Awas! Flu Burung Mengepung

Meski berbicara semangat, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, Syamsul Hidayat Dilaga, tak bisa menyembunyikan gurat cemas. Sejak pekan lalu, ia menjadi salah satu pejabat yang paling dicari komentarnya. Ini soal pelik. Virus Flu Burung menyerang di Lombok Tengah.

Awalnya semua berawal dari dugaan. Namun pada akhirnya terbukti menjadi kenyataan. ‘’Positif. Dari sampel yang kita uji, positif flu burung,’’ kata Dilaga, , Kamis pekan lalu.

Dilaga mengatakan, pihaknya telah mengambil sampel dari 30 ekor ayam, yang seluruhnya ayam kampung. Sampel itu sebagian diperiksa di Mataram, dan enam sampel dikirim ke laboratorium di Bali. ‘’Yang dari laboratorium di Bali, paling cepat kita terima seminggu lagi,’’ katanya.

Awalnya kematian ayam mendadak ditemukan di Kampung Pancor, Kelurahan Semayan, Kecamatan Praya, Lombok Tengah. Sepanjang pekan lalu, ratusan ayam mati mendadak di kelurahan itu. Warga mulai cemas.

Maka sejak dilaporkan ke Dinas Peternakan setempat, Dinas Peternakan lalu mengisolasi ternak unggas dari kelurahan itu. ‘’Kita berlakukan prosedur penanganan daerah yang terkena wabah flu burung. Kita isolasi kawasan itu untuk kepentingan penanganan,’’ kata Aminurrahman, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan NTB, melalui sambungan telepon Rabu pekan lalu.

Saat itu, kandang ayam dan rumah warga yang berdekatan dengan kandang ayam juga telah disemprot cairan disinfektan. Sementara ayam-ayam yang mati dikuburkan. Sebagian lain dibakar atas inisiatif warga.

‘’Kami tidak menghitung berapa jumlah persisnya ayam yang mati. Tapi sudah ratusan. Dan semuanya mati mendadak. Ayam yang mati adalah jenis ayam kampung,’’ kata Amin.

‘’Warga resah, khawatir flu burung benar-benar menjangkit. Kami tidak ingin berspekulasi. Kita tunggu hasil laboratorium. Kalau soal penanganan, ini prosedur saja,’’ kata Amin melanjutkan.

Kepada petugas kesehatan hewan, warga setempat melaporkan, ayam mati mendadak di kelurahan itu terjadi sejak sepekan sebelumnya. Namun jumlahnya kian banyak, mulai awal pekan ini. Ayam-ayam yang semula sehat, tiba-tiba ditemukan sudah jadi bangkai.

Dua hari sesudahnya, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Pemkab Lombok Tengah, Ibrahim, di sela-sela perayaan Hari Pangan Sedunia di Kantor Gubernur NTB, Jl Pejanggik, Kota Mataram, menyampaikan kabar mengejutkan.

Virus flu burung itu rupanya tidak hanya ditemukan di Semayan. Setidaknya tiga lokasi telah diserang virus itu. Dua lokasi lain selain Kelurahan Semayan, adalah Desa Peringgarata, Kecamatan Peringgarata, dan Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat Daya.

‘’Di Semayan, sudah ada laporan tim kami 400 ekor yang mati mendadak. Di Peringgarata sudah ada 500 ekor yang mati mendadak. Kalau dengan yang di Penujak, sampai hari ini sudah mencapai 1.000 ekor yang mati mendadak,’’ katanya.

Belum diketahui, apakah virus flu burung itu memang berasal dari tiga lokasi itu, atau akibat penyebaran dari kawasan lain. Khusus untuk Kelurahan Semayan, Syamsul Dilaga mengatakan, kawasan itu masih diisolasi.

Kasus unggas yang terinfeksi flu burung pernah ditemukan di tempat itu pada 2008. Namun tidak sampai menyebar, akibat penanganan segera. Sementara dua kawasan lain belum diisolasi, meski sudah ada penanganan.

Pemprov NTB kata Dilaga telah menetapkan unggas tidak boleh masuk dari luar NTB, berapapun jumlahnya. Jika ditemukan, unggas itu akan dikembalikan ke daerah asal atau dimusnahkan. Yang dibolehkan hanya telur unggas dan DOC, anak ayam yang masih berumur satu hari.

Kendati begitu, Dilaga mengkhawatirkan sejumlah pelabuhan tak resmi di beberapa titik di Lombok yang memungkinkan unggas serta binatang dari luar provinsi masuk ke Lombok tanpa mendapat pengawasan Balai Karantina Hewan.

