puncak bukit Gunung Pangsung.

Jangan Dongkol ke Pengantin Nyongkol

Hampir saban bulan ada saja pawai pengantar pengantin Lombok yang melintas di jalan umum. Malah kalau sedang bulan kawin, yakni setelah lebaran atau usai musim panen, konvoi adat itu bisa ditemui saban pekan. Di hampir semua jalan raya sekitar permukiman warga.

Hari Minggu pekan lalu, sekelompok pengantin nyongkol membuat macet hampir satu jam jalan umum menuju Senggigi. Banyak yang mendongkol, tapi wisatawan asing yang ikut melintas di jalan itu terlihat fine-fine saja. Mungkin karena mereka jarang melihat atraksi itu. Beda dengan warga yang tinggal di Lombok, sajian wisata itu sudah jadi pemandangan biasa.

Tapi benarkah terlalu biasa? Tidak, kalau meluangkan waktu buat menikmati atraksi ini. Di iring-iringan penganten Lombok selalu ada kelompok yang membunyikan tabuhan ikut berparade. Kalau bukan gendang beleq, ya kecimol.

Nah, gendang beleq sebenarnya adalah sebuah tarian. Sebab penabuh alat musik ini juga adalah penari. Mereka menabuh sambil menari, dengan dua penari utama yang juga menabuh gendang beleq (beleq = besar) dan beberapa lagi menabuh petuk dan pemain copeh.

Petuk adalah sebuah gong kecil yang beralas kerangka dari kayu yang dikalungkan, sedangkan copeh yaitu instrumen musik yang berbentuk ceng-ceng kecil yang dipegang dengan tangan kiri dan kanan.

Dahulu, Tari Gendang Beleq berfungsi sebagai tari pengiring para ksatria yang akan maju ke medan perang atau menyambut para pahlawan yang pulang dari medan perang. Walaupun tidak ada gerak yang menunjukkan perkelahian dan tidak ada pula yang membawa senjata perang, gerak tari yang diperagakan selalu menunjukkan watak maskulin.

Meskipun gendang ini besar dan berat, tetapi kedua penari yang membawa gendang beleq dapat menari dan bergerak dengan lincah. Karena sifatnya yang atraktif, tari gendang beleq ini sering kali diadakan untuk mengiringi arak-arakan pengantin atau arak-arakan anak yang akan dikhitan, dan untuk penyambutan tamu penting.

Kalau kecimol lebih asyik lagi karena rombongan musik ini benar-benar menghibur. Menyaksikan mereka yang larut oleh entakan musik membuat penontonnya ikut tenggelam mengikuti irama tetabuhan.

Dulu, kecimol; yang merupakan kombinasi gendang beleq, organ dan suara seruling, pernah sangat populer di masyarakat Sasak walau kesan para pendengar langsung berubah dari menyaksikan pertunjukan musik tradisional menjadi pertunjukan musik daerah yang didangdutkan. Belum lagi kalau mendengarkan lagu penyanyinya yang mengambil lagu dangdut populer.

Sebelum kecimol, ada cilokaq. Berbeda dengan kecimol, cilokaq berusaha mempertahankan ketradisionalan musiknya, walau lagu yang diiringi (yang masih berbahasa Sasak) merupakan ciptaan musisi sekarang.

Legenda Rasa Soto Si Tjang

Berawal dari rasa penasaran pada cerita seorang sahabat yang tinggal di Ampenan tentang warung soto di emperan gudang tua dekat depo Pertamina, sebelum pintu gerbang bekas Pelabuhan Ampenan. Rasa penasaran itu semakin bertambah ketika dua kali saya datang ke warung itu hanya menjumpai tiga orang perempuan sedang bersih-bersih mangkuk, gelas, dan peralatan lainnya. Setiap saya bertanya jawabnya selalu “ habis pak..” Luar biasa, pikir saya.

Memang sahabat tadi sudah wanti-wanti supaya jangan melewati jam sepuluh kalau mau menikmatinya. Ternyata tidak main-main, dua kali saya datang bahkan masih beberapa menit menjelang jam sepuluh, sudah hampir tutup warung itu. Baru pada Hari Minggu kemarin terjawablah rasa penasaran itu.