Sejumlah pelabuhan tidak resmi itu antara lain banyak dilayari kapal-kapal nelayan tradisional, yang umumnya menghubungkan Lombok dengan Bali. Pekan lalu, dua orang di Bangli, Provinsi Bali, meninggal dan dinyatakan positif akibat serangan virus flu burung.

Virus flu burung itu nyatanya kian meluas. Setelah menyerang 3 lokasi di Lombok Tengah, puluhan ayam di Kompleks Markas TNI AD di Mataram juga mati mendadak.

Puluhan ayam yang dipelihara anggota TNI itu mati dikhawatirkan terkena virus flu burung. Ayam-ayam itu dipelihara tepatnya di kawasan perumahan Markas TNI Angkatan Darat, Kelurahan Sapta Marga (Gebang), Kecamatan Cakranegara.

‘’Kita dapat laporan, puluhan ekor ayam yang dipelihara anggota TNI Angkatan Darat yang bermukim di Kompleks TNI AD, Gebang, mati mendadak. Dikhawatirkan akibat virus flu burung,’’ kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota Mataram, Mazhuriyadi, Sabtu (15/10).

Kompleks perumahan TNI AD itu berada di Kelurahan Sapta Marga, Kecamatan Cakranegara. Kompleks perumahan itu menyatu dengan markas kompi senapan, gudang senjata milik TNI AD, dan juga lapangan tembak. Kompleks juga menjadi tempat tinggal petinggi TNI AD yang berdinas di Korem 162 Wirabhakti, NTB.

Mazhuriyadi mengatakan, kandang ayam dan sejumlah rumah di kompleks perumahan tentara itu telah disemprot dengan cairan disinfektan, sesuai prosedur penanganan flu burung. Ayam yang mati dibakar dan dikuburkan. ‘’Selain penyemprotan, kita juga berikan vaksin,’’ kata Mazhuryadi.

Selain di markas tentara itu, Mazhuriyadi juga mengaku telah menerima laporan dari beberapa kelurahan, terkait ayam mati mendadak. Laporan itu misalnya diterima dari Kelurahan Punia, Gomong, Dasan Agung, Gontoran, Babakan, Nyangget, Karang Sampalan, dan Kelurahan Pajang.

‘’Laporan yang kita terima, kalau dirata-ratakan dalam sepekan ini, ada 50 ekor ayam mati mendadak di tiap-tiap kelurahan itu,’’ katanya.

Belakangan, virus flu burung itu tak cuma menyerang ayam. Hingga awal pekan ini, setidaknya sudah empat orang harus diisolasi di Rumah Sakit Umum Provinsi karena diduga flu burung.

Seorang bayi berusial 11 bulan, MAD, dan seorang perempuan berusia 58 tahun, IS, diisolasi di ruang perawatan khusus RSUP NTB, sejak Sabtu (15/10) sore. Dua hari berikutnya, Senin (17/10), STK (10)dan DSH yang baru berusia lima bulan menyusul dirawat di ruang isolasi. Mereka diidentifikasi mengalami gejala serangan virus flu burung.

Perawat di RSUP NTB mengatakan, seluruh pasien itu dirujuk dari Rumah Sakit Umum Praya di Lombok Tengah. IS berasal dari Kelurahan Semayan, Kecamatan Praya. Sementara MAD, STK dan DSH berasal dari Peringgarata, Kecamatan Peringgarata. Di dua daerah itu, sepekan terakhir tak kurang 900 ekor ayam mati dan dinyatakan positif akibat serangan virus flu burung.

Keempat orang itu dirujuk ke RSUP NTB setelah diidentifikasi menunjukkan gejala orang terkena flu burung, dengan suhu badan meninggi, di atas 39 derajat celcius disertai batuk dan nyeri tenggorokan. Mereka juga mengeluhkan sakit pernapasan.

Saat tiba di RSUP NTB, mereka langsung dibawa ke ruang isolasi pasien flu burung di bangsal Flamboyan, lantai dua rumah sakit. Ruang isolasi itu mampu menampung empat pasien. Ruangan dijaga ketat paramedis, dengan pakaian khusus.

Keempatnya berada dalam pengawasan dokter Salim, seorang dokter spesialis penyakit paru. Salim adalah Ketua Tim Penanganan Penyakit Flu Burung dan Flu Babi RSUP NTB. Tim beranggotakan sepuluh dokter spesialis.

Pihak rumah sakit memastikan, sampel darah dan lender di tenggorokan sudah diambil dari empat pasien, dan akan diuji di laboratorium milik Kementrian Kesehatan di Jakarta. ‘’Flu burung atau tidak, nanti akan mengacu pada hasil pemeriksaan laboratorium Kementrian Kesehatan,’’ kata Mochammad Ismail, Kepala Dinas Kesehatan NTB. *

Ada yang Plagiat Ada yang Konsisten

Bagaimana bapak melihat simbol-simbol dalam pertarungan Pilgub?

Simbol dalam kontestasi seperti Pilgub merupakan intentitas penting bagi setiap kandidat, karena pemilih akan memilih simbol. Gambar atau foto kandidat adalah simbol utama dalam memperkenalkan diri kepada pemilih sejak dini. Oleh karena itu, menurut saya penampilan diri kandidat atau pasangan calon adalah hal yang penting untuk diperhatikan.

Sejauhmana simbol mempengaruhi memori pemilih?

Menurut hemat saya, dan berdasarkan pengalaman kontestasi politik selama ini, setiap kandidat kepala daerah selalu menjadikan simbol sebagai prioritas yang dijadikan sebagai konten kampanye. Maksud saya, simbol seperti gambar calon atau nomor urut pasangan menjadi prioritas yang disampaikan di masyarakat. Sementara, program atau success story yang pernah diraih sebelumnya dan program yang akan dilaksanakan setelah memimpin tidak semassif publikasi gambar dan nomor urut yang telah diperolehnya.

Kenyataan inilah yang membuat kita berani untuk mengatakan bahwa simbol seperti gambar dan nomor urut menjadi konten yang hendak ditanamkan dalam memori masyarakat. Alasan yang sama juga kita dapat gunakan untuk memahami kenapa beberapa partai politik seperti Partai Golkar tidak mengubah simbol atau gambar atau lambang partainya, untuk menjaga memori panjang masyarakat yang telah mengenalnya.

Apa sesungguhnya pengaruh simbol dalam kontestasi politik seperti di Pilgub?

Iya, seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa simbol seperti gambar dan nomor urut adalah hal yang diprioritaskan untuk disampaikan ke masyarakat pemilih. Oleh karena itu, menurut hemat saya, kontestasi politik seperti Pilgub merupakan pertarungan simbolik di antara setiap kandidat.

Kandidat kepala daerah mana yang mampu mengemas simbol dengan baik, apalagi mampu mengkomunikasi secara baik kepada masyarakat, maka mereka akan mudah dikenang, diingat, dan tertanam dalam memori masyarakat. Oleh karena itu, setiap kandidat berlomba membangun atau mengkonstruksi simbol-simbol yang baik dan yang mudah dikenal oleh pemilih.

Bagaimana dengan kecenderungan simbol yang digunakan oleh kontestan di Pilgub NTB?

Saya melihat ada banyak ragam dan karakter yang dilakukan oleh mereka. Ada yang menampilkan dirinya dari hasil kreativitas pribadi atau internal timnya sendiri. Ada juga yang mengadopsi beberapa kandidat kepala daerah di provinsi lain, yang dianggap sukses. Misalnya, pasangan SJP-Johan mengunakan simbol ketupat di dada mereka sembari bersenyum lebar, sebagaimana tanda kunci merah yang digunakan atau senyum manis yang dilakukan pasangan Aher-Deddy Mizwar di Pilgub Jabar. Ada juga yang menggunakan pakaian seragam, seperti pasangan HARUM, sebagaimana yang dilakukan oleh pasangan lain di Pilgub pada daerah lainnya.

Bagaimana dengan dua pasangan lainnya?

Pasangan TGB-AMIN tidak menggunakan simbol khas yang seragam sebagaimana yang dilakukan. Keduanya konsisten menggunakan atau menampilkan diri apa adanya sebagaimana keseharian mereka. Sementara pasangan Zul-Ikhsan berusaha mengkonstruksi diri sebagai figur yang berlatar belakang etnis berbeda.

Bagaimana dengan fenomena plagiat simbolik dalam kontestasi politik?

Menurut saya, ada yang berbeda antara plagiat salam politik dengan plagiat dalam dunia akademik. Tapi memang harus diakui bahwa tradisi plagiat di bangsa kita adalah hal yang lumrah dalam berbagai bidang. Misalnya, dalam dunia penyiaran dan hiburan, rata-rata acara televisi di Indonesia mirip, yang berbeda adalah judul acara dan aktor yang terlibat saja, sementara esensi acaranya sama.

Dalam dunia politik, kecenderungan plagiat mengemuka saat fenomena kemenangan Jokowi dalam Pilgub DKI. Simbol-simbol yang digunakan Jokowi-Ahok diadopsi pasangan Rieke-Teten di Pilgub Jabar. Sebelumnya kalau tidak salah simbol yang mirip dengan simbol yang digunakan Jokowi juga diadopsi salah satu pasangan calon Gubernur di Sulsel sebelumnya. Tapi keduanya kalah juga.