Sepulang dari mengantar istri ke Bandara Selaparang karena harus ke luar daerah untuk satu urusan, dengan mengabaikan godaan berbagai pilihan menu makan pagi yang tergelar di seantero taman Jalan Udayana, langsung saya arahkan sepeda motor ke Ampenan. “Kali ini pasti nggak terlambat lagi” pikir saya sambil melihat jarum jam di tangan yang menunjukkan pukul 07.30 . Sebagaimana saya duga , sampai di warung yang bisa dikategorikan kaki lima itu tengah ramai dengan pembeli. Terlihat kontras sekali di pandangan mata saya deretan beberapa mobil jenis terbaru yang masih kinclong terparkir di situ, sementara pemiliknya tengah menikmati sarapan paginya pada sebuah warung kaki lima di emperan bangunan sebuah gudang tua, dengan penutup kain gorden hampir lusuh pada beberapa bagiannya supaya para penikmat yang sedang menyantap tidak terlihat terlalu mencolok dari jalan raya di depannya. Namun begitulah bila rasa telah memikat hati… ( kok jadi kayak puisi cinta…)

Saya pun masuk dan memesan satu mangkuk sotonya. Ada delapan orang yang tengah bersantap di situ, yang duduk berderet pada 2 meja dan bangku panjang yang tersedia. Enam orang di antaranya adalah saudara – saudara Tionghoa kita yang ditilik dari pakaiannya nampak baru selesai berolahraga pagi. Selain sambal dan kecap, nampak tersedia di atas meja beberapa toples berisi kerupuk kulit, kerupuk udang, air minum kemasan, irisan jeruk limau dalam piring – piring kecil, dan juga agar – agar warna coklat dalam gelas kecil yang biasa terdapat pada warung – warung makan di sekitar Kota Mataram. Tidak berapa lama kemudian terhidang di depan saya semangkuk soto yang saya pesan, dengan kuah berwarna kecoklatan yang menandakan bahwa ini adalah soto racikan asli Lombok. Berbeda dengan soto Madura yang kuahnya cenderung berwarna kuning atau soto betawi yang kuahnya cenderung putih karena dicampur santan atau susu. Kemudian kekhasan lain yang ada adalah digunakannya sawi hijau sebagai sayurannya, bukan daun bawang atau daun seledri, dan butir – butir kacang bawang yang menemani bawang goreng sebagai toping-nya. Tetapi di sini tidak saya temukan srundeng kelapa yang biasa digunakan sebagai campuran kuah pada beberapa warung soto asli Lombok lainnya, dan yang lebih membedakan lagi adalah sebutir telur ayam utuh tidak dipotong-potong.

Mulailah saya menikmati warisan rasa spesial itu sambil mencoba berbincang dengan Ibu Aminah, perempuan berusian 50 tahunan yang baru saja menghidangkan sotonya untuk saya nikmati. Kenapa saya sebut warisan, karena ketika saya tanya sudah berapa lama berjualan perempuan itu menjelaskan “.. sudah lama sekali pak. Awalnya bapak saya dulu yang mulai berjualan tahun 50-an di depan Kantor Pos Ampenan. Bapak saya almarhum mualaf turunan tionghoa panggilannya Tjang, makanya orang – orang itu nyebutnya soto si Tjang.” Berarti warung ini sudah bertahan beberapa puluh tahun, dan sekarang penjual ini adalah generasi kedua yang mewarisi bumbu dan resep dari orang tuanya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu. “ Wah.. mestinya ibu pasang papan nama yang besar di depan itu bu..” kata saya. Penjual itu hanya tersenyum.

Sambil meracik soto untuk pembeli yang keluar masuk bergantian, Bu Aminah meneruskan obrolan dengan saya. “ … Alhamdulillah Pak, ini warisan yang paling berarti dari Bapak saya. Dengan warung ini saya menghidupi keluarga dan membesarkan anak-anak saya, apalagi setelah suami saya meninggal . “

Dengan 5 ekor ayam kampung dewasa yang dipotong setiap harinya, sejak buka jam 6 sampai sekitar jam 10 pagi rata – rata 100 mangkuk soto dapat dihabiskan oleh para penggemar fanatiknya. Dengan harga Rp 12.000,- per mangkuk untuk ukuran warung kaki lima memang tidak bisa dibilang murah, tapi dengan kekuatan rasa yang ada memang tidak masalah bagi para penggemarnya. Dan menilik kendaraan yang terparkir di depannya memang nampak bahwa sebagian besar pelanggan warung soto ini adalah kalangan menengah ke atas. Seperti Galuh misalnya, perempuan setengah baya dari Lingkungan Pejarakan Ampenan dengan profesi sebagai pengusaha yang sempat berbincang dengan saya pagi itu mengatakan bahwa dia sudah menjadi pelanggan soto ini sejak belasan tahun lalu ketika orang tua Bu Aminah yang bernama lengkap Ong Sik Tjang itu masih hidup dan warung jualannya terletak di salah satu sudut simpang lima ke arah pelabuhan tua Ampenan . Dalam sebulan paling tidak lima kali dia menyantap soto Si Tjang yang sedap ini. Bahkan tidak jarang untuk konsumsi pertemuan atau hajatan dia memesan khusus dari Bu Aminah untuk hidangan tamu-tamunya. “ Soal harga menurut saya tidak terlalu mahal untuk soto lezat yang melegenda seperti ini. Seimbang dengan kenikmatan yang kita rasakan” jawabnya ketika saya tanyakan soal harga.