Fenomena ini menurut saya harus menjadi pelajaran bagi politisi lainnya, agar berpikir panjang sebelum mengadopsi cara dan style orang lain. Setiap kandidat punya karakter tersendiri yang tidak mungkin disamakan dengan yang lain, termasuk setiap daerah memiliki karakter pemilih yang berbeda.

Bapak tentunya sudah mengetahui simbol-simbol yang ditampilkan dalam foto setiap pasangan calon gubernur. Bagaimana bapak membaca hal tersebut?

Coba kita urutkan penjelasan ini berdasarkan nomor urut setiap kandidat. Pasangan Nomor 1 TGB-AMIN, terutama TGB sebagai calon petahana menurut saya konsisten dengan simbol yang digunakan sebelumnya (Pilgub 2008). Tampil dengan simbol yang religius, sebagaimana aktivitas kesehariannya.

Pasangan nomor 2 SJP-Johan, sebagai pendatang baru dalam kontestasi Pilgub mencoba tampil dengan performa yang nasionalis, berjas dan berkopiah. Ada dua kekhasan pasangan ini, yaitu senyumnya yang ceria dan ikon ketupat yang ditampilkannya. Cara ini mengadopsi rekannya di Pilgub Jabar.

Pasangan nomor urut 3 HARUM, tampil dengan kostum seragam dengan senyum ceria. Pilihan kostum yang ngejreng atau romantis dengan permainan asesoris yang cerah dinilai mampu menutupi kesenjangan usia di antara mereka. Sehingga tidak heran bila dalam tampilannya pak Harun yang telah sepuh terlihat muda. Hal ini untuk mengimbangi usia Muhyi, atau untuk menghilangkan kesan atau image bahwa dirinya (Harun) telah tua atau sepuh.

Pasangan nomor urut 4 Zul-Ikhsan menggunakan simbol yang mengkombinasikan antara religiusitas dan budaya. Strategi simbol seperti ini dinilai tepat untuk merepresentasikan latar belakang mereka, kiyai Zul yang dikenal sebagai tokoh agama sekaligus pejabat di KSB dan Prof Ikhsan yang berasal dari Lombok. Bahkan simbol yang digunakan Prof Ikhsan dianggap satu-satunya simbol yang merepresentasikan budaya etnis, di saat kandidat lain tidak menampilkan hal tersebut.

Bagaimana dengan pesan verbal tertulis yang menyertai publikasi foto pasangan calon selama ini?

Terkait dengan pesan verbal yang disertakan oleh setiap kandidat, saya menilai pada dasarnya sama-sama bermakna menjual agar mendapat simpati publik, termasuk memilih istilah yang khas dengan eksistensi masing-masing, atau istilah yang merepresentasikan keinginan atau cita idealnya dalam membangun NTB. Yang pasti pilihan kata mereka adalah istilah atau kata yang mudah diingat.

Tapi semua pesan yang mereka sampaikan harus dibaca secara kritis, sehingga kita pemilih dapat mendeteksi; mana pesan yang realistis dan mana pesan yang bombastis alias gombal.

Menurut saya, kita tidak cukup membaca pesan mereka lewat baliho yang dipajang, tetapi harus mereview kembali trackrecord mereka sebelumnya. Apalagi semua kandidat adalah putra NTB yang sedang dan menjabat di NTB. Sehingga kita tidak kesulitan untuk mengecek atau mengkonfirmasi prestasi atau kinerja mereka.

Bagaimana dengan banyaknya jenis baliho?

Setiap kandidat memiliki simbol yang tidak satu, mereka menanmpilkan diri dalam wujud beragam. Ada pasangan yang hendak membangun image dengan simbol yang ditampilkannya. Image yang merepresentasikan eksistensinya selama ini, dan image yang merupakan bagian dari perlawanan, atau simbol yang mencerminkan kesungguhan, atau kemauan untuk melanjutkan.

Bagaimana perbandingan pencitraan lewat baliho dengan komunikasi langsung?

Sebagai salah satu bentuk pesan politik, baliho dan sejenisnya dinilai efektif untuk melakukan pencitraan bagi seorang kandidat. Pesan yang tersirat lewat baliho dapat mengondisikan pikiran pemilih, apalagi pesan tersebut terus dan seringkali dilihatnya. Namun pencitraan lewat baliho tidak seefektif pesan yang disampaikan secara langsung (face to face). Oleh karena seorang kandidat harus terus turun dan membaur dengan masyarakat untuk menyerap aspirasi, untuk melihat kondisi hidupnya, sekaligus untuk menyosialisasikan visi dan misi kandidat. Semakin kecil jumlah peserta komunikasi atau jumlah audiens semakin efektif komunikasi politik kandidat. Cara seperti ini jauh lebih efektif untuk menanamkan kesan pada calon pemilih.

Hubungan antara jumlah baliho dengan jumlah dukungan?

Menurut saya, banyaknya baliho dari calon tertentu tidak sepenuhnya menjadi  jaminan banyaknya dukungan yang akan rakyat berikan saat Pilkada, karena baliho yang terpasang di suatu tempat bukan menjadi representasi dukungan dari semua rakyat yang ada di sekitar baliho tersebut. Apalagi kalau ada baliho yang under pressure. Karena takut dianggap tidak mendukung atau takut dipindahtugaskan, maka seorang pejabat atau aparat memasang spanduk atau baliho di depan rumahnya. Atau untuk memperlihatkan keberpihakan atau “cari muka” seseorang merelakan rumah dan lingkunganya dipasangin baliho kandidat tertentu. Namun setahu saya ada juga baliho yang merupakan cermin dukungan dan inisiatif murni dari rakyat.

Imbauannnya?

Kita semua berharap “perang” baliho tidak berimbas pada “perang” fisik. Pilihan boleh berbeda dan jenis dan warna baliho dapat berlainan, tetapi tujuan hanya satu, yaitu mencari pemimpin terbaik dalam bingkai persaudaraan sesama warga NTB. Pilkada dan pesta demokrasi yang terus diikuti warga harus dijadikan sebagai pelajaran untuk lebih dewasa dan demokratis dalam berpolitik.

Saatnya Bersih-bersih Atribut

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Lombok Timur bertindak keras. Penyelenggara Pemilukada itu menertibkan secara paksa atribut calon Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur periode 2013-2018 yang masih terpasang di tempat-tempat strategis. Untuk menertibkan, KPU dibantu oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol PP) Pemkab Lotim. Sayangnya yang menjadi pengawas, yaitu Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) justru tidak terlihat saat penertiban tersebut.

Penertiban atribut calon ini dilakukan setelah masing-masing tim kampanye empat pasangan calon diberi kesempatan untuk menurunkan atribut paket calonnya. Namun, mereka seolah tidak mengindahkan aturan dan kesepakatan yang telah disepakati. KPU pun tidak tinggal diam, bergerak untuk menertibkan atribut calon.

“Karena tim kampanye masing-masing pasangan calon tidak menurunkannya hingga saat ini, terpaksa kami tertibkan atribut pasangan Cabup/Cawabup Lotim secara paksa,” tandas HM Hidayatullah, Ketua Divisi Penyelenggara Pemilu KPU Lombok Timur.
Tidak hanya atribut kampanye pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati Lombok Timur saja yang ditertibkan. KPU Lombok Timur juga menertibkan atribut kampanye pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTB.

Penertiban atribut secara paksa itu langsung disaksikan tiga orang komisioner KPU Lombok Timur. Mereka adalah Ketua Divisi Penyelenggara Pemilu HM Hidayatullah, Ketua Divisi Logistik Khalidi, dan Ketua Divisi Hukum M Saleh. Selain itu ada juga Sekretaris KPU Lombok Timur Hambali. Tempat yang pertama kali disisir adalah wilayah Selong, kemudian lokasi lainnya.

Menurut Hidayatullah, tidak ada toleransi bagi semua pasangan calon untuk memampang atribut yang berbau kampanye sebelum waktunya. KPU sendiri sudah menetapkan bahwa jadwal kampanye untuk Pemilukada Lombok Timur dari tanggal 26 April sampai dengan 9 Mei 2013. Di rentang waktu itulah saatnya para pasangan calon bisa lebih jor-joran untuk memasang atribut kampanye. Kendati demikian, tidak semua tempat bisa dipasang baliho, striker atau poster kampanye. Misalnya, tempat ibadah, fasilitas pendidikan, dan jembatan. Selain ketiga tempat tersebut, terdapat pula fasilitas negara misalnya tiang listrik, mobil dinas, dan lingkungan perkantoran.

KPU Lombok Timur tidak akan memberi toleransi apabila masih ada yang memasang atribut kampanye dari tanggal 18 Maret sampai dengan 25 April 2013. Kalau masih ada kembali ditertibkan secara paksa.