Tidak terasa satu mangkuk soto sudah saya habiskan. Cukup kenyang untuk ukuran sebuah makan pagi, dan kenikmatan yang tertinggal di lidah rasanya mengikat saya untuk suatu saat datang lagi menikmati sensasi hidangan sarapan pagi di antara bangunan – bangunan tua yang kusam tapi masih kokoh berdiri. Ketika teringat adanya wacana revitalisasi kawasan kota tua ini sebagai tujuan wisata, saya berdoa semoga Bu Aminah dengan warung peninggalan orang tuanya itu tidak tergusur, tapi justru semakin memperoleh ruang yang lebih baik, karena sesungguhnya dia, Pak Tjang orang tuanya, dan para pelanggan setia sotonya pun merupakan bagian penting dari perjalanan sejarah Ampenan sebagai sebuah kota tua yang masih bertahan hingga saat ini.

FIPOB Pendorong VLS 2012

Fraksi Partai Golkar (FPG) menilai Festival Internasional Pemuda dan Olahraga Bahari (FIPOB) di Pantai Kuta, Lombok Tengah pada 11 Juli mendatang dapat mendongrak program Visit Lombok Sumbawa (VLS) 2012 yang menargetkan satu juta wisata. Rencananya, kegiatan tahunan itu akan dihadiri langsung Wakil Presiden RI Boediono.

Anggota FPG DPRD NTB Misbach Mulyadi menilai FIPOB sebagai momen yang tepat dalam mempromosikan kawasan pariwisata di NTB, khususnya Pulau Lombok.

“Melihat beberapa event yang sudah dan sedang dilaksanakan, saya optimis VLS 2012 berjalan lancar,” ujar Ketua Komisi IV DPRD NTB itu Senin (4/7).

Dirinya berharap agar Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB bersama pemerintah kabupaten/kota melaksanakan koordinasi guna membuat format dalam memajukan pariwisata di NTB.

Format yang dimaksud yaitu menyiapkan tim lobi untuk melaksanakan event-event berskala nasional dan internasional yang dilaksanakan di NTB. “Jadi, kita harap event-event nasional dan internasional dilaksanakan di daerah kita,” ujarnya.

Balai Pusaka Sebaya Tanta Segera Diresmikan

14 Juli, bangunan Balai Pusaka Sebaya Tanta (BPST) di Gubug Adat Karang Bajo, Desa Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara akan diresmikan. Masyarakat adat di sana sangat berharap agar Gubernur NTB KH M Zainul Majdi dapat meresmikan gedung tersebut.

”Balai Pusaka Sebaya Tanta akan dijadikan sebagai pusat pendidikan dan pelatihan bagi generasi muda Lombok Utara. Karena itu, masyarakat adat sangat mengharapkan kehadiran gubernur untuk meresmikan pembangunan gedung tersebut,” kata Kertamalip, Kepala Desa Karang Bajo saat menghadiri pertemuan yang dihadiri puluhan tokoh adat dari beberapa desa di Kecamatan Bayan untuk membahas persiapan peresmian dan melengkapi kepengurusan Lembaga Pranata Adat (LPA) di Balai Sebaya Tanta.

Ketua LPA, Rianom memaparkan bahwa dana pembangunan BPST ini langsung dari pusat melalui Litbang PU Denpasar Bali dengan menggunakan konstruksi bangunan dari limbah batu apung.

Untuk tahap awal, ada beberapa bangunan yang sudah selesai, yaitu berugak saka enam, balai pertemuan, dan sekretariat yang sekaligus sebagai tempat penginapan.
Menurut Ketua BPD Karang Bajo itu, BPST dihajatkan sebagai tempat pertemuan dan pendidikan serta pelatihan bagi generasi muda KLU.

Dewan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kamardi menjelaskan arti Pusaka Sebaya Tanta, yaitu Pusaka merupakan sebuah singkatan dari Pusat Keberdayaan Warga. Sebaya artinya sepakat atau kebersamaan, dan Tanta adalah cara.

“Jadi, BPST adalah sebagai balai pusat keberdayaan warga untuk bersama-sama memajukan masyarakat adat dengan cara dan persepsi yang sama,” katanya.