Bagaimana dengan Pemilukada NTB? KPU memaksa tim kampanye empat pasangan calon untuk menurunkan sendiri atribut kampanyenya. KPU sudah memberi tenggat waktu selama empat hari sejak rapat koordinasi yang mengagendakan sosialisasi tata cara kampanye sesuai ketentuan yang telah ditetapkan dalam keputusan KPU NTB, sekaligus menyepakati penertiban alat peraga yang masih marak di berbagai ruang publik pada Selasa (2/4/2013) lalu. Bawaslu, aparat kepolisian serta unsur pemerintah daerah yang menurunkan secara paksa jika alat peraga kampanye itu masih terlihat di ruang publik.

Bupati Lotim Sampaikan LKPJ Tahun 2011

Bupati Lombok Timur, HM. Sukiman Azmy menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) akhir tahun anggaran 2011 kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Lotim dalam sidang paripurna DPRD Lotim, Kamis lalu. Sidang paripurna DPRD Lotim dipimpin langsung Ketua DPRD Lotim, Hj. Siti Rohmi Djalillah dengan didampingi tiga Wakil Ketua DPRD Lotim antara lain, Daeng Paelori, Surdian dan HM.Khairul Rizal dengan dihadiri anggota DPRD Lotim dan para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Lotim.

Bupati Lotim, HM.Sukiman Azmy dalam nota pengantar LKPJ akhir tahun anggaran 2011 mengatakan LKPJ kepala daerah kepada DPRD selama satu tahun anggaran ini disusun dengan struktur penulisan yang memuat keterangan mengenai arah kebijakan umum pemerintahan daerah, pengelolaan keuangan secara makro, termasuk pendapatan dan belanja daerah. Begitu juga penyelenggaraan urusan desentralisasi, penyelenggaraan tugas umum perbantuan dan penyelenggaran tugas umum pemerintahan yang harus tersusun secara sistematis dan baik, sehingga menjadi lebih jelas lagi.

Sementara tahun 2011 ini memiliki arti penting bagi pembangunan di Lotim, karena merupakan tahun kulmulasi dalam pelaksanaan kebijakan pembangunan lima tahunan, seperti yang tertuang dalam RPJMD tahun 2008-2013. “Pada tahun ketiga ini capaian indikator pembangunan dan kebijakan pembangunan daerah harus sudah menampakkan hasil yang nyata, dengan dirasakan manfaat oleh masyarakat di Lotim,” kata Bupati Lotim, HM.Sukiman Azmy.

Ia menegaskan sementara dalam menyelesaikan berbagai permasalahan daerah, maka pemerintah daerah melakukan berbagai usaha dan langkah yang harus ditempuh dengan mengedepankan 10 skala prioritas yang ada, dengan tentunya harus melalui tahapan-tahapan penanganan selama lima tahun. Diantaranya untuk tahun pertama yakni tahun 2009 disebut sebagai tahun orientasi dengan melakukan berbagai inventarisasi pencapaian periode sebelumnya yang menyangkut dengan 10 program skala prioritas.

Kemudian tahun kedua yakni tahun 2010, dengan telah dapat ditentukan kebijakan prioritas yaitu pendidikan,kesehatan, peningkatan infrastruktur, revitalisasi pertanian dan pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam, sedangkan untuk tahun ketiga yakni 2011 dengan bertumpu pada lima kebijakan prioritas seperti tahun sebelumnya ditambah dengan focus pada upaya penanggulangan kemiskinan.

Sementara untuk tahun kelima yakni tahun 2012, dengan masih melanjutkan lima prioritas pada tahun keempat dengan penekanan pada upaya maksimal mencapai target indikator, terutama pada beberapa prioritas yang belum mendekati target pencapain. “Yang jelas indikator program prioritas daerah selama kurun waktu 2009 sampai dengan 2011 telah menunjukkan hasil yang cukup baik, terutama pada bidang pendidikan, kesehatan,pelayanan infrastruktur daerah serta revitalisasi pertanian dalam arti yang luas,” tegas Bupati Lotim,
HM.Sukiman Azmy.

Sukiman menambahkan kebijakan prioritas daerah ditempuh semata-mata dalam rangka upaya penanggulangan kemiskinan, dengan memperluas akses dan kesempatan untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan dan dukungan infrastruktur daerah yang baik. Termasuk memberikan dukungan terhadap pengembangan sektor pertanian sebagai sektor penyerap tenaga kerja yang banyak, maka tentunya angka kemiskinan diharapkan akan turun dari tahun ketahun.

“Melalui sinergi program yang mengarah pada upaya penanggulangan kemiskinan dan kebijakan yang berpihak pada kaum miskin, maka apa yang diharapkan untuk merubah Lotim kearah yang lebih maju dan baik akan terwujud,” tambah Sukiman Azmy.

Caleg PDIP Tes Psikologi

Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri memastikan partainya bakal merombak sistem penentuan calon anggota legislatif dari PDIP. Caleg PDIP akan menjalani tes psikologi. Itu akan mulai diterapkan pada Pemilu 2015. ‘’DPP partai telah memutuskan, calon anggota legislatif yang datang dari struktur partai akan menjalani psikotest. Ini urusan baru. Kalau dari hasil tes menyebut dia patut, maka dia akan jadi orang pertama,’’ kata Megawati saat memberi pengarahan pada konsolidasi tiga pilar partai yakni struktur, legislatif dan eksekutif di Narmada Convention Hal, pekan lalu.

Mega menjelaskan, ujian psikotest ini akan dilakukan PDIP di seluruh jenjang sepanjang tahun 2012 hingga 2013. ‘’Untuk yang ingin menjadi eksekutif juga, mereka akan mendapat perlakuan yang sama,’’ kata Presiden RI kelima itu. Ia menjelaskan, calon anggota legislatif selain akan melalui penjaringan, juga akan menjalani penyaringan setelahnya. ‘’Di sini (penyaringan) akan jadi sulit,’’ imbuhnya.

Di tempat yang sama, Mega juga mengingatkan seluruh kader partai untuk terus bekerja untuk kepentingan rakyat. Ia mengatakan, dirinya bahkan telah memerintahkan jajaran pengurus DPP untuk terus memarahi pengurus partai di bawahnya yang melempem. ‘’Kebutuhan partai saat ini adalah konsolidasi. Apakah kader partai mau menolong rakyatnya atau tidak. Kalau tidak mau, silahkan keluar dari partai ini,’’ tegas Mega.

Mega tak menutup mata, jika saat ini ada pengurus partai mulai tingkat provinsi hingga tingkat kabupaten yang harus dirombak pola kerjanya, mengingat mereka selama ini cuma duduk-duduk semata. ‘’Kalau ketua umum datang, baru mukanya nongol,’’ kata Mega.

Menurut dia, Indonesia adalah negara kaya, karena itu tak sepantasnya di negara ini masih ada warganya yang miskin. Pengarahan ini dihadiri ribuan kader PDIP yang membuat Gedung Narmada Convention Hal dengan kapasitas 3.000 orang penuh sesak. Mereka adalah kader PDIP yang datang dari seluruh NTB, dengan didominasi kader dari Lombok. Sebelum Mega memberi pengarahan, Ketua DPD PDIP NTB H Rachmat Hidayat mengingatkan seluruh kader dan pengurus PDIP NTB untuk jujur. Rachmat mengatakan, telah membekukan dua pengurus DPC PDIP yakni Kabupaten Bima dan Kabupaten Lombok Tengah. Pembekuan itu karena terkait kinerja partai yang melempem.

Saat ini kata Rahmat, pihaknya tengah memantau kinerja DPC PDIP Kabupaten Dompu. Bukan tidak mungkin langkah serupa akan diambil, andaikata tidak ada kinerja yang nyata untuk masyarakat. Saat ini kata Rachmat, DPIP di NTB telah memiliki 116 pengurus kecamatan, 976 pengurus ranting, dan 5.715 pengurus anak ranting. ‘’Untuk kepala desa saja, dari 918 kepala desa seluruh NTB, kita sudah punya 101 kepala desa. Itu adalah sepuluh persen dari jumlah kepala desa,’’ katanya.

PDIP menargetkan setidaknya ada 25 persen kepala desa di NTB ini adalah kadernya atau setidaknya memiliki afiliasi politik ke PDIP. Jika itu terjadi, maka itu akan sama seperti ketika PDIP sedang jaya pada Pemilu 1999. Yang menarik, dalam kunjungan kerja Megawati Soekarnoputri untuk konsolidasi kader partai seluruh NTB di Mataram, puluhan dedengkot aktivis NTB ramai-ramai melamar menjadi kader PDIP. Mega pun secara simbolis melantik mereka sebagai kader juang PDIP.

Pengurus DPP PDIP Bidang Hukum dan HAM, Sirra Prayuna dalam diskusi dengan wartawan di Mataram, mengatakan, setidaknya 49 aktivis NTB yang sebelumnya tidak memiliki afiliasi politik, telah melamar menjadi kader PDIP. Diantara 49 aktivis itu, ada yang saat ini sebagai ketua organisasi buruh, petani, nelayan, ketua lembaga bantuan hukum dan juga ketua lembaga advokasi untuk kasus-kasus lingkungan dan pertambangan. ‘’Ada kehendak yang kuat. Kawan-kawan aktivis merasa memiliki kesamaan garis perjuangan dengan PDIP. Mereka ingin berjuang bersama PDIP,’’ kata Sirra.

Suhaimi, salah seorang aktivis yang kini Direktur Lembaga Studi dan Bantuan Hukum NTB mengatakan, aktivis ingin mensinergikan perjuangan ekstra parlemen dengan perjuangan di parlemen. Namun mereka tidak masuk PDIP dengan iming-iming menjadi anggota legislatif, atau untuk kepentingan di kekuasaan. ‘’Kami mempersilahkan PDIP menaksir lamaran kami bersama kawan-kawan yang lain. Akan ditindaklanjuti seperti apa, kami persilahkan. Kami hanya butuh jaminan, penetrasi ekstra parlemen bisa disambut dari dalam parlemen,’’ kata Suhaimi.

Wahidjan, salah seorang aktivis pendiri Serikat Tani Nasional menambahkan, keinginan mereka masuk partai untuk membuktikan bahwa partai juga bisa memprosuksi kader, bukan semata menampung mereka yang memiliki sumber daya dan sumber dana. Di tempat yang sama, Ahmad Syukro, Wakil Ketua DPD PDIP NTB Bidang Pemuda dan Olahraga menyambut baik para aktivis itu. ‘’Kawan-kawan sebagai kader juang PDIP NTB. Dan teman-teman telah menyatakan kesiapan untuk ditempatkan di mana pun di NTB,’’ katanya.

Megawati kunjungan kerja dua hari ke NTT dan NTB. Dalam kunjungannya, Megawati didampingi oleh sejumlah kadernya. Diantaranya, ketua DPP PDIP Hamka Haq dan Wasekjen DPP PDI Ahmad Basarah.

Rahmat Hidayat Puji Keberhasilan TGB

Menjelang berakhirnya pemerintahan Tuan Guru Bajang (TGB) H. Zainul Majdi tahun depan, penilaian dari berbagai elemen masyarakat termasuk para politisi mulai bermunculan. Beberapa elemen menilai TGB sukses. Salah satunya datang dari PDIP. Ketua DPD PDIP NTB, Rahmat Hidayat menilai rapor TGB selama memimpin cukup bagus.

Dia menilai TGB sudah berbuat maksimal selama memimpin NTB, salah satu keberhasilan yang dilakukan TGB adalah beroperasinya BIL. “Kalau tidak ada pak Gubernur, BIL ini belum bisa dioperasikan,” kata Rahmat di BIL disela-sela penyambutan Ketum PDIP, Megawati Sukarno Putri, beberapa waktu lalu.

Memang dalam kurun 5 tahun memimpin, seorang pemimpin tidak akan bisa memuaskan masyarakat, karena dalam satu periode pemerintahan ada banyak hal yang harus dilakukannya seperti, melakukan adaptasi dengan
tempat tugas yang baru, menyusun kabinet dan lain sebagainya, sehingga perlu 5 tahun lagi untuk memimpin. Kendati demikian tidak berarti apa yang dikatakannya itu merubakan bentuk dukungan PDIP pada pilkada Gubernur 2013 mendatang terhadap Ketua DPD Partai Demokat itu, sebab untuk pilkada Gubernur sendiri, PDIP memiliki mekanisme dan aturan partai sendiri.

“Ada aturan main kami sendiri, tidak bisa serampangan, kami akan putuskan pada tanggal 17 Agustus 2012 mendatang apakah kami akan mengusung sendiri kader atau mendukung calon yang yang disung partai lain,” jelasnya. Dia sendiri jujur menilai pemerintahan TGB cukup baik. TGB sendiri masih berikhtiar dan berbuat untuk kemajuan NTB. PDIP tidak munafik dengan keberhasilan TGB. “Rakyat harus jujur mengakui, kita harus ajarkan rakyat untuk jujur, sementara ini rapor Gubernur tidak merah namun masih biru,” jelasnya.

Disinggung mengenai kehadiran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri ke Mataram, anggota DPRD RI itu mengatakan, kehadiran Megawati ke Mataram adalah untuk konsolidasi partai dengan seluruh jajaran pengurus moncong putih dari berbagai jenjang atau tingkatan.

“Kedatangan Bu Mega untuk pemantapan struktural partai dari semua jenjang, selain itu untuk pemantapan anggota dewan baik provinsi maupun anggota dewan di kabupaten/kota agar tidak mbalelo dari partai,” jelasnya.